alexametrics
23.5 C
Banyuwangi
Friday, August 12, 2022

PTM 100 Persen Dimulai, Sebagian Siswa Tumbang di Upacara Bendera

BANYUWANGI –Ada suasana yang berbeda di hari pertama masuk sekolah pada tahun 2022 ini. Mengawali semester genap, Senin (3/1) sebagian Sekolah Dasar (SD) di Banyuwangi memasukkan 100 persen siswanya untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM).   

Halaman SD di beberapa sekolah kembali ramai dengan siswa berseragam putih merah. Setelah dua tahun tak menggelar upacara bendera, akhirnya siswa kembali mengikuti kegiatan rutin tersebut.

Di SDN Model misalnya. Semua siswa, mulai kelas 1 hingga kelas 6, terlihat antusias berdiri di halaman sekolah. Guru tampak sibuk menyiapkan siswa yang sebagian masih tampak kebingungan karena sudah lama tidak mengikuti upacara bendera. Apalagi, siswa kelas 1 dan 2 tak pernah mengikuti upacara bendera sama sekali.

Baru beberapa menit berselang, beberapa siswa dibopong oleh guru. Ada yang lemas, ada pula yang terlihat kelelahan setelah berdiri mengikuti upacara. ”Sepertinya anak-anak lupa persiapan, mungkin belum sarapan. Makanya ada banyak yang sakit. Sudah dua tahun tidak ada upacara bendera,” ujar Kepala SDN Model Istianah.

Sesuai dengan instruksi dari Dinas Pendidikan, sejak kemarin (3/1) SDN Model menerapkan pembelajaran tatap muka (PTM) dengan kuota 100 persen. Pihaknya memberikan waktu penyesuaian kepada guru dan siswa selama seminggu sebelum benar-benar menerapkan pembelajaran normal seperti era sebelum pandemi. ”Kita lakukan penyesuaian dulu. Baru pekan kedua kita full menggelar semua program pembelajaran,” kata Istianah.

Pelaksanaan upacara bendera di hari pertama juga dilakukan di SDN 4 Penganjuran. Sekolah yang beralamat di Jalan A. Yani itu memasukkan semua siswanya pada hari pertama semester genap kemarin.

Baca Juga :  Gelar Pelatihan Pemandu Wisata Berbahasa Inggris

Kepala SDN 4 Penganjuran Setyaningsih mengatakan, semua siswa dari kelas 1 sampai 6 dengan total 904 siswa mengikuti PTM 100 persen pada hari itu. Guru sudah melakukan persiapan jauh hari untuk mengantisipasi PTM 100 persen di hari pertama. Sejak libur sekolah, guru terus berkoordinasi dengan kepala sekolah dan wali murid untuk mempersiapkan diri. ”Siswa masuk mulai pukul 07.30 sampai 12.00. Sesuai aturan, jam pelajaran maksimal 6 jam,” ujarnya.

Meski sekolah sudah berjalan dengan full luring, namun pembelajaran secara digital akan tetap digunakan. Setyaningsih mengatakan, ada banyak perubahan sistem yang memberikan efek positif kepada para siswa. Seperti kebiasaan untuk mencuci tangan dan menerapkan protokol kesehatan. ”Ujian daring tetap kita gunakan, tapi di sekolah. Nanti siswa membawa HP,” kata dia.

Penerapan PTM 100 persen di Banyuwangi berlaku untuk jenjang TK, SD, dan SMP. Sedangkan untuk jenjang SMA/SMA, penerapannya masih belum dilakukan secara menyeluruh. Beberapa SMA masih menerapkan kuota maksimal 50 persen untuk kelas 10 dan 11. Hanya kelas 12 yang menerapkan pembelajaran dengan kuota siswa 100 persen. Salah satunya di SMAN 1 Banyuwangi.

Wakasek Kurikulum SMAN 1 Banyuwangi Lis Dewanto mengatakan, hanya siswa kelas 12 saja yang masuk dengan kuota 100 persen. Sedangkan siswa kelas 10 dan 11 masuk separo kelas. ”Kita mempertimbangkan masalah kesehatan. Karena pandemi belum benar-benar usai, apalagi guru di SMA rata-rata sudah berumur,” kata Dewanto.

Sekolah yang akan menggelar PTM 100 persen juga harus mengajukan diri ke Cabang Dinas Pendidikan terlebih dahulu. Jika dirasa siap, baru sekolah boleh memasukan seluruh siswanya. ”Kita utamakan kelas 12 dulu yang masuk 100 persen. Masa efektif pembelajaran tinggal dua bulan lagi, supaya lebih maksimal,” tegasnya.

Baca Juga :  Siapkah Sekolah Menerapkan Kurikulum Merdeka Juli 2022?

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur Wilayah Banyuwangi Istu Handono mengatakan, semua sekolah di bawah Cabdin sudah menggelar PTM di semester genap. Belum seluruhnya menerapkan kuota 100 persen pembelajaran. Hanya kelas 12 saja yang masuk 100 persen. Itu pun dibagi dalam dua kelas. Sedangkan kelas 10 dan 11 hanya 50 persen dari kuota.

”Pertimbangan kita karena masalah keselamatan siswa. Mungkin SD dan SMP bisa kita pantau, tapi siswa SMA dan SMK interaksinya cukup tinggi. Tetap kita batasi untuk kuotanya. Kalau untuk jam sekolah ada yang durasinya 6 jam sesuai dengan SKB 4 Menteri dan ada yang 4 jam. Menyesuaikan dengan kondisi sekolah,” kata Istu.

Kasi SMA Cabang Dinas Pendidikan Banyuwangi Mohammad Arief Ainurrozie menambahkan, alasan kesehatan menjadi pertimbangan utama Cabang Dinas untuk menerapkan kuota 50 persen kepada para siswa SMA dan SMK. Meskipun ada beberapa sekolah dengan jumlah siswa di bawah 100 orang yang sudah memasukkan seluruh siswanya.

”Kita juga melihat asesmen dari surveilans untuk memastikan keamanan sekolah sesuai dengan kuota yang mereka terapkan. Kita ingin menjaga agar semua tetap aman,” pungkasnya. 

BANYUWANGI –Ada suasana yang berbeda di hari pertama masuk sekolah pada tahun 2022 ini. Mengawali semester genap, Senin (3/1) sebagian Sekolah Dasar (SD) di Banyuwangi memasukkan 100 persen siswanya untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM).   

Halaman SD di beberapa sekolah kembali ramai dengan siswa berseragam putih merah. Setelah dua tahun tak menggelar upacara bendera, akhirnya siswa kembali mengikuti kegiatan rutin tersebut.

Di SDN Model misalnya. Semua siswa, mulai kelas 1 hingga kelas 6, terlihat antusias berdiri di halaman sekolah. Guru tampak sibuk menyiapkan siswa yang sebagian masih tampak kebingungan karena sudah lama tidak mengikuti upacara bendera. Apalagi, siswa kelas 1 dan 2 tak pernah mengikuti upacara bendera sama sekali.

Baru beberapa menit berselang, beberapa siswa dibopong oleh guru. Ada yang lemas, ada pula yang terlihat kelelahan setelah berdiri mengikuti upacara. ”Sepertinya anak-anak lupa persiapan, mungkin belum sarapan. Makanya ada banyak yang sakit. Sudah dua tahun tidak ada upacara bendera,” ujar Kepala SDN Model Istianah.

Sesuai dengan instruksi dari Dinas Pendidikan, sejak kemarin (3/1) SDN Model menerapkan pembelajaran tatap muka (PTM) dengan kuota 100 persen. Pihaknya memberikan waktu penyesuaian kepada guru dan siswa selama seminggu sebelum benar-benar menerapkan pembelajaran normal seperti era sebelum pandemi. ”Kita lakukan penyesuaian dulu. Baru pekan kedua kita full menggelar semua program pembelajaran,” kata Istianah.

Pelaksanaan upacara bendera di hari pertama juga dilakukan di SDN 4 Penganjuran. Sekolah yang beralamat di Jalan A. Yani itu memasukkan semua siswanya pada hari pertama semester genap kemarin.

Baca Juga :  Kawarran Sempu Gelar Kursus Orientasi Pembina Pramuka

Kepala SDN 4 Penganjuran Setyaningsih mengatakan, semua siswa dari kelas 1 sampai 6 dengan total 904 siswa mengikuti PTM 100 persen pada hari itu. Guru sudah melakukan persiapan jauh hari untuk mengantisipasi PTM 100 persen di hari pertama. Sejak libur sekolah, guru terus berkoordinasi dengan kepala sekolah dan wali murid untuk mempersiapkan diri. ”Siswa masuk mulai pukul 07.30 sampai 12.00. Sesuai aturan, jam pelajaran maksimal 6 jam,” ujarnya.

Meski sekolah sudah berjalan dengan full luring, namun pembelajaran secara digital akan tetap digunakan. Setyaningsih mengatakan, ada banyak perubahan sistem yang memberikan efek positif kepada para siswa. Seperti kebiasaan untuk mencuci tangan dan menerapkan protokol kesehatan. ”Ujian daring tetap kita gunakan, tapi di sekolah. Nanti siswa membawa HP,” kata dia.

Penerapan PTM 100 persen di Banyuwangi berlaku untuk jenjang TK, SD, dan SMP. Sedangkan untuk jenjang SMA/SMA, penerapannya masih belum dilakukan secara menyeluruh. Beberapa SMA masih menerapkan kuota maksimal 50 persen untuk kelas 10 dan 11. Hanya kelas 12 yang menerapkan pembelajaran dengan kuota siswa 100 persen. Salah satunya di SMAN 1 Banyuwangi.

Wakasek Kurikulum SMAN 1 Banyuwangi Lis Dewanto mengatakan, hanya siswa kelas 12 saja yang masuk dengan kuota 100 persen. Sedangkan siswa kelas 10 dan 11 masuk separo kelas. ”Kita mempertimbangkan masalah kesehatan. Karena pandemi belum benar-benar usai, apalagi guru di SMA rata-rata sudah berumur,” kata Dewanto.

Sekolah yang akan menggelar PTM 100 persen juga harus mengajukan diri ke Cabang Dinas Pendidikan terlebih dahulu. Jika dirasa siap, baru sekolah boleh memasukan seluruh siswanya. ”Kita utamakan kelas 12 dulu yang masuk 100 persen. Masa efektif pembelajaran tinggal dua bulan lagi, supaya lebih maksimal,” tegasnya.

Baca Juga :  PCNU Banyuwangi Resmikan Bumi Perkemahan Nawa Lintang

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur Wilayah Banyuwangi Istu Handono mengatakan, semua sekolah di bawah Cabdin sudah menggelar PTM di semester genap. Belum seluruhnya menerapkan kuota 100 persen pembelajaran. Hanya kelas 12 saja yang masuk 100 persen. Itu pun dibagi dalam dua kelas. Sedangkan kelas 10 dan 11 hanya 50 persen dari kuota.

”Pertimbangan kita karena masalah keselamatan siswa. Mungkin SD dan SMP bisa kita pantau, tapi siswa SMA dan SMK interaksinya cukup tinggi. Tetap kita batasi untuk kuotanya. Kalau untuk jam sekolah ada yang durasinya 6 jam sesuai dengan SKB 4 Menteri dan ada yang 4 jam. Menyesuaikan dengan kondisi sekolah,” kata Istu.

Kasi SMA Cabang Dinas Pendidikan Banyuwangi Mohammad Arief Ainurrozie menambahkan, alasan kesehatan menjadi pertimbangan utama Cabang Dinas untuk menerapkan kuota 50 persen kepada para siswa SMA dan SMK. Meskipun ada beberapa sekolah dengan jumlah siswa di bawah 100 orang yang sudah memasukkan seluruh siswanya.

”Kita juga melihat asesmen dari surveilans untuk memastikan keamanan sekolah sesuai dengan kuota yang mereka terapkan. Kita ingin menjaga agar semua tetap aman,” pungkasnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/