alexametrics
24.1 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

Kreasi Pelajar Disabilitas Diwadahi Festival Kita Bisa

BANYUWANGI – Pemkab Banyuwangi terus memberikan ruang berekspresi sekaligus pengembangan diri bagi kalangan difabel. Tidak terkecuali bagi pelajar penyandang disabilitas di Bumi Blambangan. Salah satunya diwujudkan melalui ”Festival Kita Bisa” yang digelar  dalam rangkaian peringatan Hari Disabilitas Internasional yang jatuh 3 Desember.

Festival tersebut berlangsung di SD Negeri Model Banyuwangi di Kelurahan Sobo, Kecamatan Banyuwangi Rabu (1/12). Festival Kita Bisa merupakan ajang kreasi bagi siswa-siswi penyandang disabilitas tingkat Sekolah Dasar (SD) se-Banyuwangi. Berbagai perlombaan digeber, antara lain atletik, bulu tangkis, catur, menyanyi, dan menggambar. Perlombaan tersebut sekaligus sebagai ajang seleksi untuk mengikuti Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim dan Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat Jatim kategori disabilitas.

Bupati Ipuk Fiestiandani mengatakan, melalui Festival Kita Bisa, pemkab ingin mewujudkan pendidikan untuk semua (education for all). ”Di festival inilah, kita memberi ruang dan panggung bagi anak-anak penyandang disabilitas,” ujarnya.

Undang-Undang (UU) Sistem Pendidikan Nasional Republik Indonesia mengamanatkan bahwa pendidikan adalah hak bagi setiap warga negara. Tidak terkecuali bagi para penyandang disabilitas. Mereka berhak untuk memperoleh pendidikan secara setara tanpa adanya diskriminasi. ”Oleh karena itu, kami di Banyuwangi berupaya keras untuk mewujudkan amanat UU tersebut. Semua sekolah di Banyuwangi kami dorong menjadi sekolah inklusi yang mengharuskan sekolah-sekolah itu untuk menerima pelajar penyandang disabilitas,” papar Ipuk.

Sekadar diketahui, Pemkab Banyuwangi telah berupaya untuk mewujudkan sekolah inklusi yang ramah bagi para penyandang disabilitas sejak 2013 silam. Secara bertahap jumlah sekolah inklusi terus bertambah. Hingga saat ini, semua sekolah negeri dari tingkat pendidikan anak usia dini (PAUD) sampai sekolah menengah atas (SMA)/Sederajat telah berstatus inklusif. ”Sebagai bentuk perhatian, pemerintah memberikan insentif khusus bagi guru pendamping pelajar penyandang disabilitas,” papar Ipuk.

Ipuk menambahkan, Pemkab Banyuwangi memiliki perhatian serius dalam memenuhi hak-hak penyandang disabilitas. ”Tidak hanya dalam bidang pendidikan saja, kami juga berusaha untuk memenuhi hak-hak kaum disabilitas dalam berbagai bidang. Seperti halnya dalam dunia kerja, pelayanan umum, sampai terpenuhinya fasilitas disabilitas di tempat-tempat publik secara bertahap,” ujarnya.

Hal tersebut, imbuh Ipuk, telah tertuang dalam Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2017 tentang Perlindungan dan Pemenuhan Hak-Hak Penyandang Disabilitas. ”Aturan ini secara bertahap kita jalankan. Kami berkomitmen untuk bisa memenuhinya,” lanjutnya.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Suratno mengatakan, Festival Kita Bisa digeber di lima lokasi di Banyuwangi. Selain di SDN Model yang menjadi lokasi pembukaan, ajang serupa juga digeber di empat sekolah lain. Di antaranya di SDN 1 Lateng, SDN 1 Kebalenan, SDN 1 Mojopanggung, dan SDN 4 Penganjuran. ”Biar tidak terjadi penumpukan. Karena acara ini menerapkan protokol kesehatan (prokes) secara ketat,” kata dia.

Sementara itu, sehari berselang, Banyuwangi mendapat kehormatan menjadi tuan rumah workshop ”Intervensi Dini untuk Anak Cerebral Palsy” yang digelar Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) kemarin (2/12). Workshop diikuti ratusan peserta yang hadir secara langsung di lokasi, maupun secara virtual dari berbagai daerah se-Indonesia. Mereka terdiri dari para guru, orang tua, stakeholder terkait, dan masyarakat umum.

Bupati Ipuk Fiestiandani membuka langsung workshop tersebut melalui sambungan seluler. Hadir dalam kegiatan ini, Kepala Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Bidang Taman Kanak-Kanak dan Pendidikan Luar Biasa (P4TK TK dan PLB) Kemendikbudristek Abu Khaer, Kepala Bidang Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PK-PLK) Provinsi Jatim Dr Suhartono, Founder Global Village Fundation Andy Bracey, dan segenap jajaran OPD terkait di lingkup Pemkab Banyuwangi.

Khaer menjelaskan, dipilihnya Banyuwangi bukanlah tanpa alasan. Menurutnya, Banyuwangi memiliki relawan disabilitas yang aktif, serta memiliki jaringan yang cukup luas. Kinerja sekolah luar biasa (SLB) di daerah ini juga dinilai baik dalam membantu meningkatkan kapasitas dan kemandirian anak didiknya. ”Inilah alasan kami memilih Banyuwangi sebagai salah satu lokasi kegiatan. Ini sekaligus sebagai motivasi untuk para relawan dan guru yang selama ini bekerja sepenuh hati melayani dan mendampingi para penyandang disabilitas. Khususnya anak-anak cerebral palsy,” ujar Khaer. 

BANYUWANGI – Pemkab Banyuwangi terus memberikan ruang berekspresi sekaligus pengembangan diri bagi kalangan difabel. Tidak terkecuali bagi pelajar penyandang disabilitas di Bumi Blambangan. Salah satunya diwujudkan melalui ”Festival Kita Bisa” yang digelar  dalam rangkaian peringatan Hari Disabilitas Internasional yang jatuh 3 Desember.

Festival tersebut berlangsung di SD Negeri Model Banyuwangi di Kelurahan Sobo, Kecamatan Banyuwangi Rabu (1/12). Festival Kita Bisa merupakan ajang kreasi bagi siswa-siswi penyandang disabilitas tingkat Sekolah Dasar (SD) se-Banyuwangi. Berbagai perlombaan digeber, antara lain atletik, bulu tangkis, catur, menyanyi, dan menggambar. Perlombaan tersebut sekaligus sebagai ajang seleksi untuk mengikuti Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim dan Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat Jatim kategori disabilitas.

Bupati Ipuk Fiestiandani mengatakan, melalui Festival Kita Bisa, pemkab ingin mewujudkan pendidikan untuk semua (education for all). ”Di festival inilah, kita memberi ruang dan panggung bagi anak-anak penyandang disabilitas,” ujarnya.

Undang-Undang (UU) Sistem Pendidikan Nasional Republik Indonesia mengamanatkan bahwa pendidikan adalah hak bagi setiap warga negara. Tidak terkecuali bagi para penyandang disabilitas. Mereka berhak untuk memperoleh pendidikan secara setara tanpa adanya diskriminasi. ”Oleh karena itu, kami di Banyuwangi berupaya keras untuk mewujudkan amanat UU tersebut. Semua sekolah di Banyuwangi kami dorong menjadi sekolah inklusi yang mengharuskan sekolah-sekolah itu untuk menerima pelajar penyandang disabilitas,” papar Ipuk.

Sekadar diketahui, Pemkab Banyuwangi telah berupaya untuk mewujudkan sekolah inklusi yang ramah bagi para penyandang disabilitas sejak 2013 silam. Secara bertahap jumlah sekolah inklusi terus bertambah. Hingga saat ini, semua sekolah negeri dari tingkat pendidikan anak usia dini (PAUD) sampai sekolah menengah atas (SMA)/Sederajat telah berstatus inklusif. ”Sebagai bentuk perhatian, pemerintah memberikan insentif khusus bagi guru pendamping pelajar penyandang disabilitas,” papar Ipuk.

Ipuk menambahkan, Pemkab Banyuwangi memiliki perhatian serius dalam memenuhi hak-hak penyandang disabilitas. ”Tidak hanya dalam bidang pendidikan saja, kami juga berusaha untuk memenuhi hak-hak kaum disabilitas dalam berbagai bidang. Seperti halnya dalam dunia kerja, pelayanan umum, sampai terpenuhinya fasilitas disabilitas di tempat-tempat publik secara bertahap,” ujarnya.

Hal tersebut, imbuh Ipuk, telah tertuang dalam Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2017 tentang Perlindungan dan Pemenuhan Hak-Hak Penyandang Disabilitas. ”Aturan ini secara bertahap kita jalankan. Kami berkomitmen untuk bisa memenuhinya,” lanjutnya.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Suratno mengatakan, Festival Kita Bisa digeber di lima lokasi di Banyuwangi. Selain di SDN Model yang menjadi lokasi pembukaan, ajang serupa juga digeber di empat sekolah lain. Di antaranya di SDN 1 Lateng, SDN 1 Kebalenan, SDN 1 Mojopanggung, dan SDN 4 Penganjuran. ”Biar tidak terjadi penumpukan. Karena acara ini menerapkan protokol kesehatan (prokes) secara ketat,” kata dia.

Sementara itu, sehari berselang, Banyuwangi mendapat kehormatan menjadi tuan rumah workshop ”Intervensi Dini untuk Anak Cerebral Palsy” yang digelar Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) kemarin (2/12). Workshop diikuti ratusan peserta yang hadir secara langsung di lokasi, maupun secara virtual dari berbagai daerah se-Indonesia. Mereka terdiri dari para guru, orang tua, stakeholder terkait, dan masyarakat umum.

Bupati Ipuk Fiestiandani membuka langsung workshop tersebut melalui sambungan seluler. Hadir dalam kegiatan ini, Kepala Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Bidang Taman Kanak-Kanak dan Pendidikan Luar Biasa (P4TK TK dan PLB) Kemendikbudristek Abu Khaer, Kepala Bidang Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PK-PLK) Provinsi Jatim Dr Suhartono, Founder Global Village Fundation Andy Bracey, dan segenap jajaran OPD terkait di lingkup Pemkab Banyuwangi.

Khaer menjelaskan, dipilihnya Banyuwangi bukanlah tanpa alasan. Menurutnya, Banyuwangi memiliki relawan disabilitas yang aktif, serta memiliki jaringan yang cukup luas. Kinerja sekolah luar biasa (SLB) di daerah ini juga dinilai baik dalam membantu meningkatkan kapasitas dan kemandirian anak didiknya. ”Inilah alasan kami memilih Banyuwangi sebagai salah satu lokasi kegiatan. Ini sekaligus sebagai motivasi untuk para relawan dan guru yang selama ini bekerja sepenuh hati melayani dan mendampingi para penyandang disabilitas. Khususnya anak-anak cerebral palsy,” ujar Khaer. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/