alexametrics
25.6 C
Banyuwangi
Thursday, August 11, 2022

SIKIA Unair Lepas Tukik di Pantai Pulau Santen

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Sekolah Ilmu Kesehatan dan Ilmu Alam (SIKIA) Universitas Airlangga kembali mengadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Acara bertemakan Optimalisasi Konservasi Penyu dan Vegetasi Pantai melalui Pemberdayaan Kelompok Sadar Wisata digelar di Pantai Pulau Santen, Senin (1/8).

Sebanyak 77 ekor tukik hasil penetasan inkubator buatan Intan Box hasil karya BSTF yang dalam pelaksanaan penelitiannya bekerjasama dengan tim peneliti dari prodi kedokteran hewan SIKIT UNAIR dilepas ke alam bebas.

Ketua pelaksana pengabdian masyarakat drh. Aditya Yudhana, M.Si mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk optimalisasi konservasi penyu di wilayah pulau santen karena banyak indukan penyu mendarat dan keterlibatan masyarakat belum maksimal. “Lewat kegiatan ini, SIKIA Universitas Airlangga mengajak masyarakat sekitar bersama melakukan penguatan konservasi penyu di Pulau Santen,” jelas Aditya.

KONSERVASI PENYU: drh. Aditya Yudhana, M.Si didampingi Prayogo, S.Pi., M.P foto bersama civitas academica SIKIA Unair sebelum acara lepas tukik. (Benny Siswanto/Radar Banyuwangi)

Aditya mengungkapkan 77 ekor tukik yang dilepas berasal dari satu sarang yang berhasil di inkubasi. Yang membuat beda, Menurut Aditya, tukik ini adalah hasil inkubator buatan melalui metodologi dan riset sampai berhasil menetas. “Dan hari ini, kita lepas liarkan tukik tersebut bersama dengan seluruh civitas akademika beserta mitra dan masyarakat,” terangnya.

Aditya berharap kedepan kolaborasi antara pihak akademisi, stake holder dan masyarakat dalam penguatan konservasi penyu harus terjaga mengingat jumlah populasi satwa penyu turun. “Banyuwangi sebagai maskot atau simbol penyu, maka sebagai tuan rumah kita harus menjaga program konservasi penyu ini,” pintanya.

Ketua Departemen SIKIA UNAIR Banyuwangi Prayogo, S.Pi., M.P sangat mengapresiasi kegiatan pengabdian masyarakat prodi kedokteran hewan lewat konservasi penyu yang luar biasa. Menurutnya, hal ini sesuai dengan Tridharma perguruan tinggi, yakni sistem pembelajaran, penelitian dan pengadian masyarakat. “Ini bentuk pengabdian dan belajar bersama masyarakat serta mengembangkan dan ikut berpartisipasi agar tukik ini tidak punah,” tegasnya.

Baca Juga :  Halaman Sekolah Dipenuhi Aneka Tanaman

Sementara itu, Wiyanto Haditanojo pembina BSTF mengatakan 77 tukik yang dilepaskan adalah dari penyu jenis lekang. Tukik menetas setelah menjalani masa inkubasi di dalam Intan Box dalam waktu selama 61 sampai 64 hari. “Ada 88 butir telur yang diambil dari sarang di Pantai Sari dan pada tanggal 30 April lalu yang menetas ada 77 ekor atau sekitar 87,5% yang berhasil menetas,” jelas Wiyanto.

YOSI BOX: Karya BSTF mempercepat penyerapan Yolk sehingga tukik yang baru menetas bisa lepas kelautan tanpa menghambat saat berenang. (Benny Siswanto/Radar Banyuwangi)

Wiyanto menjelaskan, penyu yang dilepaskan di Pulau Santen (1/8) adalah penyu berjenis kelamin jantan karena masa inkubasinya yang lebih lama, bila di semi alami biasanya menetas sekitar 45 sampai 47 hari. “Tukik berusia 32 hari yang dilepas saat ini responnya sama dengan tukik hasil penetasan alami maupun semi alami saat dilepas ke laut lepas,” ujarnya.

Pria yang akrab disapa Wiwit ini mengungkapkan, selama proses Inkubasi berlangsung. Para peneliti dari SIKIA Unair Banyuwangi salah satunya Aditya Yudhana drh., M.Si dan team mahasiswa terus melakukan pemantauan kepada telur penyu yang ditetaskan dalam tabung di Intan Box. Hal ini akan dijadikan bahan penelitian oleh SIKIA Unair Banyuwangi sekaligus untuk pengembangan Intan Box kedepannya

Sejak mulai digunakan pada akhir tahun 2021, Intan Box yang digagas dirinya dan team BSTF berhasil menetaskan lebih dari 1000 butir telur penyu Lekang dan 1 sarang 51 butir Penyu Hijau (Chelonia mydas).

Baca Juga :  Ahmad Baso Ajak Generasi Muda Banyuwangi Dalami Naskah Kuno

Wiwit mengungkapkan bahwa alat inkubator Intan Box dapat menampung hingga 1000 butir telor penyu ini mudah dipindah dan dapat dipantau langsung melalui CCTV yang terhubung dengan internet dan smartphone.

Metode penggunaan alat inkubator yang dikembangkan BSTF dianggap cukup efektif. Selain tidak memerlukan media pasir seperti umumnya, Intan Box juga terbukti memiliki rasio penetasan yang cukup tinggi. “Rata-rata angka penetasanya ada di atas 90 persen, lebih tinggi dari rata-rata penetasan semi alami,” terangnya.

Tidak hanya itu, keunggulan Intan Box adalah bisa menetaskan jenis kelamin tukik yang dikehendaki apakah betina maupun jantan bisa dikontrol. Menurutnya, Intan Box bisa di setting untuk kelembapan dan suhu udara selama proses inkubasi berlangsung. Karena pemanasan global, saat ini mayoritas penyu yang menetas di alam berjenis kelamin betina.

“Di alam liar, seekor induk penyu betina membutuhkan antara 4 sampai 6 penyu jantan untuk membuahi telur telur yang ada dalam indung telur penyu betina,” jelas bapak dua anak itu.

Selain Intan Box, BSTF juga berhasil menciptakan sebuah alat yang bernama Yosi Box. Dimana, alat ini berfungsi untuk mempercepat penyerapan Yolk (kuning telur) anak penyu (tukik) yang baru menetas. Secara alami Yolk membutuhkan waktu dua hingga empat hari untuk menyusut.

“Dengan alat Yosi Box, durasi untuk mengecilkan Yolk hanya beberapa jam saja. Tukik bisa lebih cepat dilepas kembali kelautan, tanpa khawatir Yolknya masih besar hingga menghambat waktu berenang,” pungkasnya. (*)

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Sekolah Ilmu Kesehatan dan Ilmu Alam (SIKIA) Universitas Airlangga kembali mengadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Acara bertemakan Optimalisasi Konservasi Penyu dan Vegetasi Pantai melalui Pemberdayaan Kelompok Sadar Wisata digelar di Pantai Pulau Santen, Senin (1/8).

Sebanyak 77 ekor tukik hasil penetasan inkubator buatan Intan Box hasil karya BSTF yang dalam pelaksanaan penelitiannya bekerjasama dengan tim peneliti dari prodi kedokteran hewan SIKIT UNAIR dilepas ke alam bebas.

Ketua pelaksana pengabdian masyarakat drh. Aditya Yudhana, M.Si mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk optimalisasi konservasi penyu di wilayah pulau santen karena banyak indukan penyu mendarat dan keterlibatan masyarakat belum maksimal. “Lewat kegiatan ini, SIKIA Universitas Airlangga mengajak masyarakat sekitar bersama melakukan penguatan konservasi penyu di Pulau Santen,” jelas Aditya.

KONSERVASI PENYU: drh. Aditya Yudhana, M.Si didampingi Prayogo, S.Pi., M.P foto bersama civitas academica SIKIA Unair sebelum acara lepas tukik. (Benny Siswanto/Radar Banyuwangi)

Aditya mengungkapkan 77 ekor tukik yang dilepas berasal dari satu sarang yang berhasil di inkubasi. Yang membuat beda, Menurut Aditya, tukik ini adalah hasil inkubator buatan melalui metodologi dan riset sampai berhasil menetas. “Dan hari ini, kita lepas liarkan tukik tersebut bersama dengan seluruh civitas akademika beserta mitra dan masyarakat,” terangnya.

Aditya berharap kedepan kolaborasi antara pihak akademisi, stake holder dan masyarakat dalam penguatan konservasi penyu harus terjaga mengingat jumlah populasi satwa penyu turun. “Banyuwangi sebagai maskot atau simbol penyu, maka sebagai tuan rumah kita harus menjaga program konservasi penyu ini,” pintanya.

Ketua Departemen SIKIA UNAIR Banyuwangi Prayogo, S.Pi., M.P sangat mengapresiasi kegiatan pengabdian masyarakat prodi kedokteran hewan lewat konservasi penyu yang luar biasa. Menurutnya, hal ini sesuai dengan Tridharma perguruan tinggi, yakni sistem pembelajaran, penelitian dan pengadian masyarakat. “Ini bentuk pengabdian dan belajar bersama masyarakat serta mengembangkan dan ikut berpartisipasi agar tukik ini tidak punah,” tegasnya.

Baca Juga :  Intan Box Tetaskan 1000 Lebih Telur Penyu

Sementara itu, Wiyanto Haditanojo pembina BSTF mengatakan 77 tukik yang dilepaskan adalah dari penyu jenis lekang. Tukik menetas setelah menjalani masa inkubasi di dalam Intan Box dalam waktu selama 61 sampai 64 hari. “Ada 88 butir telur yang diambil dari sarang di Pantai Sari dan pada tanggal 30 April lalu yang menetas ada 77 ekor atau sekitar 87,5% yang berhasil menetas,” jelas Wiyanto.

YOSI BOX: Karya BSTF mempercepat penyerapan Yolk sehingga tukik yang baru menetas bisa lepas kelautan tanpa menghambat saat berenang. (Benny Siswanto/Radar Banyuwangi)

Wiyanto menjelaskan, penyu yang dilepaskan di Pulau Santen (1/8) adalah penyu berjenis kelamin jantan karena masa inkubasinya yang lebih lama, bila di semi alami biasanya menetas sekitar 45 sampai 47 hari. “Tukik berusia 32 hari yang dilepas saat ini responnya sama dengan tukik hasil penetasan alami maupun semi alami saat dilepas ke laut lepas,” ujarnya.

Pria yang akrab disapa Wiwit ini mengungkapkan, selama proses Inkubasi berlangsung. Para peneliti dari SIKIA Unair Banyuwangi salah satunya Aditya Yudhana drh., M.Si dan team mahasiswa terus melakukan pemantauan kepada telur penyu yang ditetaskan dalam tabung di Intan Box. Hal ini akan dijadikan bahan penelitian oleh SIKIA Unair Banyuwangi sekaligus untuk pengembangan Intan Box kedepannya

Sejak mulai digunakan pada akhir tahun 2021, Intan Box yang digagas dirinya dan team BSTF berhasil menetaskan lebih dari 1000 butir telur penyu Lekang dan 1 sarang 51 butir Penyu Hijau (Chelonia mydas).

Baca Juga :  Gerbong Mutasi Bergerak, 13 Kasek SD Bergeser

Wiwit mengungkapkan bahwa alat inkubator Intan Box dapat menampung hingga 1000 butir telor penyu ini mudah dipindah dan dapat dipantau langsung melalui CCTV yang terhubung dengan internet dan smartphone.

Metode penggunaan alat inkubator yang dikembangkan BSTF dianggap cukup efektif. Selain tidak memerlukan media pasir seperti umumnya, Intan Box juga terbukti memiliki rasio penetasan yang cukup tinggi. “Rata-rata angka penetasanya ada di atas 90 persen, lebih tinggi dari rata-rata penetasan semi alami,” terangnya.

Tidak hanya itu, keunggulan Intan Box adalah bisa menetaskan jenis kelamin tukik yang dikehendaki apakah betina maupun jantan bisa dikontrol. Menurutnya, Intan Box bisa di setting untuk kelembapan dan suhu udara selama proses inkubasi berlangsung. Karena pemanasan global, saat ini mayoritas penyu yang menetas di alam berjenis kelamin betina.

“Di alam liar, seekor induk penyu betina membutuhkan antara 4 sampai 6 penyu jantan untuk membuahi telur telur yang ada dalam indung telur penyu betina,” jelas bapak dua anak itu.

Selain Intan Box, BSTF juga berhasil menciptakan sebuah alat yang bernama Yosi Box. Dimana, alat ini berfungsi untuk mempercepat penyerapan Yolk (kuning telur) anak penyu (tukik) yang baru menetas. Secara alami Yolk membutuhkan waktu dua hingga empat hari untuk menyusut.

“Dengan alat Yosi Box, durasi untuk mengecilkan Yolk hanya beberapa jam saja. Tukik bisa lebih cepat dilepas kembali kelautan, tanpa khawatir Yolknya masih besar hingga menghambat waktu berenang,” pungkasnya. (*)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/