alexametrics
24.7 C
Banyuwangi
Saturday, August 13, 2022

SMP Al Qur’an Sal-Syaf Kembangkan Metode Halaqah

BANGOREJO – Perkembangan lembaga pendidikan tahfidz di Banyuwangi  belakangan ini bisa dibilang  cukup tinggi. Minat masyarakat menyekolahkan anaknya dalam lembaga tahfidz semakin banyak. Salah satu lembaga yang kini mulai banyak diminati adalah SMP Al-Qur’an Salafiyah Syafi’iyah (Sal-Syaf) Desa Sukorejo, Kecamatan Bangorejo.

Metode yang dikembangkan di tempat ini dilakukan dengan cukup ketat disertai dengan inovasi khas. Metode yang digunakan mengacu kurikulum yang sering dipakai madrasah tahfidz di Kudus.

Mengungkapkan keberhasilan ini, Kepala SMP Al-Qur’an Salafiyah Syafi’iyah Muhammad Badrudin menyebutkan, sistem yang dilakukan di sekolahnya mengacu pada kegiatan 24 jam. Mulai pagi, siswa-siswi dibagi dalam kelompok halaqah-halaqah. Kegiatan yang dilakukan sejak subuh hingga menjelang pukul 6.30. Mereka melakukan tadarus sesuai kemampuan. ”Anak-anak mulai pagi hingga menjelang sekolah kita buatkan halaqah,” ucapnya.

Baca Juga :  Kampoeng Batara Dipoles Kemampuan Bahasa Inggris

Untuk memaksimalkan daya hafal dan kemampuan anak-anak di bidang pelajaran lainnya, ketika masuk jam pelajaran umum siswa diwajibkan khusus menyimak pelajaran tersebut. Bahkan, dalam sehari porsi yang khusus terkait pelajaran Alquran hanya seperempat saja. ”Dalam 24 jam anak pegang Quran hanya 6 jam,” ungkapnya.

Metode ini pun berhasil memudahkan santri menghafal Alquran. ”Santri terkecil dari tahfidz, anak TK 0 besar sudah bisa menghafal 3 juz,” tegasnya.

Untuk memastikan kualitas hafalan siswa, sekolah menerapkan aturan melakukan tes setiap usai menghafal satu juz. Sementara secara umum, dalam setahun dilakukan dua kali. Dalam hal ini, pihak sekolah juga melibatkan peran wali siswa untuk menyimak hafalan putranya. ”Orang tua kita undang juga untuk melihat dan menyaksikan anaknya hafalan,” ujarnya.

Untuk memudahkan dan menjaga kemampuan hafalan anak-anak, pihaknya mewajibkan siapa pun yang ikut madrasah hafiz untuk bermukim di pondok,  meskipun yang bersangkutan tinggal di sekitar lokasi pondok pesantren. ”kita tidak cari jumlah banyak,  dan mereka harus tinggal di pondok,” ucapnya.

Baca Juga :  Mulai Semester Depan, Untag Banyuwangi Buka Program Pascasarjana

Sementara itu, KH Zainal Arifin sebagai pengasuh juga pembina santri tahfidz mengungkapkan, saat ini kuota santri tahfidz memang masih dibatasi. Hal ini untuk menjaga kualitas dan pengawasan, karena jumlah murobbi (tenaga bantu khusus tahfidz) masih terbatas dan mereka harus tinggal di pondok. Hal ini pun terbukti dengan prestasi yang diraih santri tahfidz cukup cemerlang. Siswa SMP Al-Qur’an juga tidak ketinggalan dalam prestasi akademik. ”Salah satu siswa ada yang ikut olimpiade matematika sampai ke tingkat nasional untuk tahun ini,” ucapnya.

BANGOREJO – Perkembangan lembaga pendidikan tahfidz di Banyuwangi  belakangan ini bisa dibilang  cukup tinggi. Minat masyarakat menyekolahkan anaknya dalam lembaga tahfidz semakin banyak. Salah satu lembaga yang kini mulai banyak diminati adalah SMP Al-Qur’an Salafiyah Syafi’iyah (Sal-Syaf) Desa Sukorejo, Kecamatan Bangorejo.

Metode yang dikembangkan di tempat ini dilakukan dengan cukup ketat disertai dengan inovasi khas. Metode yang digunakan mengacu kurikulum yang sering dipakai madrasah tahfidz di Kudus.

Mengungkapkan keberhasilan ini, Kepala SMP Al-Qur’an Salafiyah Syafi’iyah Muhammad Badrudin menyebutkan, sistem yang dilakukan di sekolahnya mengacu pada kegiatan 24 jam. Mulai pagi, siswa-siswi dibagi dalam kelompok halaqah-halaqah. Kegiatan yang dilakukan sejak subuh hingga menjelang pukul 6.30. Mereka melakukan tadarus sesuai kemampuan. ”Anak-anak mulai pagi hingga menjelang sekolah kita buatkan halaqah,” ucapnya.

Baca Juga :  Peringati Harjaba dengan Menggelar Aneka Seni

Untuk memaksimalkan daya hafal dan kemampuan anak-anak di bidang pelajaran lainnya, ketika masuk jam pelajaran umum siswa diwajibkan khusus menyimak pelajaran tersebut. Bahkan, dalam sehari porsi yang khusus terkait pelajaran Alquran hanya seperempat saja. ”Dalam 24 jam anak pegang Quran hanya 6 jam,” ungkapnya.

Metode ini pun berhasil memudahkan santri menghafal Alquran. ”Santri terkecil dari tahfidz, anak TK 0 besar sudah bisa menghafal 3 juz,” tegasnya.

Untuk memastikan kualitas hafalan siswa, sekolah menerapkan aturan melakukan tes setiap usai menghafal satu juz. Sementara secara umum, dalam setahun dilakukan dua kali. Dalam hal ini, pihak sekolah juga melibatkan peran wali siswa untuk menyimak hafalan putranya. ”Orang tua kita undang juga untuk melihat dan menyaksikan anaknya hafalan,” ujarnya.

Untuk memudahkan dan menjaga kemampuan hafalan anak-anak, pihaknya mewajibkan siapa pun yang ikut madrasah hafiz untuk bermukim di pondok,  meskipun yang bersangkutan tinggal di sekitar lokasi pondok pesantren. ”kita tidak cari jumlah banyak,  dan mereka harus tinggal di pondok,” ucapnya.

Baca Juga :  Tingkatkan Semangat Kerja, Peringati Hari Pahlawan

Sementara itu, KH Zainal Arifin sebagai pengasuh juga pembina santri tahfidz mengungkapkan, saat ini kuota santri tahfidz memang masih dibatasi. Hal ini untuk menjaga kualitas dan pengawasan, karena jumlah murobbi (tenaga bantu khusus tahfidz) masih terbatas dan mereka harus tinggal di pondok. Hal ini pun terbukti dengan prestasi yang diraih santri tahfidz cukup cemerlang. Siswa SMP Al-Qur’an juga tidak ketinggalan dalam prestasi akademik. ”Salah satu siswa ada yang ikut olimpiade matematika sampai ke tingkat nasional untuk tahun ini,” ucapnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/