29.1 C
Banyuwangi
Thursday, March 23, 2023

Larangan Study Tour ke Luar Kota Tuai Respons Positif

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi melarang kegiatan wisata belajar (study tour) ke luar kota bagi siswa jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD), sekolah dasar (SD), dan sekolah menengah pertama (SMP). Larangan tersebut tercantum dalam sudar edaran yang diterbitkan pada Jumat (24/2) lalu.

Ada sejumlah alasan yang mendasari larangan kegiatan study tour ke luar kota tersebut. Salah satunya untuk menyukseskan program Ijen Geopark sebagai bagian dari Unesco Global Geopark.

Kepala Dispendik Banyuwangi Suratno mengatakan, pemilihan lokasi study tour akan lebih difokuskan di wilayah Banyuwangi. Menurut dia, generasi muda Banyuwangi harus lebih paham tentang Ijen Geopark tersebut. ”Banyak sekali keanekaragaman yang harus lebih banyak digali oleh generasi muda daerah. Seperti sejarah lingkungan, keanekaragaman hayati, dan budaya,” ujarnya.

Suratno menuturkan, pihaknya ingin para pelajar yang ada di Banyuwangi lebih menghargai kearifan lokal. Hal tersebut juga bertujuan untuk meningkatkan potensi wisata daerah. ”Jangan sampai para pelajar sibuk study tour ke luar kota, tapi tidak begitu mengetahui tentang potensi daerahnya sendiri,” tuturnya.

Baca Juga :  PCNU Banyuwangi Bangun Pusdiklat Guru LP Ma’arif NU

Suratno menambahkan, kebijakan tersebut akan berlaku selama belum ada aturan baru yang diedarkan. Menurutnya, aturan tersebut setidaknya juga menguntungkan berbagai pihak, salah satunya para pemandu wisata yang ada di Banyuwangi. ”Kami tidak akan merugikan siapa pun. Justru kami berharap adanya program ini akan menjadi salah satu alasan perputaran ekonomi yang baik,” kata dia.

Sementara itu, SE larangan study tour ke luar kota tersebut menuai respons positif sejumlah pihak. Termasuk pihak sekolah dan wali murid. Kepala SMPN 1 Banyuwangi M. Sodiq mengatakan, pihaknya sangat mendukung larangan study tour ke luar kota. Menurut dia, dengan mengoptimalkan kunjungan siswa di wilayah Banyuwangi, maka generasi muda lebih mengetahui keunikan dan kelebihan kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini.

Baca Juga :  Smart Kampung Jadi Sasaran Kunjungan

Namun, menurut Sodiq, kebijakan tersebut dirasa kurang efektif jika dilakukan dalam waktu yang cukup panjang. ”Kalau untuk satu tahun mungkin masih bisa. Tapi, kalau memang terus-terusan dilakukan saya rasa itu juga kurang baik. Sedangkan para siswa juga perlu melihat situasi, kondisi, dan perkembangan dari wilayah lain untuk menambah wawasan,” ujarnya.

Salah satu orang tua siswa MTsN 1 Banyuwangi, Ninik Karlina, mengatakan hal yang serupa. Dia mengaku menyetujui adanya aturan yang saat ini diterapkan oleh Dinas Pendidikan Banyuwangi.

Ninik mengatakan, study tour bukan hal yang salah. Namun, alangkah baiknya jika tujuan para siswa terutama setingkat SMP dan MTs diselenggarakan di lokasi terdekat saja. ”Nanti aturannya pasti berubah. Tapi untuk yang sekarang semoga bisa terlaksana dengan baik,” tandasnya. (tar/sgt/c1)

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi melarang kegiatan wisata belajar (study tour) ke luar kota bagi siswa jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD), sekolah dasar (SD), dan sekolah menengah pertama (SMP). Larangan tersebut tercantum dalam sudar edaran yang diterbitkan pada Jumat (24/2) lalu.

Ada sejumlah alasan yang mendasari larangan kegiatan study tour ke luar kota tersebut. Salah satunya untuk menyukseskan program Ijen Geopark sebagai bagian dari Unesco Global Geopark.

Kepala Dispendik Banyuwangi Suratno mengatakan, pemilihan lokasi study tour akan lebih difokuskan di wilayah Banyuwangi. Menurut dia, generasi muda Banyuwangi harus lebih paham tentang Ijen Geopark tersebut. ”Banyak sekali keanekaragaman yang harus lebih banyak digali oleh generasi muda daerah. Seperti sejarah lingkungan, keanekaragaman hayati, dan budaya,” ujarnya.

Suratno menuturkan, pihaknya ingin para pelajar yang ada di Banyuwangi lebih menghargai kearifan lokal. Hal tersebut juga bertujuan untuk meningkatkan potensi wisata daerah. ”Jangan sampai para pelajar sibuk study tour ke luar kota, tapi tidak begitu mengetahui tentang potensi daerahnya sendiri,” tuturnya.

Baca Juga :  Staidu Gelar Yusidium Sarjana ke-IV dan Dies Maulidia ke-XIV

Suratno menambahkan, kebijakan tersebut akan berlaku selama belum ada aturan baru yang diedarkan. Menurutnya, aturan tersebut setidaknya juga menguntungkan berbagai pihak, salah satunya para pemandu wisata yang ada di Banyuwangi. ”Kami tidak akan merugikan siapa pun. Justru kami berharap adanya program ini akan menjadi salah satu alasan perputaran ekonomi yang baik,” kata dia.

Sementara itu, SE larangan study tour ke luar kota tersebut menuai respons positif sejumlah pihak. Termasuk pihak sekolah dan wali murid. Kepala SMPN 1 Banyuwangi M. Sodiq mengatakan, pihaknya sangat mendukung larangan study tour ke luar kota. Menurut dia, dengan mengoptimalkan kunjungan siswa di wilayah Banyuwangi, maka generasi muda lebih mengetahui keunikan dan kelebihan kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini.

Baca Juga :  Smart Kampung Jadi Sasaran Kunjungan

Namun, menurut Sodiq, kebijakan tersebut dirasa kurang efektif jika dilakukan dalam waktu yang cukup panjang. ”Kalau untuk satu tahun mungkin masih bisa. Tapi, kalau memang terus-terusan dilakukan saya rasa itu juga kurang baik. Sedangkan para siswa juga perlu melihat situasi, kondisi, dan perkembangan dari wilayah lain untuk menambah wawasan,” ujarnya.

Salah satu orang tua siswa MTsN 1 Banyuwangi, Ninik Karlina, mengatakan hal yang serupa. Dia mengaku menyetujui adanya aturan yang saat ini diterapkan oleh Dinas Pendidikan Banyuwangi.

Ninik mengatakan, study tour bukan hal yang salah. Namun, alangkah baiknya jika tujuan para siswa terutama setingkat SMP dan MTs diselenggarakan di lokasi terdekat saja. ”Nanti aturannya pasti berubah. Tapi untuk yang sekarang semoga bisa terlaksana dengan baik,” tandasnya. (tar/sgt/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/