Sabtu, 23 Oct 2021
Radar Banyuwangi
Home / Puisi
icon featured
Puisi

Puisi-puisi Faris Al Faisal

09 Oktober 2021, 15: 35: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Puisi-puisi Faris Al Faisal

Faris Al Faisal

Share this      

Keindahan Derita

Degup jantung adalah mawar

Merekah dan menguncup pada suatu musim

Baca juga: Puisi-Puisi Khanafi

Seperti bangku taman ini

Kita duduk-duduk dijatuhi daun kering

Menghadap keindahan derita

Sedang senja sudah di ambang sore

Surup mataku menangkap tangkai gorden

Membatasi sebuah pertemuan

Tidurku lalu gelisah. Mengigau di sana

Namun bangku taman itu tak pernah kosong

Kenangan akan selalu tertinggal di sana

Dipatuki paruh burung pemakan madu

Lelehan manisnya melekat di sandaran bangku

Tempat punggung puisi menghapus lelah

Hinggap di dahan pohon peneduh

Bersiul-siul dalam panggilan rindu

Pembawa warta berisi jerami kering

Aku telah kembali. Memunguti kenangan itu

Bercampur daun-daun puisi

Indramayu, 2018

------------------

Hidup dan Mati

Banyak penyair mati sedang membaca puisi

Ia pun dikubur. Di atasnya ditabur

Bunga-bunga puisi

Aku di sini duduk

Memilih kata-kata. Meneguk kopi

Mengisap rokok. Hidup bahagia dengan puisi

Indramayu, 2018

---------------------------

Hari Raya Puisi

Para penyair memakai baju diksi

Berduyun-duyun ke pentas, mimbar, dan panggung

Khusyuk berzikir. Beribadah puisi

Sapardi minta maaf  karena hujan

Tidak hanya turun bulan Juni

Goenawan bercerita sudah bosan

Melakukan perjalanan malam

Sutardji tidak banyak lagi membaca mantra

Alunan doa bergetar di bibir

Afrizal mengambil mikrofon

Nyanyi puisi

Ada yang paling menarik. Jokpin datang

Pakai celana baru 

Ini hari raya puisi

: bersalam-salaman, maaf memaafkan

Makan dan minum.

Dengan puisi

Indramayu, 2018-2020

-------------------------

Derum Jantung

Malam itu derum jantungmu memburu

Jantung biru kehidupan

Sebuah resonansi mengalir di dada

Menggetarkan jiwa

Saya tak akan pernah lupa

Mawar bibirmu mengaromakan harum puisi

Sementara sofa dengan gaya Cleopatra

Terbaring memanjang seperti badan sungai Nil 

Lampu-lampu kristal di langit-langit

Memberi warna pada dunia kita

Indramayu, 2019

 

-------------------

 

Kabut Rahasia         

Kegagahan pagi masih dikuasai kabut rahasia

Pekat membanjiri mata

Menabur serbuk jarak pandang 

Kau tak tampak lagi

Tangan meraba pada jejeran pohon jamblang

Menjaga keseimbangan derita duka

Angin kehijauan menampar kecil kedua pipi

Saya memunguti bulu mata jatuh

Langkah telah sampai ke bukit

Matahari diteguk halimun

Di sana kesunyian begitu hening

Memahat batu-batu kesedihan

Tidak ada kau di antara putih bayangan

Kesamaran berdiri tegak di hutan

Saya mengejar suara yang kautinggalkan

Dan gema membungkam pencarian

Indramayu, 2019

--------------------------

Perlintasan Awan

Senja yang murung

Menjadi perlintasan awan

Saya termenung

Dikepung kerinduan

Di antara batas matahari dan rembulan

Sebuah tangga bernama malam

Titian bagi kepak sayap yang malang

Kau pun turun dalam rupa hujan

Merembes ke sela jemari

Menyisir rambut dan memberi jambul

Itulah kecup terhangat

Dengarlah;

Tidurku lalu nyenyak sekali

Tanpa mimpi

Tanpa dengkur walau sekali

Dan kau tak tahu bukan?

Itulah mati merindu

Indramayu, 2019   

----------------------------

 *) Faris Al Faisal lahir di Indramayu, Jawa Barat. Bergiat di Dewan Kesenian Indramayu (DKI) dan Lembaga Kebudayaan Indramayu (LKI). Puisinya mendapat Hadiah Penghargaan dalam Sayembara Menulis Puisi Islam ASEAN Sempena Mahrajan Persuratan dan Kesenian Islam Nusantara ke-9 Tahun 2020 di Membakut, Sabah, Malaysia. Buku puisi keduanya ”Dari Lubuk Cimanuk ke Muara Kerinduan ke Laut Impian” (Rumah Pustaka, 2018).

(bw/*/als/JPR)

©2021 PT. JawaPos Group Multimedia