Selasa, 25 Jan 2022
Radar Banyuwangi
Home / Puisi
icon featured
Puisi

Puisi oleh Ajmal Nour

09 Januari 2022, 11: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Puisi oleh Ajmal Nour

Ajmal Nour

Share this      

Sebelum Januari 2020

 

(1)

Baca juga: Puisi-Puisi En. Aang MZ

sebelum desember memalingkan wajah

dan pergi dengan sisa-sisa musim

aku sempatkan titipkan kenang

biarkan dingin subuh yang menghidangkannya di bibir pagi

lalu embun-embun yang dengan khidmat

mengantarnya pulang menuju dermaga

kau cukupkan aku dalam bekas pelukmu

aku cukupkan engkau di lubuk tabahku

kita cukupkan menjadi selembar kisah yang usai

tentang dingin-dingin rindu

dan puisi-puisi itu

kau nisankan dalam luka

aku ziarahi dalam kepala;

kita khidmat melepasnya dengan doa

(2)

sebelum januari menyungging dari bilik subuh

aku sempatkan merajut doa dari sisa-sisa luka

biarkan harum pagi dan angin-angin

bulan januari yang memahatnya

hari ini lalu bulan-bulan, tahun-tahun,

sampai berganti almanak menuju usia tua

dan sampai gugur di ujung renta

segala harapmu dan pasrahmu telah ku imani

biarkan ku basuh dengan suci air mataku

sementara lebam-lebam di wajah rindu dan dadaku

kau jahitlah satu persatu;

menjadi rumah rindumu dan kepulanganku

cukupkan aku sebagai kekasih amin mu

dan ku cukupkan engkau sebagai ladang

menjalani hari-hari kemarau dan musim-musim hujan

maka kita adalah amin dalam doa; dan doa dalam semoga

semoga yang tak akan lekang karena usia

semoga yang tak rapuh oleh lupa

semoga yang tak pudar oleh segala sengaja

semoga yang selamanya kekal, kekasih

Sumenep, 2019

----------------------

Januari

kamu datang dari tikungan dingin

terseok-seok mengejar waktu

lampu-lampu jalan yang padam

dan seluruh isi kota, dingin melihat kedatangan

seseorang tanpa bayang-bayang

sampai seseorang akhirnya menegurmu

yang berhenti di sebuah taman tanpa nama

”tuan, kau lupa membawa

bayanganmu sendiri yang tertinggal

pada malam tahun baru

di antara gemerlap kembang api

dan kecupan seorang perempuan

yang meningalkanmu dalam mimpi”

”aku kesini hanya ingin pergi”

katamu; pada januari.

Sumenep, 2019

----------------------

Purnama Tenggelam di Wajahmu

 

setelah ku saksikan sepotong purnama tenggelam di wajahmu

aku ingin ikut memetik mimpi di matamu

atau tidurlah di tubuh ranjangku; yang begitu lama memeram rindu

sebelum waktu mengutukku jadi bayang-bayang

sebelum malam meludahkan sepi ke sekujur tubuhku

Sukorejo, 2021

----------------------

Menunggu Kabar dari Langit

 

jika waktu jalang ini gugur sia-sia

juga doa-doa kita yang tersesat mencari jalan pulang

aku ingin mengajakmu berbincang saja

lebih lama dari biasa kita habiskan malam-malam;

begitulah caraku mengusir resah, sayangku

meskipun kita tahu malam mungkin

sedang menyiapkan belati yang ia selipkan

di balik bayang-bayang kita

lalu bagaimana jika langit ingkar janji?

maka biarlah ringkih tubuhku yang akan

menyambut jika langit tiba-tiba hujan peluru

seperti katamu,

pada akhirnya menyerahlah pada takdir!

Sukorejo, 2021

----------------------

Cerita untuk Aina

 

akhirnya kamu mendengar kabar itu

dari hujan yang mengetuk lewat gerimis

dan suara gemerciknya membawa pulang

tragedi malam itu;

aroma kembang,

orang-orang berjubah hitam,

kertas-kertas penuh puisi,

amis darah,

purnama yang menua

dan mayat seorang laki-laki

semua menggenang sengaja di teras halaman rumahmu

dan ribuan rinai adalah penyesalanmu

yang tak sempat kau bayar

namun kau paksa nisankan dalam kenangan

sampai kau lupa

sampai kau tak bisa memaksa

bahwa semua akan semakin abadi dalam kepalamu

Sukorejo, 2020

----------------------

*) Ajmal Nour, lahir di Kabupaten Sumenep. Santri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo. Sekaligus mahasiswa Hukum Universitas Ibrahimy. Aktif menulis puisi sejak tahun 2016.

(bw/*/als/JPR)

©2022 PT. JawaPos Group Multimedia