Selasa, 25 Jan 2022
Radar Banyuwangi
Home / Puisi
icon featured
Puisi

Puisi Mawahdatul Fitriyana

07 Januari 2022, 16: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Puisi Mawahdatul Fitriyana

Mawahdatul Fitriyana

Share this      

Jelmaan Berceloteh

 

Aku pisau yang berputar siap menghunjam,

Baca juga: Puisi Ardhi Ridwansyah

aku kapal yang berlayar dengan angin aku melaju,

kau telaga yang teduh, aku berendam dalam tubuh Mu,

Apiku nyala, lidahku lancip kata, dan pelukku mesra cinta,

aku kata yang bicara,

Puisiku siap ungkap berlayar-layar

Mengorek kedalaman jiwa mu.

Kau bilang segala yang menjelma penderitaan

kan segera dipadamkan,

sama halnya dengan menanti di saat gelisah,

Sunyi secara isyarat namun berisik secara tabiat,

Barangkali ada rasa benci, dengki atau ambisi,

seperti semut memakan gula, tapi mati karenanya,

bisa jadi rasa adalah sebab dari segala luka.

----------------------

Mengempas Tirai Ilusi

 

Aku puisi dan kau inspirasi penuh diksi

serta imajinasi bagai prosa bermakna

Jika aku musik yang bernyanyi, kau notasi harmonisasi

melantunkan lirik sederhana dengan lirih,

Tapi ilusi kerap membias jadi luka;

Ku pikir rindu ternyata candu yang tabu

Ku kira romansa nyatanya fatamorgana

Tabahku bagai bangku usang rela dihujani pertemuan

lalu aksara puisiku jatuh berserakan

Kupunguti kembali jadi komposisi rindu yang gaduh

Namun, cintaku bukan musik maupun puisi,

melainkan perjalanan menujumu

Meski nestapa meleburkan asa, tiada dusta yang merekah,

Hanya sukmaku yang bergelora pada pucuk rindu

Dan jangan kau deraikan air mata

sebab esok kan terjamah kesyahduan dalam mihrab cinta

Aku tak pandai bersajak, namun kumampu merumpun kata

agar jadi sepucuk doa.

----------------------

Candu di Pelataran Rindu

 

Teruntuk tuan yang pernah menjadi penguasa atas segala rindu, berbahagialah biar aku saja yang memendam segala resah,

Tugasmu hanya tertawa!

maka biarkan aku saja yang memendam kecewa

Karena bahagiamu bukan tentang aku

kita tak lagi mengeja tanda-tanda, menafsirkan isyarat,

makna yang tersirat maka jangan terkecoh diksiku,

Tuan itu seperti racun candu yang kau nikmati

meski aku masih menanti lembar aksara dariMu

Namun tinta-tinta rasaku pupus

Jari jemariku pun sudah lelah menulis

lembar aksara asmara yang tak pernah berbalas

Hanya rintik sendu yang hadirkan layu dalam ingatan semu

Seolah berharap adalah candu,

Selamat pagi untukmu

Semoga bertambah baik harimu

Dan semoga lamunanku tak jadi mematahkan asa

Memberatkan langkah membelenggu jiwa-jiwa yang gundah resah.
----------------------

Mawahdatul Fitriyana, santri Pondok Pesantren Darussalam Blokagung, Banyuwangi sekaligus Mahasiswi Jurusan Tadris Bahasa Indonesia semester 7, Kampus Institut Agama Islam Darussalam Blokagung.

(bw/*/als/JPR)

©2022 PT. JawaPos Group Multimedia