Selasa, 25 Jan 2022
Radar Banyuwangi
Home / Puisi
icon featured
Puisi

Puisi Agus Widiey

07 Januari 2022, 15: 30: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Puisi Agus Widiey

Agus Widiey

Share this      

Hujan Berakhir di Jendela

akhirnya hujan ini berakhir

di tubuh jendela

Baca juga: Puisi-Puisi Vito Prasetyo

tempat kita menatap masa depan

dan terkubur akan kenangan

kaca-kaca terlihat rabun kembali

setelah hujan mengakhiri

dengan isyarat genangan

becampur debu pilu-sembilu

bayangan becermin pada cahaya

dan kita mengenang dingin yang renta

serta sungai air mata purba

hujan berakhir di jendela

tapi kita, tak pernah berakhir

meski cinta telah sampai ke hilir

mengalirkan kenangan dari perasaan.

Sumenep, 2021

-----------------------------------

 

Sekuntum Rindu Tak Pernah Layu

sekuntum rindu tak pernah layu

mekar di tubuh waktu

menebarkan harum ke dadaku

meski angin, ingin menggugurkan,

akar cintaku tak akan pernah tumbang

sebab, ia telah kekar dalam harapan.

Sumenep, 2021

-----------------------------------

Napas Penyair

napas penyair menghembuskan kata-kata

yang keluar sebagaimana udara

yang menyusup ke seantero dunia

sementara orang-orang menatapnya

selebihnya ada yang ikut merasakannya

dari waktu ke waktu tak pernah mati

napasnya bertalu-talu melahirkan sebilah puisi.

Sumenep, 2021

-----------------------------------

Manuskrip Bayang-Bayang

sebelum jarak gugur di hati

engkau bayang-bayang

becermin pada sunyi

rupanya kenangan lebih panjang

;melebihi usia musim

seperti engkau yang masih

menyisih luka dan tangis purba.

Batuputih, 2021

-----------------------------------

Melankolia Sebuah Hati

O,

Sunyi yang gemar membaiat rindu

ceburkan aku pada kegelisahan

meski tanpa kabar, tanpa temu, tanpa tatap

;batas-batas tak pernah menetas

jarak mencium bibir waktu

O,

meski cahaya lupa akan yala

setidaknya ceruk hati basah

dan serbuk kata-kata absah

melahirkan sajak melankolia.

Sumenep, 2021

-----------------------------------

Agus Widiey, Lahir di Batuputih, Sumenep, Madura, 17 Mei 2002. Sekarang masih tercatat sebagai santri PP Nurul Muchlishin Pakondang, Rubaru, Sumenep, Madura. puisi-puisinya tersiar di berbagi media. Antologi puisi bersamanya antara lain Rumah Sebuah Buku (2020), Hidup Itu Puisi (2020), Subuh Terakhir (2020), Seruling Sunyi Untuk Mama (2020), Sumpah Pemuda (2021), Merapal Jejak (2021), dan Goresan Kenangan (2021). Juga pernah memenangkan lomba menulis Majelis Sastra Bandung tahun 2021.

(bw/*/als/JPR)

©2022 PT. JawaPos Group Multimedia