Selasa, 25 Jan 2022
Radar Banyuwangi
Home / Cerpen
icon featured
Cerpen

Surat dari Masa Lalu tanpa Tanda Baca

Oleh: Farah Nur Dianah

30 November 2021, 15: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Surat dari Masa Lalu tanpa Tanda Baca

Farah Nur Dianah

Share this      

Aku Diana Oryza, seorang aktris teater yang pernah naik daun pada masanya. Aku sangat mencintai pekerjaanku sebagai aktris teater karena aku tahu betul susahnya memulai karir dari bawah atau dari nol. Mulai dari mengikuti audisi ke sana kemari, lalu menjadi aktris minor atau aktris pendukung selama belasan tahun, bahkan sampai pernah ada pula yang tidak membayar kerja kerasku saat aku masih menjadi aktris pendukung. Namun, pekerjaan yang dahulunya sangat aku cintai, sekarang sudah hancur. Ya, betul. Sudah hancur.

Kala itu adalah penampilan perdanaku setelah belasan tahun menjadi aktris teater pendukung, ya aku akhirnya menjadi pemeran utama. Tetapi di balik itu semua ada senior yang tidak suka padaku bahkan sampai menghasut fansnya untuk membenciku. Dia selalu membuat kekacauan di ruang kostum dan selalu aku yang berujung membereskannya. Sebenarnya bagiku hal itu bukanlah masalah yang besar. Namun ada satu hal yang membuatku sangat marah yakni saat dia merobek bajuku dengan sengaja. Saat itu aku benar-benar kesal dan tidak bisa untuk menahan emosi.

Akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari ruang kostum. Saat aku keluar melewati lobi teater terlihat beberapa stand poster seniorku, Jalatri. Aku mengacak-acak, memukul, dan menendang poster Jalatri dengan sangat kesal. Tak sadar, ternyata para fans Jalatri melihat ke arahku yang sedang mengacak-acak posternya di lobi teater. Sejak saat itulah aku mendapat kesan buruk dari orang-orang teater. 

Baca juga: Kutukan Kenangan

Sebenarnya tidak hanya itu, aku sudah mendapat kesan buruk dari kejadian-kejadian yang lain. Saat menghadiri pesta senior yang lain, aku memergoki kekasihku sedang berselingkuh bersama perempuan lain di dalam mobil. Meskipun pada awalnya kekasihku itu tidak mengakuinya, ia mengatakan bahwa perempuan yang di dalam mobil hanyalah temannya. Aku sangat kesal setengah mati, tetapi aku berusaha menahannya untuk mengontrol amarahku walau ternyata hasilnya nihil. Aku membuka bagasi belakang mobil pacarku dan mengambil tongkat golf kemudian berteriak histeris sambil memukul kaca mobilnya, hingga perempuan yang ada di dalam mobil keluar ketakutan. Padahal selama ini, aku selalu berusaha menjadi yang terbaik di depannya.

Akibat perbuatanku, aku dibawa ke kantor polisi karena melakukan penyerangan. Polisi yang menanganiku bahkan tidak kaget. Iya, aku memang sering melakukan beberapa penyerangan karena tidak dapat mengontrol emosi. Kekasihku sebagai korban tidak mau aku dihukum, jadi kepolisan membiarkan aku pergi, tetapi aku harus membayar denda karena telah melakukan perusakan mobil.

Keesokan harinya aku datang ke tempat latihan seperti biasa, kemudian sutradara tiba-tiba menghampiriku dan melontarkan tanya.

”Diana, sedang apa kau di sini? Apa asisten sutradara tidak memberitahumu?” ucapnya. Aku bingung tidak mengerti

”Apa maksud Anda? Aku di sini untuk berlatih,” sahutku.

”Aku ingin kamu keluar dari rumah produksi  ini, aku tidak peduli apa yang terjadi sebenarnya. Tetapi yang harus perlu kau tahu aktor atau aktris harus bisa menjaga image-nya agar tetap bersih, dan kau Diana, namamu sudah tercemar! Seluruh media saat ini membicarakanmu!”

Ya, aku akhirnya terpaksa pergi meninggalkan tempat latihan, karena percuma saja aku berdebat dengannya memang dia sudah berniat untuk memecatku.

***

Setelah ditolak ke sana kemari dari beberapa audisi yang kuikuti, akhirnya aku memutuskan untuk menjadi pelayan resto milik temanku, Devina. Ya, Devina adalah satu-satunya teman yang tidak meninggalkanku, sekarang aku bekerja dengannya.

”Bisakah kami memesan?” teriak salah satu pelanggan

”Aku datang... aku akan menerima pesanan kalian,” ucapku dengan nada ramah.

”Dua daging tumis dan dua daging pedas.”

Sedangkan dari seberang, aku melihat Devina menghela napas. Ia melihat ke arahku sembari bergumam, ”Pasti bakal terjadi sesuatu hari ini.”

Selang beberapa waktu segerombolan pengunjung datang, sepertinya pelanggan resto ini karena Devina menyapanya dengan akrab.

”Lama tidak bertemu dokter Budi,” sapa Devina kepada gerombolan pengunjung memakai jas berwarna putih. Aku pun ikut menyapanya dengan menundukkan kepala.

Tiba-tiba pada meja pengunjung yang lain ada yang menyapaku, ”Bukankah kamu aktris teater?”  

”Ya, aku Diana” balasku dengan tersenyum.

”Mentalmu lumayan kuat ya? Setelah melakukan penyerangan seperti itu kurasa kau tidak akan muncul di depan umum. Tapi tiap orang memang harus bermuka tebal,” ucapnya mengejek.

Aku yang mendengarnya secara langsung dengan telingaku akhirnya kehilangan kontrol emosi dan meneriaki pelanggan itu. Devina yang mendengarnya langsung menghampiri, menyuruhku tak usah meladeni. Pelangggan tersebut tidak terima. Saat tangannya hendak memukulku, dokter Budi dengan cepat mendorong orang tersebut sampai terjatuh dan pingsan.

Setelah kejadian di resto, aku diantar pulang oleh dokter Budi. Sepanjang jalan kami mengobrol dan bercerita cukup banyak. Ternyata dokter Budi adalah dokter kejiwaan. Tak terasa berjalan, kini aku sudah sampai di depan rumah. Aku mengucapkan terima kasih padanya karena telah mengantarku.

”Kurasa Anda dokter yang baik.”

”Rupanya kamu pandai menilai,” balas dokter Budi

”Jadi, apakah kamu ingin diobati oleh dokter yang baik ini? Aku ingin membantumu,” timpalnya lagi

”Anda pikir saya gila?” tanyaku

”Tidak, kamu tidak gila. Kamu kesakitan. Jika kamu mengakui bahwa kamu kesakitan, kamu bisa diobati” jelas dokter Budi

”Apa Anda percaya diri? Anda sungguh bisa mengobatiku? Tapi begini, saya tidak kesakitan. saya hanya pemarah,” balasku masih tidak terima karena kesannya aku dipandang seperti gila.

***

”Apakah kamu akan terus datang ke sini, Diana? Aku mengadopsimu lalu mencampakkanmu. Kamu sengaja melakukan ini untuk membuatku merasa bersalah?”

Ya, aku sedang mengunjungi ibu angkatku di tempatnya bekerja. Ibu angkat yang dahulu mengadopsiku dari tempat panti asuhan setelah aku ditinggalkan oleh ibu kandungku. Namun, aku dan ibu angkatku mempunyai hubungan yang buruk karena dulu suami dan anaknya meninggal dunia, dan ia menyalahkanku sampai saat ini. Meskipun begitu ibu membesarkanku selama enam tahun, dan terkadang aku merindukannya.

”Ibu, aku sungguh minta maaf,” ucapku

”Kau tak lebih dari anak yang punya kelainan, sudahlah aku lupa masa lalu karena sibuk mencari uang. Dan sekali lagi, aku bukan ibumu!” bentaknya dengan nada yang tinggi

”Aku hanya ingin dimaafkan.”

”Aku hanya ingin dimaafkan,” pintaku berulang kali dengan suara yang bergetar sambil memegang kedua tangannya.

Ibu mengenyahkan tanganku dan mendorongku, ”Kau benar-benar gila! Aku benar-benar muak denganmu, wanita gila!”

Terkadang, yang menyakitimu bukanlah orang asing. Biasanya, mereka adalah yang paling dekat denganmu lebih dari siapa pun.

***

Aku sedang menunggu dokter Budi di depan rumahnya. Saat tiba, ia tampak heran melihat aku ada di depan rumahnya.

”Bagaimana kamu bisa menemukan rumahku?”

Alih-alih menjawabnya, aku langsung mengatakan apa tujuanku mengapa datang ke rumahnya.

”Dokter, aku tidak punya keluarga, dan Devina adalah temanku satu-satunya. Aku tidak pernah akur dengan siapa pun yang kutemui di panggung teater. Mereka semua membenciku karena aku mudah marah. Dan untuk berteman, terkadang aku terlalu mengalah untuk menyenangkan semua orang. Aku mengerti kenapa pacarku berselingkuh. Siapa yang mau bersama orang sepertiku? Dokter benar, aku pasien. Tolong obati aku, dokter bisa bukan? Kali terakhir, dokter bilang aku bisa diobati, asalkan aku mengakui bahwa aku sakit,” aku mencurahkan semua pada dokter Budi

”Apa pun penyakitkmu, jangan berjuang sendirian. Jika kamu bisa mengatasinya sendiri itu bukan penyakit. Saat kamu mengakui rasa sakitmu, pemulihan bisa dimulai,” ucap dokter Budi kala itu.

***

Hari ini adalah sesi terapiku dengan dokter Budi, terbayang di pikiranku, dinding, vas bunga, meja dan langit-langit rumah sakit tempatnya bekerja, seolah bertuliskan Intermittent Explosive Disorder,bagaimana masa lalu mengirimkannya padaku, ahhh!!!

”Dokter, bukankah aku berhak marah?”  tanyaku

”Ya, tentu saja kamu berhak. Tapi masalahnya adalah caramu menggambarkan kemarahanmu,” timpal dokter Budi.

”Aku pernah mendengar kalau untuk menahan emosi tiap marah harus menghitung sampai enam, aku tidak menyangka enam detik akan selama itu.”

”Dan, mengapa emosiku begitu ekstrem? Aku merasa akan menderita lalu mati. Tapi kemudian aku merasa baik-baik saja seolah tidak ada masalah, lalu aku langsung kembali terpuruk. Aku harus bagaimana?” ungkapku.

***

Setelah melakukan banyak sesi konsultasi dan terapi selama beberapa bulan terakhir dengan dokter Budi, orang-orang di sekitarku mulai merasa bahwa aku sudah banyak berubah dan jauh lebih bisa mengendalikan emosi. Untuk itu aku ingin bertemu dokter Budi pada akhir pekan nanti.

Aku sudah berada di ruangan dokter Budi. Hari ini sebenarnya bukan jadwalku untuk sesi konsul bersamanya, tetapi ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan.

”Dokter, apakah dokter juga berpikir kalau aku banyak berubah? Orang-orang terus memberitahuku bahwa aku sudah berubah,” tanyaku pada dokter Budi.

”Kamu tidak berubah Diana, kamu selalu seperti ini. Inilah dirimu yang sebenarnya. Ada lagi yang ingin kamu tanyakan?”

”Kemarin aku merasakan hal baru, aku ingin tahu apa itu. Kemarin aku sedang berjalan dan melihat keluarga yang bahagia. Setelah menatap mereka beberapa saat, aku tiba-tiba merasa sangat bersalah pada diriku. Karena sampai sekarang aku tidak pernah mengasihani diriku sendiri. Jika orang lain mengasihaniku, aku marah. Tapi kemarin aku mengasihani diriku sendiri. Aku tahu aku mengidap gangguan kepribadian ambang. Apakah ini emosi baru karena penyakit yang kuidap?”  tanyaku pada dokter

”Saat kamu mengasihani dirimu sendiri, dan itu belum pernah kamu rasakan, berarti kamu selangkah lebih dekat untuk sembuh. Karena kamu mengasihani dirimu sendiri berarti kamu mulai mencintai dirimu sendiri, hal itu menunjukkan bahwa perasaanmu makin dalam dan juga luas,” jelas dokter Budi. Aku senang mendengar apa yang diucapkannya.

***

Sepucuk surat sudah selesai kubaca, tepat di bawah pohon trembesi belakang panti asuhan, tempat aku mengisi masa kecil. Tak disangka ternyata ibu kandungku pernah kembali dan berniat untuk menjemputku, tapi sayang aku sudah diadopsi. Beliau pun menuliskan surat. Sebenarnya ibuku tidak meninggalkanku, ada hal yang tidak bisa dijelaskan. Surat ini bak jalan pulang yang membentang dari kesunyian hingga ke ujung harap. Karena tiap luka akan menjadi peta untuk kehidupan, semua bergantung bagaimana cara melipat dan menyimpannya. (*)

 ---------------------------

Farah Nur Dianah, seorang introvert yang tinggal di dunia extrovert. Lahir di Jember pada 1 November 2001. Mahasiswa PBSI FKIP Universitas Jember.

(bw/*/als/JPR)

©2022 PT. JawaPos Group Multimedia