Selasa, 25 Jan 2022
Radar Banyuwangi
Home / Cerpen
icon featured
Cerpen

R a n a

Oleh: Ara Yamani*

26 November 2021, 18: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

R  a  n  a

Emroni Sianturi

Share this      

Baru tiga hari aku tak bertemu dengannya. Tapi mulai muncul suatu rasa yang masih tak ku mengerti mengapa.

Tak akan pernah pudar dari ingatan, malam yang membungkus sebuah perjumpaan. Kala itu, langit menelan bintang gemintang dan rembulan bulat-bulat. Hingga yang tersisa hanyalah pekat. Dengan langkah kaki digelayuti gelisah, aku berjalan seorang diri menyusuri jalan tak tentu arah. Itu sudah jadi kebiasaan, jika hati sedang dikuasai amarah. Aku berjalan dengan gusar tanpa memperhatikan sekitar. Sesekali saja aku mencoba waspada dengan kondisi trotoar. Yang mulai bobrok dan penuh lubang. Jika sampai terperosok, pastilah aku makin berang. Aku melompat kecil menghindari trotoar yang menganga. Tiba-tiba saja dia muncul di hadapanku, menyapa.

”Hai, Dik. Adik. Mau ke mana sendirian? Bahaya lho!”

Baca juga: G A Y A T R I

Aku mendongak mencari sumber suara. Kutangkap sosok dengan penampilan mencolok: betapa tebalnya riasan, betapa minimnya pakaian, begitu meriahnya perhiasan. Sekian detik aku tak berkutik. Bahkan mungkin aku tak menyadari, mulutku sampai setengah menganga. Sosok itu mengerjapkan mata, menunggu jawaban dari lawan bicara.

”Justru kau yang terlihat mencurigakan!” keluhku dalam hati. Aku tetap berdiam diri dan berniat mengayunkan langkah kembali.

”Dik, kok diam saja sih, ih! Ayo aku antar saja ya, tinggal bilang mau ke mana.”

Aku mulai dihinggapi rasa ngeri. Kulirik ia sedang sibuk merapikan rambut panjang bergelombangnya sembari mematut diri. Aku pun tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Segera kuambil langkah seribu. Dia pun tampak kaget kemudian menjerit berseru. Aku tetap berlari secepat mungkin menjauh darinya. Tapi dia tetap ngotot mengejarku rupanya. Aku mengenakan sandal jepit, dia memakai stiletto yang bisa membuat tumit sakit. Aku sedikit berlega karena kusangka tak akan mampu ia menyusulku dengan dress seksi dan sepatu setinggi sepuluh senti. Dugaanku meleset. Kakinya memang jelas lebih panjang dariku dan stiletto itu kelihatan tak membuatnya lecet. Sejurus kemudian, dia sudah berada di sampingku, mencengkeram lenganku.

”Ya ampun, Dik! Kenapa lari sih, aku kan jadi ngos-ngosan gini, make up juga luntur deh!”

”Tolong, saya ngga punya apa-apa. Lepasin saya ya, M— Mba?”

”Hush! Ngga perlu panggil Mba. Panggil saja aku Rana,” ujarnya sembari mengulurkan tangan. Nailart di kukunya mengerling ditimpa percikan lampu jalanan.

Tentu saja aku masih ragu untuk menerima perkenalan dari orang asing dalam pertemuan singkat yang aneh. Namun entah mengapa, ada daya tarik yang begitu kuat pada sosok itu. Seperti tak diberi pilihan, aku pun menjulurkan tangan. ”Ranti,” jawabku pelan.

”Nah, Ranti. Kebetulan tadi aku lewat sini dan melihatmu berjalan seorang diri. Kawasan sini itu rawan. Bahaya. Lebih baik kuantarkan sampai kamu tiba di tempat tujuan. Seka–– ”

”Saya tidak punya tujuan dan tidak perlu diantar,” tukasku datar.

Senyum tersungging di bibirnya yang merah menyala. Ia hanya menatapku dengan mata laksana bara. Memancarkan sihir yang membuatku tak berdaya. Pada menit berikutnya, aku menurut mengikutinya tanpa kata-kata.

***

Rana seorang perancang busana. Tak main-main, ia bahkan sudah sering melanglang buana.  Fashion show-nya sampai ke mancanegara. Bakat yang luar biasa. Tekad yang menggelora. Tak pernah kulihat orang yang punya semangat dan daya juang seperti Rana. Semua kesuksesan yang dicapainya semata-mata karena hasil kerja kerasnya. Rana tak pernah berhenti berusaha, meski sebagian orang kerap kali memandangnya dengan sebelah mata.

Aku pun sadar, ada jurang menganga yang memisahkan dunia Rana dan duniaku. Berbeda dengan Rana yang selalu menggebu-gebu, aku selalu bersikap pesimistis dan tak pernah menganggap ada yang berharga dalam hidupku. Aku tak punya kemampuan atau keahlian di bidang tertentu. Aku tak punya keluarga yang mendukungku. Tak punya kawan atau sahabat yang sedia hadir di setiap waktu. Hanya Rana, dialah orang pertama yang berhasil mengubah cara pandangku.

Suatu ketika, Rana mengajakku menghadiri pameran busana di Ibu Kota. Aku ikut menunggu di backstage saat Rana sedang mempersiapkan model-modelnya. Entah mengapa, aku merasa setiap wajah yang memandangku selalu memancarkan raut tak biasa. Mata mereka seolah menelanjangiku dari kaki hingga kepala. Sejurus kemudian aku pun sadar kalau aku begitu berbeda. Mereka, model-model Rana, seluruhnya bertubuh ramping berkaki jenjang berparas ayu bak boneka. Seketika aku merasa seperti itik buruk rupa.

Aku sedang terisak di sudut yang gelap saat tangan Rana menepuk pundakku dari belakang. Ia pun lantas menggamit lenganku, mengajakku ke suatu ruang. Di tengahnya ada sebuah dressform dengan gaun berwarna biru terpajang.

”Pakailah.” Rana tersenyum.

”Aku tak pantas mengenakan pakaianmu.”

”Mengapa? Aku sengaja membuatnya untukmu. Kamu muse-nya.”

”Aku bukan model-modelmu. Aku tak pantas menjadi muse.”

Rana kembali tersenyum mendengar jawaban dariku. Ia melepas gaun dari dressform dan menyodorkannya padaku. Melalui isyarat mata, ia menyuruhku segera memakai gaun itu. Ajaib, selalu saja aku tak bisa berkutik jika mata kami beradu. Seperti terhipnotis, aku mulai melepas pakaian yang melekat di tubuhku. Sementara Rana duduk di sofa sembari menunggu. Aku mulai mengepas gaun itu. Ketika tahu aku kesulitan menjangkau bagian ritsleting, Rana pun menghampiriku untuk membantu. Jemari Rana yang halus menyentuh punggungku. Tiba-tiba kurasakan sebuah getaran yang hampir membuatku membeku. Aku masih terdiam saat Rana menarik lenganku. Menuju sebuah cermin besar yang kini terpampang di hadapanku.

”Lihat, cantik sekali.” Rana merunduk dan menyandarkan dagunya di bahuku.

”I—i-iya. Cantik sekali gaunmu.” Aku tersenyum kaku.

”Hmh, bukan gaunku. Kamu!” Aku menggeleng perlahan. Rana menghela napas, kemudian melanjutkan percakapan.

”Kamu itu cantik, Ranti. Cobalah lebih terbuka pada dirimu sendiri. Belajarlah mencintai apa yang Tuhan telah berikan padamu. Tak setiap orang seberuntung kamu. Terlahir sebagai perempuan yang cantik...,” Rana kembali menghela napas. ”Berhentilah membandingkan dirimu dengan orang lain.” Aku menatap Rana melalui cermin dan mata kami kembali bertemu. Aku segera membalikkan tubuhku dan membenamkan wajah ke pelukan Rana sembari tersedu.

***

Satu pekan berlalu tanpa kabar darinya. Rasa ini makin membuncah di dada.

Dua minggu yang lalu, Rana pamit untuk menggelar pertunjukan busana di Pulau Dewata. Aku sendiri tengah melanjutkan kuliah sambil bekerja paruh waktu di sebuah waralaba. Karena itu, aku tak bisa bebas mengikuti Rana bepergian seperti sebelumnya. Biasanya, sesibuk apa pun Rana selalu menyempatkan diri untuk menyampaikan cerita. Entah melalui telepon, pesan singkat, ataupun obrolan di social media. Tapi, sudah seminggu ini aku tak mendapat kabar darinya. Terakhir, Rana mengirimiku pesan lewat WhatsApp dan lampiran sebuah foto dirinya bersama beberapa pria. Tadinya kupikir mereka model-model Rana. Tapi, tampak Rana merangkul mesra salah satunya. Entah mengapa, dadaku terasa sesak saat melihatnya. Aku menafikan rasa, menyangka itu hanya karena aku hanya takut kehilangan Rana. Sebagai temanku satu-satunya. Namun, tak sepatutnya aku bersikap egois apalagi membuat Rana kecewa. Aku tak berhak mengusik kehidupan pribadinya. Aku pun memutuskan tak membalas pesan terakhir Rana...

Drrrrrttttt...drrrrrrrrrrtt...drrrrrrttttttt...

Lamunanku buyar oleh getar ponsel yang kuletakkan di atas meja. Aku segera meraihnya. Sebuah nama terpampang di layar muka. Telepon dari Rana!

 ”Halo, Ran! Kamu dari mana saja? Kenapa belum pulang? Maaf aku tak membalas pesanmu waktu itu. Aku... Aku hanya tak ingin mengganggumu. Apa kamu masih marah padaku?”

Tak ada jawaban.

”Halo... Ran? Rana? Kamu di mana? Halo... Ran? Jawab, please...”

”Lagi di mana?”

Suara pria. Aku tak segera menjawabnya. Aku mencoba mencerna suaranya sembari menerka-nerka. Rasanya tak pernah kudengar suara itu, meskipun Rana...

Crek...crek... Crek...crek...

Kudengar ketukan dari balik daun jendela. Aku pun berlari membuka pintu dengan segera.

”Rana!”

Angin mati. Sunyi. Aku menoleh ke kanan kiri. Tak ada siapa pun di sini. Kudekatkan ponsel ke telinga kembali. Panggilannya sudah mati. Kuhubungi balik nomor Rana berulang kali. Tak ada jawaban sama sekali. Yang tak kumengerti, aku sungguh merasakan kehadiran Rana di sini. Bahkan hidungku masih bisa menangkap aroma Rana yang khas, parfum melati buatannya sendiri. Terlebih, hanya ada satu orang yang punya kebiasan mengetukkan kuku ke jendela seperti tadi. Rana, tak mungkin yang lain lagi.

***

Lampu jalanan berpendar temaram. Kini hampir pukul sembilan malam. Aku berjalan tergopoh-gopoh menuju stasiun sebelum kereta terakhir lewat. Di belakangku, sebuah mobil hitam melaju lambat. Aku sendiri tidak sadar sejak kapan mobil itu berada di belakangku atau kapan aku melewatinya. Beberapa lama kemudian mobil itu tetap melaju dalam kecepatan yang sama. Pemandangan yang menurutku sungguh tak biasa. Karena hampir semua orang di kota ini selalu tergesa-gesa. Entah mengapa hatiku pun dirundung gelisah. Terlebih suasana jalan yang mulai senyap membuat hatiku semakin gundah. Setengah berlari, aku pun terus mempercepat langkah.

Aku mulai lega saat stasiun kereta sudah mulai nampak di depan mata. Tiba-tiba, mobil itu mendahului kemudian berhenti. Sejurus kemudian kaca jendela dibuka, tampak seorang lelaki di balik kemudi. Sesaat aku memandang wajahnya yang rasanya pernah kulihat suatu kali. Ketika lelaki itu hendak mengucapkan sesuatu, mataku yang kebetulan sedang menyusuri sekeliling, mendadak menangkap sosok yang selalu mengusik mimpi.

”Maaf! saya sedang terburu-buru!”

Rana berdiri di tepi jalan, memandangku. Aku pun berlari menghampiri sembari menyungging senyum lebar di bibirku. Tapi Rana justru membalik badan dan menyeberang jalan. Sikap Rana tentu membuatku heran. Namun, kupikir itu karena Rana masih ngambek padaku. Aku berlari lebih cepat dan berteriak-teriak supaya Rana berhenti dan mau menunggu. Tapi, Rana tetap melangkah tanpa menoleh sekali pun. Tanpa sadar, aku sudah berada di depan stasiun. Rana sendiri tiba-tiba lenyap di tengah kerumunan calon penumpang kereta. Meski begitu, mataku masih tak berhenti mencari sambil terus memanggil namanya seperti orang gila. Sampai announcer mengumumkan bahwa kereta terakhir akan segera tiba. Aku pun terpaksa menyerah dan melangkah lesu menuju gate sambil menyeka peluh dan air mata.

***

Aku sudah di kampus sejak pagi pukul delapan. Untuk memenuhi janji dengan wakil dekan bagian kemahasiswaan. Sembari menunggu beliau hadir, kuraih sebuah surat kabar harian. Headline-nya sungguh membuatku penasaran. Sontak saja, jantungku berdegup tak keruan. Kalimat demi kalimat kubaca perlahan.

”Identitas mayat yang ditemukan tewas mengenaskan di tengah hutan dengan tangan dan kaki terikat lakban serta tubuh penuh luka tusukan kemarin akhirnya terungkap. Korban adalah Rama Wibawa alias Rana (29) yang merupakan perancang busana ternama. Dari kondisi mayat yang sudah membusuk, diperkirakan korban meninggal sejak sepuluh hari yang lalu.”

Napasku tertahan. Bulir-bulir air mata berhamburan. Tubuhku limbung dan aku jatuh pingsan.

***

Seminggu kemudian akhirnya polisi berhasil menangkap dua pelaku. Aku berusaha menahan geram saat akhirnya bisa bersemuka dengan dua durjana yang sudah melenyapkan Rana. Alangkah kagetnya ketika kupandang dua wajah yang tertunduk di balik jeruji. Seketika itu juga ingatanku menghamburkan imaji-imaji. Bak serpihan puzzle yang mulai menampakkan ujudnya. Memoriku meluncur bak pita kaset yang menampar-nampar kesadaran di kepala. Aku seperti melihat diriku menghapus foto Rana bersama beberapa pria. Aku melihat diriku yang menatap laki-laki itu di persimpangan jalan. Di muka gang, di depan pintu kontrakan, di dalam mobil berwarna hitam yang berjalan perlahan. Aku yang selalu merasakan kehadiran Rana bersamaan dengan munculnya sosok lelaki itu. Lelaki di balik jeruji itu. Lelaki dalam foto yang dikirimkan Rana padaku.

”Dasar jahanam! Kembalikan Rana! Kembalikan Rana padaku!!!” Tanganku merangsek masuk ke dalam jeruji dan menarik tubuh lelaki itu hingga beberapa kancing baju berwarna oranyenya terlepas dan menggelinding ke lantai. Beberapa polisi dengan sigap menarik tubuhku yang sedetik kemudian ambruk lunglai.

***

Melati memenuhi makam Rana yang basah usai diguyur hujan. Setiap aroma bunga-bunga kecil itu terhirup, air mataku selalu tercurah tanpa pertahanan. Aku memandang beku pada batu nisan yang mencantum tanggal kematian. Satu bulan berlalu sejak Rana meninggalkan dunia ini. Padahal aku merasa begitu yakin bahwa Rana benar-benar hadir tempo hari. Entah itu nyata atau halusinasi. Aku percaya ketulusan Rana abadi. (*)

 Kota Gandrung, Mei 2018

 *Ara Yamani, pegiat bahasa dan sastra Indonesia. Tinggal di Banyuwangi.

(bw/*/als/JPR)

©2022 PT. JawaPos Group Multimedia