Kamis, 02 Dec 2021
Radar Banyuwangi
Home / Cerpen
icon featured
Cerpen

Bagi Minak Jinggo, Cinta Adalah Pertempuran

Oleh: Emroni Sianturi*

15 November 2021, 13: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Bagi Minak Jinggo, Cinta Adalah Pertempuran

Emroni Sianturi

Share this      

SEBELUM pertempuran terjadi, benih-benih asmara mulai tumbuh dan menjalar ke dada Jaka Umbaran yang diam-diam menaruh hasrat kepada Dyah Ayu Kencana Wungu. Siapa yang tidak terpincut akan kejelitaan parasnya? Dapat kita duga dari sayembara yang diadakannya untuk menghabisi si sakti Kebo Marcuet di Blambangan.

Meratapi para pemuda yang dengan mudah dikalahkan oleh Kebo Marcuet, Jaka Umbaran mulai bersiasat serta menimbang. Dapatkan ia bersama pusaka gada wesi kuningnya menghabisi murid dari kakeknya? Ia pun jadi semakin yakin dapat memenangkannya. Karena, ”tidak akan mampu siapa pun yang dapat mengalahkanmu bersama gada wesi kuning itu”. Petuah itulah yang terus diyakini Jaka Umbaran menuju kediaman Kebo Marcuet, kemudian menantangnya duel dalam sayembara.

Pertempuran pun terjadi dengan dahsyat seolah tak ada yang mengira bahwa pertarungan bakal berlangsung lebih lama dari biasanya. Kebo Marcuet mulai kelabakan menghadapi seorang petarung yang sama kuatnya. Hingga pada puncak tetes darah mengalir, akhirnya Jaka Umbaran memenangkan pertarungan tersebut. Ia pun disambut dengan gembira oleh para penduduk Blambangan, sampai-sampai ia digelari Minak Jinggo yang gagah perkasa. Namun sial baginya. Pertempuran dengan Kebo Marcuet membuat fisiknya tak lagi seperti dulu. Rupanya jadi tak terkata, serta pada badannya seperti lelaki tua yang membungkuk.

Baca juga: Ilusi Luna

”Bukankah cinta adalah pertempuran? Dan fisik hanyalah sebatas pengecualian? Saya yakin Dyah Ayu akan menerima kemenanganku.”

Ia kembali menuju Keraton Majapahit. Dalam perjalanan, bayang-bayang Dyah Ayu memenuhi alam khayalnya. Selain bakal menerima persembahan menjadi Adipati Blambangan, ia bakal menjadi suami dari ratu Majapahit yang sangat ia damba. Begitulah harapan seorang pendamba, seakan khayalan dan kenyataan sama hasilnya.

Di hadapan Dyah Ayu Kencana Wungu, ia memamerkan gelar barunya, Minak Jinggo. Sembari malu-mau, ia pun mulai berterus terang dan menagih hadiahnya. Siapa yang sangka? Kenyataan memang tak sesuai dengan khayalannya. Dyah Ayu menjadi kecewa dengan hasil kemenangannya. Bukan karena kurang perkasa, lain hal ialah karena penampilan. Baginya, Jaka Umbaran atau yang kini dikenal dengan Minak Jinggo tak lagi setampan dulu. Maka Dyah Ayu hanya mempersembahkan padanya Adipati Blambangan dan pengecualian, suami.

Minak Jinggo pulang dengan penyesalan mendalam.

”Bukankah cinta adalah pertempuran? Saya tak akan menyerah semudah ini. Saya akan kembali. Sebab, cinta adalah pertempuran!”

Di sisa-sisa perjalan Minak Jinggo menambahkan. Ia akan memberontak!

***

Hari berlalu dan berlalu. Tiba waktunya api yang membara di dada semakin berkobar dan terus menjalari sel-sel di tubuhnya hingga memuncak di kepalanya. Pengkhianatan musti mendapat balasan, sekalipun ia seorang ratu. Perjalanan yang panjang pun ditempuh. Bersama ratusan prajuritnya ia siap memberontak ratu dan Majapahit.

***

Semilir angin yang sepoi dan kadang bergemuruh pada siang hari menerpa wajah Dyah Ayu yang berjalan di taman istana. Ada aroma yang lain, dan tentunya menimbulkan perasaan yang getir. Ia bertanya-tanya sendiri sembari memandang langit. Gumpalan awan tampak seolah hidup dan terus bergerak dari timur menuju barat. Lamat-lamat gumpalan awan berubah bentuk yang kadang besar dan mengecil. Beberapa dayang yang menemani ratu memilih diam, pun menjawab sekiranya tak membebaninya.

Perasaan Ratu Dyah Ayu memang tak dapat dibohongi. Tampak jelas dari raut wajahnya terlihat cemas. Dengan gegas, Dyah Ayu menuju istana memanggil Gajah Manguri yang diperintahkan untuk terus waspada, khawatirnya terjadi sesuatu yang tak diinginkan.

”Ampun, Ratu. Ada masalah sederhana di perbatasan Tapal Kuda Timur. Minak Jinggo yang tak lain adalah Jaka Umbaran memberi pemberontakan kecil. Ratu jangan khawatir. Para prajurit mampu mengatasi Minak Jinggo bersama pasukannya. Kabar yang hamba dapati, mereka sudah berbalik dan meninggalkan gulungan ini,” ujar Gajah Manguri.

Dia menghantarkan gulungan surat dari Minak Jinggo kepada Dyah Ayu. Dyah Ayu tampak bergidik menerimanya. Timbul dugaan-dugaan yang membuat perasaannya mulai kembali tak nyaman.

Setelah mendengar langsung isi gulungan yang dibacakan, Ratu Dyah Ayu Kencana Wungu kembali mengadakan sayembara, persis sekali dengan sayembara yang diadakan sebelumnya. Hadiah serta imbalannya juga sama. Sementara di lain tempat, Minak Jinggo kembali berkhayal di kedaton Blambangan.

”Cinta adalah pertempuran, Dyah Ayu. Saya telah mempersembahkannya. Tidakkah Anda dapat menerimanya?”

Sampai malam tiba dan berlalu bersama angan-angan, lalu pagi datang kembali mencipta khayalan. Tak ada balasan surat dari Dyah Ayu, malah yang datang para petarung menantangnya berduel hidup atau mati.

”Dyah Ayu, bila cinta memang menghadirkan pertempuran. Saya akan menghabisinya dan menghabisinya untukmu.”

Sejumlah petarung yang datang di kediaman Minak Jinggo berhasil dengan mudah dikalahkan. Bukan hanya babak belur, ada yang habis dan mati. Semua petarung yang datang bukanlah tandingannya. Ia seorang perkasa dengan pusaka gada wesi kuningnya.

”Dyah Ayu, tidakkah Anda mendengar keperkasaanku? Sayembara yang kembali Anda adakan hanyalah sia-sia! Cinta adalah pertempuran. Saya akan menghabisinya untukmu.”

Minak Jinggo semakin terbawa ke alam khayalannya. Tidak ia tahu bahwa Ratu Dyah Ayu Kencana Wungu berniat meniadakannya. Bukan hanya dalam hatinya, melebihi di dunia yang fana.

Sayembara yang terus berlangsung berhari-hari itu tak jua menemukan hasil yang lega bagi Dyah Ayu. Semua petarung yang mengikuti sayembara dihabisi dengan mudahnya oleh Minak Jinggo. Sampai suatu waktu, seorang lelaki dalam istana menghadap kepada Dyah Ayu dan memohon izin untuk mengikuti sayembara tersebut. Dyah Ayu mengizinkan dan melepasnya pergi ke Blambangan menuju Minak Jinggo. Dia adalah Damarwulan, seorang kusir kuda istana yang akan menumpas keperkasaan Minak Jinggo, serta angan-angannya tentang cinta yang katanya adalah pertempuran. (*)

Kalibuntu, 7 Oktober 2021

----------------------

*) Emroni Sianturi, lahir di Probolinggo, Jawa Timur, 06 Desember 1995. Bergiat di komunitas kamianakpantai.com. Sejumlah karya puisi, cerpen, dan esainya dimuat di berbagai media cetak maupun online, juga pernah diterbitkan dalam buku antologi bersama.

(bw/*/als/JPR)

©2021 PT. JawaPos Group Multimedia