Sabtu, 23 Oct 2021
Radar Banyuwangi
Home / Cerpen
icon featured
Cerpen

G A Y A T R I

Oleh: Rismatul Faizah

11 Oktober 2021, 12: 50: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

G A Y A T R I

Share this      

Ruang-ruang waktu menyiksaku dalam senyap yang berkepanjangan. Setiap mata yang menyilaukan yang selalu menyentuh ujung hatiku, memenuhi sumber air mata sebelum sempat menghuninya. Ada yang berniat singgah, namun tiba-tiba saja menghilang dilumat bumi. Datang membawa ruang rasa yang dipersembahkannya untukku. Ada yang langsung menolak dengan sopan setelah tenggelam dalam tatapanku. Di antara gelap yang berkepanjangan. Aku terpaku, tak mampu menolak tubuh dengan berbagai jenis birahi. Sinar bulan membawa para pemuja malam di antara ketakjuban sihir tubuh yang kumiliki.

Aku membeci malam yang mengikat janji dengan rembulan. Sinar yang menggambarkan ranting dengan beribu daun yang menumpangnya, manakala wajahnya hampir hanya seringai dingin. Gamelan dengan ruapan nuansa emas terjejer mempersembahkan baktinya, dia satu-satunya benda mati yang tak pernah mencibirku. Baginya, diriku istimewa, bersama caranya sendiri menikmati tubuh dengan sinar yang akan mengawini rasa sepi.

Aku tak pernah menginginkan menjadi seorang penari yang tersesat di tengah malam. Berdiri dengan tubuh setengah hidup, memakai mahkota kulit lembu dengan ragam pahatan, rumbai emas menutupi tengkuk, dan untaian kembang goyang yang tumbuh berbalut logam. Bahkan, tak satupun orang akan peduli dengan omprog yang menutup kepalaku. Basahan yang akan membentuk lekuk liku tubuhku, sebuah hafalan yang konstan. Dan riasan boreh nuansa kuning emas sebagai lambang keagungan, untuk rasa nyaman dengan kecantikan yang diluapkannya.

Baca juga: Kemalangan Bermain Layang-layang

Seorang penari malam akan membawa diri dengan wibawanya, mata yang siap menyergap tiba-tiba. Sudah tertebak, tak peduli berapa pun tua yang melukiskan wajahnya. Dia seolah-seolah menjadi lebih muda karena terus dikunyah oleh birahinya. Tetesan keringat yang dihasilkan oleh irama gamelan, lenguh lesu yang menjadi hadiah setiap harinya. Bagi mereka, itu hanya desahan yang menyengat para lelaki pemuja di setiap malam. Tidak ada yang lebih menjengkelkan dari seorang pria, selain tatapan gagak lapar yang berangsur menggila.

Sepertinya cinta memang tak dapat berhubungan baik dengan pekerjaanku. Hubunganku yang cukup lama dengan seorang perjaka tinggi besar, berambut tampal, ikal mayang, yang panjangnya hampir menyamai seorang gadis. Hanya hubungan di luar pernikahan, tanpa pernah menyinggung pekerjaan yang mengikatku. Setelah beberapa kali matahari menenggelamkan diri, takdir yang sebenarnya baru dimulai. Begitu orang tuaku menginginkan pembicaraan yang serius, tentang pintanya membawaku secara sah di mata Tuhannya, wajahnya pucat manai dengan ketakutan yang menguasai.

”Aku akan lebih menghargai jika kamu mencari pekerjaan lain, tak lagi ada mata lelaki yang rakus.”

Suaranya dingin, menusuk rongga di jantungku. Terasa perih hingga berpeluh, melapis ke atas rongga kerongkonganku. Aku tak tahu pasti di mana letaknya, yang kutahu suara itu membunuhku perlahan. Mataku dirobek paksa, cinta tak pasti, membawa harapan besar setiap kali dibuainya dan melepasku tanpa mendapati jawaban apa pun.

’Mengapa harus aku? cahayanya yang kusimpan, ternyata hanya pamit sebagai sebuah akhir dengan sepi yang membawaku kembali pulang.’

Aku tak membuka katupannya. Kumuntahkan semuanya, tatapannya yang menusuk tulangku berulang kali. Tenggorokanku disumpal paradoks yang luar biasa. Andai, bisa kutukar khodam ini, agar tak ada lagi seseorang yang dibuat pucat, ketika siapa pun ingin membawaku.

Dia menguasaiku, membuatku tak sudi menolehnya dan langsung beringsut sambil menahan suara tangisan yang perlahan memberat. Tubuhku berdenyut dengan gumam tak jelas, kekecewaan beranak pinak sampai terdengar suaranya meminta maaf kepada orang tuaku dan pamitnya di depan kamarku. Suaranya diserap dinding-dinding kamar sebelum mulai merapatkan rasa sepi.

Khodam diwariskan secara turun-temurun dengan maksud membantu dan mendampingiku selama di dunia. Tapi sampai saat ini aku tak tahu pasti apa gunanya, selain menakut-nakuti setiap lelaki yang akan membawaku, pikirku sekelebat.

Sebelum pagi direbut oleh mentari, seketika kurasakan lagi ruang kosong dan tenang di kepalaku. Memaklumi setiap hunusan tingkah laku yang tidak sewajarnya. ’Dia tidak salah, siapa pun yang mencintai dengan tulus, akan bisa menerima sepenuhnya, bukan melarang dan meninggalkan tanpa mempertanggungjawabkan setiap cacat yang dibuatnya.’

Merelakan semua hilang ditelan waktu, dengan senyum ringan. Berurusan dengan takdir hidup nyatanya akan lebih mudah ketimbang dengan takdir dalam sebuah takdir.

Pepat, bulan menggantung diri di angkasa kelam. Aku akan menjual lemah gemulainya tubuhku, di hadapan mata-mata pekat. Meminta diselamatkan dari kegelapan yang enggan menenteramkan raganya. Mungkin aku tak dikenal dengan baik sebagai seorang perempuan, hanya aku, di antara mereka yang belum pernah merasakan melayang bersama malam pertama. Ruhku dihuni warna gelap meskipun kucoba membuka warna lain untuknya.

Dengan tarian bersama sampur merah, omprog, dan basahan, kubawakan di bawah malam dengan cahaya rembulan yang terbelah. Seketika seorang lelaki menghampiri, mencium ujung jariku dengan lembut dan meninggalkan desahannya di sana. Mengaitkan sampurku dan membawa ujung sampur mengikuti irama gamelan.

Aku tak pernah sejalan dengan khayalan, aku membencinya. Tetapi, malam ini kuanggap dia hanya khayalan tanpa harapan semesta. Lelaki itu memalingkan wajahnya di sampingku, misainya disapukan di telingaku dengan desahan khas lelaki menjantang.

”Kutunggu di dekat warung tegal.” Matanya seolah menungguku, di ujung persimpangan di depan pintu reyot dengan penerangan remang.

Aku diam tanpa balasan, tak menempatkannya dalam ruang harapan. Karena semua lelaki di malam apa pun akan sama, datang tanpa jawabannya. Malam mulai sepi, hampir menyesatkan. Terduduk di sampingku dan kudapati bau arak di mana-mana. Terus bergeser ke arahku dengan aroma tubuhnya yang membuatku gelisah. Pertengkaran batin yang hebat malam itu, atau mungkin semangatnya yang terlalu tinggi.

”Aku menyukai mata, apalagi tubuhmu.” Matanya menebak-nebak bagaimana aku bisa memiliki tubuh seperti ini, menghabiskan seluruh pandangannya padaku, lelaki berkepala tiga dengan hidung seperti dasun tunggal. Tapi kali ini dia kurang ajar, menggerakkan tangannya menyusuri tubuhku bagian belakang. Tubuhku tersentak, telingaku terus berdengung desis-desis tak beraturan dan spontan aku meninggalkannya.

Aku benar-benar takut bersuara dengan lelaki yang beristri, hanya akan menenteng masalah baru dengan teriakan yang menghunus kejam tanpa ampun. Seketika wajahnya padam, seperti mayat yang kehilangan kehangatan. Meski bertahun-tahun menjadi seorang penari, tak mampu mengubur kegamanganku tentang lelaki yang meminta lebih dari sekedar berkenalan dan saling membuang basi-basi, atau bahkan permintaan bertemu mata yang sama esok harinya. Aku hanya terpaku sebagai bentuk waswas terhadapnya.

Kerap sekali istri-istri dari beberapa lelaki itu berkumpul, berjubah hijau menutup auratnya dengan sempurna. Mata mereka memandangku bagai bangkai busuk yang tak tahu malu. Memandang rendah, mencibir, menghardik dengan suara lirih dan gaya yang dibuat-buat, ”Dia pasti memiliki jimat atau bahkan pandai bermain mantra untuk mengikat suami orang. Sayang sekali masih muda tapi hidupnya sudah berantakan.”

Hanya kulemparkan senyuman orang jahat atas istilah yang mereka berikan padaku, agar terus menambah kesan buruk dan mengungkapkan hal yang melegakan hatinya saat aku melintas membawa aroma busuk yang menekan hati tawajuhnya habis-habisan. Mereka tak memahami seutuhnya, bahkan sifat suaminya sekalipun. ’Anehnya sebuah hijrah hanya digunakan sebagai sampul untuk mendapatkan sebuah penilaian, tapi tidak dengan apa yang keluar dari mulutnya yang menghantam orang sekena-kenanya,’ seringaiku miris.

Kewajibanku hanya menikmatinya dengan intensitas yang sama. Lapisan tak bermakna yang membedakan pandangan setiap mata, mereka tak jauh mulia dariku. Kecerewetan yang menjengkelkan, merasa lebih berhak penuh daripada kedua orang tuaku.

Beberapa hari ini di Kacangan tertutup kabut kelabu, pepohonan basah berkuasa membentuk genangan berlumpur yang akan menjilat siapa pun yang berani menginjaknya. Langit tengah menangis sejadi-jadinya memohon persembahannya diterima oleh bumi. Hujan renyai yang sama setiap tahunnya. Sungai malar malam ini semakin penuh dibubuhi amarah yang hampir meluap. Di beberapa malam menyambut hujan pertama, desaku terus mencumbunya dengan ritual Takir Jenang sebagai bayaran atas dibunuhnya kemarau laknat.

Dua belas hari berturut-turut, berbagai tarian dan gamelan disuguhkan di depan Pura Luhur Giri Salaka sebagai bentuk tradisi menghormati turun-temurun. Aku bersiap dengan riasan yang tak seperti biasanya. Bunga tongkeng sebagai perumpamaanku, tumbuh liar namun tak membunuh aroma dan kecantikannya.

Lelaki berumur itu muncul dibawa oleh kabut samar di antara hujan renyai tanpa angin dan kerlap yang mengancam jantung. Dari bicara, kudengar sengau serak basah suaranya. Mata yang menguburku, mata yang menatapku tanpa suara. Aku paham makna senyuman yang menarik ke atas uratnya. Kali ini aku tak mampu menolaknya. Malam ini entah kenapa, memecahkan dada dan memacu jantung lebih cepat. Angin dengan tabrakan kejamnya membuat nafasku berat. Kepada ibu semesta alam, kau benar-benar mampu melahirkan lelaki yang membuatku jatuh cinta.

Penduduk desa bersenang-senang menikmati alunan gamelan, tarian, bahkan setiap doa yang diamalkan dengan bakaran menyan. Aku menggerakkan seluruh tubuhku tanpa melupakan kemolekan di hadapannya. Tak peduli hardikan macam apalagi yang akan menusukku, kutarik lelaki itu dengan sampur yang kukait di leher dan membawanya menari bersamaku. Dengan tatapan mata yang pekat, aku bisa mencium aromanya.

Hingga hal itu mengubah segalanya. Setelah malam panjang dengan cinta yang menghunusku, lelaki berumur itu menitipkan pesan pada orang tua yang bekerja sebagai pembersih pura suci di daerah Alas Purwa. Mengundangku dengan mengatasnamakan tari Bedaya dan penyucian Keris Bahari di rumahnya. Lelaki 40 tahun itu menungguku melayaninya dengan tarian bersama malam gulita, bahkan rela menunggu saat aku sedang sibuk menghadiri sebuah tanggapan di desaku.

”Aku selalu mengingatmu setiap malam, karena malam membawamu padaku. Ya, kamu dan malam adalah cintaku.”

Aku tak sanggup berkata, hanya termenung tak memercayainya. Saat melihatnya berbaring dan kuterawang kata-katanya aku tak lagi merasa dijerumuskan oleh khodam yang membawaku dalam pekerjaan ini. Aku percaya ia tak akan menjerumuskanku di sumur yang sama.

Setelah berburu air mata dan kesedihan, aku sadar niatku bukan bahagia bersama manusia yang tak berkeputusan. Khodam sebagai pencetus keputusan tanpa menyesatkanku di sebuah malam gelap. Dia adalah keberuntungan yang tak akan kulepaskan. Bahkan, aku tak mempermasalahkan keinginannya meniduriku tanpa sebuah alasan yang memberatkan hatiku. Aku tak menolak hubungan sebelum pernikahan, karena kupikir tak ada yang lebih membuatku gemetar dan dan berkeringat dingin selain digerayanginya dengan nafsu.

***

Menapakkan kaki di atas bumi yang menguasai diriku, sepasang mata selalu melihatku keheranan. Gerak tarian indah bertempat di jiwa, keberuntungan membawaku bertemu dengannya. Waktu dan jantung yang berirama, setiap langkah bahkan nafas selalu menarik sepasang mata dan tenggelam di antara harapannya bersamaku. Para penabuh gamelan menyampaikan bunyi merdunya pada bulan yang menggantung diri, agar sampai di langit dan didengar para penghuni surga.

Wanita cantik dengan tariannya yang mengahiri malam dengan paksa, dan membawakan bayangan semu bagi siapa pun yang berani menikmatinya. Ragu bahkan tak bernyali untuk mendekatiku, seluruh tubuhku bergerak menari bersama irama seperti tanpa tuan. Lelaki paruh baya selalu menilik dengan mata yang begitu kesakitan memintaku membawanya pulang. Tanpa peduli isak tangis istrinya yang meranggas setelah tak kembali disambut jejakan di atas tubuh seorang lelaki.

Tak pernah kulingkari sebuah tanggalan untuk menentukan jatuhnya nasib baik. Kuperintah angin untuk mengikatmu sebagai sebuah pendulum. Di sebuah malam yang mencerca harapan, pada sebuah hujan yang tak kunjung reda. Dalam kondisi kering kusam, aku berjanji tak akan berharap lagi pada manusia. Beri aku restu atas niat menguasai semuanya, agar tak ada lagi ketakutan tentang pergi tanpa sekelebat kabar kepulangan yang melegakan hati.

Segelas darah segar, setumpuk kembang setaman, dupa, kunyit mentah, bengle, dan digagahi oleh kelapa gading sebesar tempurung bayi. Mataku terpejam, meramalkan setiap mantra. ’Kau sudah memiliki jalan di hatiku, kumohon menetaplah dan pilih apa yang kau ingingkan dari tubuh ini.’ Dia akan hidup dengan hanya satu jantung bersamaku. Melahirkan kembali cahaya terang di setiap nuansa menjelang gelap. Aku tahu kau akan memintaku membayarnya dan sebelum itu, kau harus menggantinya dengan hal yang setimpal.

”Sun matek ajiku si setan kober, kang katempuh guo garbone wolak waling ing jantung atine, krik krik sikile yen ketemu turu tangekno, yeng ketemu tangi jagakno, yen ketemu jagong adekno turut katut lutut sakarepku.”

Disenyapkan malam, dibisukan kelabu, dikejapkan bayangan semu. Mengunyah suruh merah dengan penghantar khodam, silir angin keheningan yang mengentak memenuhi rongga dada. Kau hidup bersamaku, ikat kau dengan hati dan jiwaku. Jangan buat ego berteman dengan air mata, kau harus tinggal bersamaku dengan membawa para lelaki baru. Mungkin mereka bukan impian nyata di tengah sesatnya malam, paling tidak kau membawaku memenuhi keinginan dengan janji yang tak hilang dan mati, sebelum kau minta aku sebagai gantinya.

Dengan poso mutih, poso pati geni berdiam diri di sebuah ruangan yang pepat dan gelap, lebih gelap dari bayangan yang mengikutiku dan hanya boleh mengisinya dengan doa. Malam Selasa Kliwon, membawa sesajen dengan dupa yang mengepulkan asap di atasnya. Menyematkan malam sebagai khayalan tentang iblis dan setan yang akan membawaku, nafasku menjadi lebih berat serasa disesakkan oleh penghuni yang tak menampakkan diri. Membelah hutan bambu demi bersemadi di dalam Gua Mayangkoro, suatu tempat elok yang menyusu di hutan Jawa Alas Purwo. Demi menguatkan sukma dan semua keinginanku dengan puasa ngableng tiga hari penuh. Dalam ruangan yang akan diselimuti asap dupa tebal yang memenuhi tiap lorongnya.

Membaca banyak mantra setiap malam, terbit fajar bahkan saat senja hampir lenyap berteman bayangan dan sosok lain di dalam tubuhku. Demi dihampiri ruh suci laduni yang berkuasa atas tubuh dan pikiranku. Dan mengakhiri semadi dengan menyucikan diri di sumber air tawar Pantai Triangulasi, laut yang dikuasai ratu selatan dengan kembang tujuh rupa disaksikan bulan yang tengah telanjang.

Mengikat janji dalam satu tubuh yang sama, tak akan meninggalkan salah satunya kecuali tertagih janjimu. Malam-malam yang pepat hanya diisi denyutnya nadi. Tak akan ada lagi pengunjung terahir, mereka membuat hidupku menjadi lebih panjang dari sebuah jengkalan. Kuikat semuanya dengan janji timbal balik atas bayaran raga seisinya sebagai kesepakatan.

Seperti cahaya menyilaukan yang muncul dari angkasa, entah seperti apa bentuknya. Seorang wanita mengelusku dengan selendangnya, membisukanku, dan membuat ingatan tentang Gua Mayangkoro malam itu. Meninggalkanku dengan suara yang mengiang, ”aku akan membawamu sebagai gantinya.”

***

Melewati malam dengan bulan yang tak lagi menangisi alam raya. Tanpa menghindar dari gulita, saat menjelang tarianku yang akan membakar hati para lelaki. Khodam mengembaraku melewati malam pepat dengan waktu yang selalu menyimpan rapat misterinya. Sungguh mungkin mereka membuatku terlena, membuatku tak mengerti alasan hidupku untuk menjadi seorang penari yang tersesat di setiap malam. Pada suatu hujan di satu senja, lelaki itu datang mejemputku dengan cinta yang menembusku seperti angin. Aku bisa merasakannya dengan nyanyian sendu di antara sengau nafas hujan. Mengakhiri tiap malam dengan tarian terindah dan hal yang lebih dari sekadar pelukan. Dengan janji yang akan membawaku dalam hidupnya, aku pepat dan mataku memberat. Kesepian yang selalu menjadi Tuhan di setiap malamnya. Hidupku bukan lagi milikku, aku tak memiliki daya dan upaya lagi untuk menguasainya.

Kukira dia hanya bayangan semu sama seperti lainnya. Aku melanggar janji dengan ruh dalam tubuhku. Tentang hidup dengan semua mimpi di dalamnya, aku mencintaiku dan tarianku. Di setiap geraknya memberiku sebuah ruang untuk bernafas. Dengan masa lalu kelam yang membawaku sampai saat ini, mengingat setiap langit merah dengan hunusan cahaya yang membunuhku berulang kali. Sampai seseorang dengan cahaya menyilaukan datang lagi di sebuah malam dengan menagih janji atas kesepakatan dan ingkaran janjiku. Dia membawa ragaku tapi tidak tubuhku, membiarkan aku hidup dalam tarian yang lahir bersamaku. Menyambut kembali hujan dan suara petir dengan lantunan gamelan untuk tarian semesta. Khodam tak pernah melanggar janjinya, bahkan atas permintaanku hidup kekal dengan tarianku. Aku tak lagi membutuhkan cahaya karena telah kutukar dengan tempat di mana tak satu pun mampu melihatnya.

Bawa aku menukar kisah di atas langit, akan kuceritakan tentang seorang penari malam dengan air mata yang pernah menjadi hidupnya. Atau kau boleh mendengarnya pada tanah lapang dengan sebuah makam berbatu nisan. Pergilah, berjalanlah kembali, sampai ketika kau berjumpa denganku di ujung senja pada sebuah masa. (*)

Keterangan

a.               Gayatri : hantu perempuan berpakaian Jawa dan berselendang, dipercaya sebagai penjaga kerajaan jin terbesar di Alas Purwa.

b.              Khodam : pendamping yang berasal dari ilmu leluhur yang diturunkan kepadanya.

c.               Desa Kacangan : desa yang terselip lebatnya Alas Purwa yang minim penerangan.

d.              Pura Luhur Giri Salaka : pura sakral di daerah Alas Purwa, berbahan batu bata yang akan membuat siapa saja yang mengambilnya akan sakit keras.

e.               Omprog : mahkota hiasan kepala yang digunakan penari gandrung.

f. Basahan : rangkaian pakaian gandrung terdiri dari kemben, ilat-ilat, pending, gelang cintin, sembrong, oncer, dan kipas.

g.              Sampur : sehelai selendang yang ujungnya diberikan rumbai-rumbai warna kuning emas yang dikalungkan dileher dan berjuntai kebawah.

h.              Borehan : bedak basah berwarna kuning dan harum.

i.  Keris bahari : keris bertuah.

j.  Bunga Tongkeng : tumbuhan merambat yang panjang dan bunganya sangat harum berwarna kuning.

k.              Tradisi Takir Jenang : jenang yang diwadahi daun pisang maknanya adalah taqwa dan dzikir atas nikmatnya

l.  Puasa ngableng : puasa untuk menguatkan sukma selama tga hari penuh.

m.          Puasa mutih : puasa dengan hanya makan nasi dan minum air putih saja.

------------------------

*Rismatul Faizah, lahir di Banyuwangi, 07 Oktober 2000. Mahasiswa PBSI FKIP Universitas Jember. Beralamat di Kopen, Genteng Kulon, Banyuwangi

(bw/*/als/JPR)

©2021 PT. JawaPos Group Multimedia