Sabtu, 23 Oct 2021
Radar Banyuwangi
Home / Cerpen
icon featured
Cerpen

Ilusi Luna

Oleh: Komala Sutha

09 Oktober 2021, 15: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Ilusi Luna

Komala Sutha

Share this      

Berita Terkait

LEWAT tengah malam, Luna gelisah di atas pembaringan. Tubuhnya sesekali menghadap dinding, sesekali telentang. Matanya tak terpejam. Bukan hanya itu, hatinya mendadak tak nyaman.

Sekarang tubuh Luna membelakangi dinding, malah memunggungi yang tengah lelap dibuai mimpi. Suaminya tak merasakan ada yang tengah gelisah. Ruang kamar yang gelap. Tiktak jarum detik berbunyi dari jam dinding di atas pintu kamar, menemani dada Luna yang mendadak bergemuruh. Luna menghela napas panjang. Ia juga tak mengerti apa yang membuatnya gelisah. Dicobanya membayangkan sesuatu yang indah.

Rumah tangga bersama Hardi menginjak sepuluh tahun. Telah memiliki anak yang cantik. Luna baru dua tahun menjadi pegawai negeri ketika dinikahi Hardi, lelaki rupawan, usaha lelaki itu pun terbilang sukses. Gaji Luna hanya seujung kuku penghasilan Hardi. Bila dibandingkan, gaji Luna sebulan sebanding dengan pendapatan Hardi dalam sehari. Dalam hal harta, Luna cukup makmur. Ia pun memiliki beberapa rumah kontrakan di sejumlah tempat. Sementara rumah yang kini baru mereka tempati dua bulan, sebelumnya tinggal di rumah yang lain.

Baca juga: T U B I N

Luna ingin rumah yang tak terlampau besar, bahkan terkesan mungil, yang penting tak jauh dari tempat dinasnya. Suaminya rajin mencari uang. Meski sudah menjadi juragan, namun tak manja. Bakda subuh usai salat, ia melaju ke tempat usahanya. Hari ini ke tempat usaha yang satu, esoknya ke tempat usaha yang lain. Begitu setiap hari kecuali Minggu. Pulang ke rumah sekitar pukul satu siang. Sembari menanti Luna kembali dari kantor pukul empat, Hardi biasanya rebahan di kursi panjang ruang tengah rumahnya. Ditemani air kopi yang panas mengepul asapnya buatan Fatimah, asisten rumah tangganya yang telaten. Sementara anak satu-satunya santai di kamarnya yang berada di lantai atas. Fatimah pun dengan siaga, setia melayani anak majikan.

Sekembali Luna, Fatimah pun sudah siap pulang ke rumahnya. Luna tak mau punya asisten rumah tangga yang menginap. Makanya ia mencari dari tempat yang tak jauh biar bisa bolak-balik. Ia ingin tenang setelah berada di rumah, hanya dengan suami juga anak semata wayangnya. Tanpa ada orang lain di antara mereka bertiga.

Malam larut dan sepi, merangkak tak terasa. Luna menghela napas kembali, kali ini lebih panjang. Hatinya masih tak nyaman. Kegelisahan terus menderanya entah tersebab apa. Akan ada apakah sebenarnya? Tak sadar bibirnya bergerak, gumamnya keluar pelan. Suaminya terjaga. Lalu matanya terkuak, tangannya meraba-raba pada sosok yang berbaring di sebelahnya.          

”Lun… kau sudah bangun?” tanya Hardi sembari mengusap-ngusap matanya.

”Aku tak bisa tidur…” ucap Luna pelan.

”Kenapa? Tak seperti biasanya…” Hardi merasa heran.

Luna tak menjawab. Mulutnya mengatup. Lalu pura-pura menjemput kantuk. Diam. Bibirnya tak bergerak sedikit pun. Tak ada suara. Begitu pun Hardi. Latah. Terdiam. Lelaki itu pun tertidur kembali. Pulas lagi, dengkur halusnya terdengar, namun pukul tiga kurang seperempat jam terjaga. Tampak terperanjat. Luna yang sebenarnya belum mengantuk, melirik sedikit dalam gelapnya ruangan. Hardi beranjak dari pembaringan. Ke kamar mandi yang terletak di dalam kamar. Swuuuurrrr terdengar suara air dari shower. Beres mandi. Keluar. Membuka lemari usai menghidupkan lampu. Luna merasa aneh dengan tingkah suaminya yang tak seperti biasanya. Sebelumnya, bakda subuh usai salat baru bersiap-siap. Begitu terus selama sepuluh tahun. Namun kali ini....

”Mas terburu-buru, Lun. Ada urusan penting. Jadi, harus pergi dari sekarang. Mau ke luar kota. Sudah janji.” Begitu ucapan Hardi seolah membaca pikiran istrinya.

Luna tak menyahut.

”Coba tidur setelah Mas pergi, ya? Pasti bisa.”

Tak ada dialog lagi. Luna mengikuti Hardi yang beranjak ke luar kamar, menuju ruang depan, membuka pintu lain. Kemudian melangkah ke arah garasi. Perlahan mobil melaju meninggalkan rumah setelah Luna mengunci pintu garasi.

Luna kembali ke dalam rumah. Masih tercium aroma parfum yang tadi dipakai Hardi. Perasaannya kembali tak nyaman. Lagi-lagi didera gelisah. Rasa kantuk kian menghilang.

”Tidur ya, cobain tidur… tak apa-apa walau sekejap juga, biar tubuhmu segar pagi-pagi, kan kau harus ngantor,”   pesan Hardi masih terdengar di telinganya ketika tadi berbincang sebentar di garasi. Sebelum Luna menutup pintu garasi.

Sejenak Luna mematung di ruang tengah, hingga kemudian kakinya melangkah secara tiba-tiba dan cepat. Ke ruang depan. Lampunya dimatikan. Tubuhnya menyentuh kaca jendela, matanya mengarah ke timur seberang jalan. Rumah yang berada agak di atas. Mungkinkah Hardi akan datang ke rumah itu setelah menyimpan dulu mobil di tempat yang agak jauh? Mendadak melintas di pelupuk matanya. Pikiran yang aneh. Teramat buruk. Tak biasanya suaminya pergi dini hari meski dengan alasan apa pun. Ini untuk yang pertama kalinya selama mereka hidup bersama sebagai suami istri. Selama mengarungi bahtera rumah tangga.

Mata Luna menatap lekat pada atap rumah itu. Lalu ada yang melintas lagi. Tak jelas. Namun yang melintas terlampau mengganggu pikirannya dan menghalangi pandang matanya. Tampak bayangan samar, berkolaborasi dengan khayalan namun seolah nyata. Sekitar dua puluh menit serasa di alam yang tak disadarinya. Kedua kakinya nyaris tak mampu bertumpu. Dadanya seketika berdegup keras ketika matanya menangkap bayangan tubuh yang sangat ia kenal mendekati rumahnya. Bayangan itu nyaris meloncat ke atas pagar yang tak tinggi. Setelah berada di taman halaman yang tak luas, lalu berjalan berjingkat seperti maling. Langkahnya benar-benar tak terdengar padahal bersepatu. Berjingkat di teras rumah. Beberapa kali. Tak menyadari ada dua pasang mata yang menyaksikan dengan sangat jelas dari dalam rumah. 

Dada Luna bergemuruh—ketika raga yang mengintai perempuan yang disangkanya telah tidur pulas di atas pembaringan semula— terlihat meloncat ke luar pagar lalu berjalan hati-hati ke timur ke seberang jalan. Menuju rumah itu. Jelas dalam pelupuk mata Luna. Bukan bayangan. Bukan khayalan atau rekaan. Menaiki tangga. Suara sepatunya mendadak terdengar keras sekali membelah sunyinya malam. Satu dua tiga. Deg, dada Luna berdetak tak karuan. Empat, lima, enam. Luna tak mampu menahan dadanya yang bergemuruh dan saling terjang. Enam tangga berhasil dinaiki. Luna menggigit bibir bawah, berusaha keras menahan yang menggelepar dalam dadanya juga menahan hatinya yang tiba-tiba teriris bagai disayat sembilu. Tubuhnya yang dibalut piyama nilon basah keringat dalam dinginnya udara dini hari yang sebelumnya begitu menggigil. Terasa panas. Tujuh, delapan, sembilan….

Hardi sudah sampai di teras rumah itu. Lampu luar di situ tiba-tiba mati. Gelap. Seperti ada yang memberi simbol dari dalam rumah itu. Barangkali sudah janjian sebelumnya, begitu pikir Luna. Perempuan itu! Luna ingin memekik namun ditahannya. Ya, perempuan itu! Yang hidupnya menyendiri. Perempuan yang usianya dua tahun lebih tua dari Luna. Tak begitu cantik hanya perawakannya menggiurkan lelaki. Fatimah!

Dada Luna tak bisa diajak kompromi. Berubah berpacu bertalu-talu. Lalu naik turun. Sesak. Tiba-tiba tak mampu bernapas seperti habis berlari sejauh ribuan kilometer. Kakinya bergegas melangkah sedikit berjingkat, masuk ke dalam garasi. Mendorong pintunya. Bunyi pintu yang terbuat dari besi kualitas paling bagus, membelah sunyinya dini hari. (*)

Bandung Barat, 22 Oktober 2019

 --------------------

*) Komala Sutha lahir di Bandung, 12 Juli 1974. Menulis dalam bahasa Sunda, Jawa, dan Indonesia. Tulisannya dimuat dalam sejumlah koran dan majalah. Buku tunggalnya yang telah terbit novel ”Separuh Sukmaku Tertinggal di Halmahera” (MujahidPress, 2018) dan kumpulan cerpen ”Cinta yang Terbelah” (Mecca Publishing, 2018).

(bw/*/als/JPR)

©2021 PT. JawaPos Group Multimedia