Selasa, 25 Jan 2022
Radar Banyuwangi
Home / Cerpen
icon featured
Cerpen

Para Pemuja Jalasuci

Cerpen karya AHMAD ZAINI

09 Januari 2022, 09: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Para Pemuja Jalasuci

AHMAD ZAINI

Share this      

Jelang magrib Selagede berselimut kabut. Jarak pandang terhalang. Pepohonan besar dan menjulang tak terlihat daun-daunnya. Warung-warung di sepanjang jalan hanya terlihat kerlip lampunya. Tak terlihat jelas para lelaki yang ongkang-ongkang kaki menikmati kopi. Bara di ujung rokok juga tak tampak. Hanya tawa kekeh mereka yang terkadang timbul-tenggelam terdengar bergantian dengan bunyi tonggeret mengiris senja.

Suwiryo duduk di teras warung. Dia mengibas-ibaskan butir air gerimis di topi. Dia melepas kedua sepatu. Secara bergantian Suwiryo mengangkat pelindung kaki untuk mengusir air yang sempat bersarang. Setelah itu, kedua kaki diangkat dan dilipat di atas kursi panjang sebuah warung.

Lelaki berbadan kurus ini merogoh tas kecil yang diselempangkan di pinggang. Dia mengambil rokok yang tinggal sebatang. Suwiryo meminjam korek api pemilik warung. Tak lama kemudian asap mengepul setelah lelaki ini menyulut ujung rokok. Tak sempurna merokok tanpa kopi. Dia pun memesan segelas kopi ke penjaga warung. Secangkir kopi disuguhkan oleh pelayan sekaligus pemilik warung. Suwiryo secara bergantian menikmati kopi dan rokok yang menurutnya wajib ada dalam kondisi gerimis dan berkabut ini.

Baca juga: Pertempuran 3 Jam di Betulu

Petirtaan Jalasuci yang berada di kawasan Selagede menjadi tujuan kedatangan Suwiryo. Dia bertekad untuk melakukan perjalanan jauh dengan sepeda motor ke tempat tersebut untuk mencari kedamaian jiwa. Suwiryo berencana menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Terutama permasalahan keluarga yang sedang memenuhi batok kepalanya. Istri Suwiryo mengajukan tuntutan cerai karena dia dianggap sebagai suami yang gagal. Dia tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga karena tidak memiliki mata pencaharian lagi. Suwiryo menjadi korban pemecatan perusahaan karena dampak pandemi korona.

Ayah dari dua anak ini mendapat kabar Jalasuci dari seorang teman. Menurut temannya, Petirtaan Jalasuci merupakan tempat yang bisa menjadi solusi dari permasalahan hidup yang sedang melilit. Hati Suwiryo semakin yakin saat temannya menyampaikan ada perubahan hidup setelah dari Jalasuci. Jiwa lebih tenang daripada sebelumnya. Semua kebutuhan hidup terpenuhi.

Suwiryo sempat bingung. Dia bimbang dengan cara yang dilakukan oleh temannya. Meski sekarang ini dia dalam posisi terjepit, Suwiryo tidak serta-merta menuruti anjuran temannya. Suwiryo pernah menimba ilmu di pesantren. Dia pernah mengaji pada Kiai Ahmad. Dia teringat bahwa perbuatan memohon dan memuja selain kepada Tuhan merupakan perbuatan syirik atau menyekutukan Tuhan. Dosanya tidak akan terampuni meskipun dia bertobat sampai kaki bengkak dan mengeluarkan air mata darah.

”Tidak apa-apa, Wir. Ini satu-satunya jalan agar kamu tidak menjadi pesakitan dalam keluargamu. Dalam keadaan darurat, apa pun boleh dilakukan,” kata temannya.

Sejak itulah Suwiryo memutuskan berangkat ke Petirtaan Jalasuci. Dia ingin melakukan ritual sebagaimana yang dituturkan oleh temannya itu.

”Jalasuci masih jauh, Bu?” tanya Suwiryo pada pemilik warung Selagede.

”Sudah dekat, Mas. Tinggal dua kilometer lagi,” jawab perempuan berdaster itu sambil mengarahkan jari telunjuk ke Jalasuci.

Suwiryo bergegas bangkit. Dia merogoh saku celananya. Lembaran uang kertas lima ribu rupiah disodorkan ke penjual kopi. Setelah itu, dia melajukan sepeda motor menyusuri jalan menanjak ke arah Jalasuci.

***

Remang cahaya lampu terhalang kabut malam yang semakin tebal. Sorot mata Suwiryo tak mampu menembus ketebalan kabut. Tapak demi tapak jalan dilalui Suwiryo dengan berbekal perasaan dan kira-kira. Aroma mistis mulai terasa. Bau dupa menyengat hidung. Undakan jalan menuju petirtaan terus memaksa kaki Suwiryo memijakinya. Tak lama kemudian, gemericik air pancuran sayup terdengar di telinga lelaki yang ingin menata hidup ini.

Sesampai di pelataran Jalasuci, Suwiryo bersiap melakukan ritual. Mula-mula Suwiryo menggelar tikar kecil yang diambil dari dalam tas. Kemudian dia merogoh kembang tujuh rupa dari kantong plastik. Tangan kanannya menabur kembang itu ke permukaan air di petirtaan. Kecipak aneka ikan yang memangsa bunga-bunga itu menandakan ritual akan dimulai. Beberapa batang dupa ditancap Suwiryo di sela-sela bebatuan. Dia menyulut ujung dupa dengan korek warung kopi yang lupa dikembalikan kepada pemiliknya.Wangi dupa menyeruak lalu menembus bulu hidung. Suwiryo duduk bersila. Dia memejamkan mata. Pikirannya fokus maksud pada kekuatan gaib yang dipujanya. Jiwa Suwiryo perlahan terbang terbawa asap dupa ke alam yang belum pernah ia kenal.   

Jiwa Suwiryo tak lagi bersarang di raga yang bersila di tepi petirtaan. Jiwanya kini berada di alam bawah sadar. Tepatnya di sebuah pasebanan raja yang dikelilingi dayang-dayang dan prajurit.

”Prajurit, persilakan lelaki itu masuk,” perintah raja. Dua orang prajurit membukakan pintu pasebanan agung lalu mengawal Suwiryo menghadap raja.

”Siapa namamu dan apa keperluanmu datang kemari?” tanya raja denga suara menggema.

”Saya Suwiryo. Saya sedang dilanda kesulitan ekonomi. Saya menganggur karena didepak oleh perusahaan tempat saya bekerja. Istri saya menuntut cerai karena saya dianggap lelaki tak berguna. Lelaki yang tidak bisa membahagiakan istri dan anak-anak,” jawab Suwiryo.

”Kamu sudah tahu syarat yang harus kaupenuhi apabila permintaanmu kukabulkan?”

”Belum. Saya belum tahu sama sekali.”

”Kau sudah telanjur masuk istanaku. Kau akan kusumpah menjadi pengikut dan harus memenuhi semua permintaanku. Setiap malam purnama kau harus tinggal di sini bersama istrimu. Kau harus melakukan persembahan dengan beberapa sesajen. Sasejen purnama pertama adalah anak pertamamu,” pinta raja yang seram itu.

”Aku bersedia menjadi pengikutmu, namun sesajen purnama pertama mohon diganti dengan yang lain,” tolak Suwiryo.

”Tidak bisa ditawar. Kau harus memenuhi semua yang kuminta. Anak pertamamu tetap jadi sesajen purnama pertama.”

”Lebih baik aku mati daripada anak pertamaku kau jadikan sesajen,” tegas Suwiryo yang menolak anaknya dijadikan wadal.

Mendengar ucapan Suwiryo, raja yang bercambang lebat dan bermata lebar itu murka. Wajahnya membara. Kedua telinganya bak mengeluarkan api. Dia berdiri lalu menghampiri Suwiryo hendak membunuhnya.

Suwiryo tidak mau mati sia-sia di jalan sesat yang telah ditempuhnya. Dia berusaha melarikan diri dari terkaman raja berhati iblis itu. Usaha pelarian Suwiryo sempat dihalangi beberapa prajurit yang menjaga gerbang. Dengan segala upaya Suwiryo mampu menerobos barisan para prajurit.

Di tengah usaha menyelamatkan diri, Suwiryo bertemu dengan sosok yang tidak jelas rupanya. Sosok bercahaya putih itu berdiri di depannya.  

”Jangan takut. Tenanglah. Aku akan menolongmu,” katanya.

Lelaki yang sedang dirundung masalah ini duduk meringkuk di depan sosok bercahaya putih. Dia sangat berterima kasih kepadanya. Sosok bercahaya putih yang berdiri terpat di depan Suwiryo mengusap kepala Suwiryo. Dia merasakan betul usapan tangan sosok bercahaya putih. Jiwanya dingin dan ringan. Tak lama kemudian jiwanya terbang keluar dari tempat tersebut.

Jasad Suwiryo yang duduk bersila di pinggir petirtaan Jalasuci bergerak-gerak. Suwiryo tergeragap. Dia pun mengakhiri ritualnya yang tidak sesuai dengan harapannya. Dia membuka mata pelan-pelan. Dia tidak sadar ternyata perjalanan ritualnya berlangsung sehari, dari malam sampai malam lagi. Dia bersyukur karena diselamatkan sosok bercahaya putih dari angkara murka raja iblis petirtaan.

Warung-warung di sekitar petirtaan sepi. Tidak ada percakapan atau pemujaan orang-orang di sekitarnya. Dia hanya melihat beberapa bekas alas duduk dan abu sisa dupa. Suwiryo berdiri. Dia meninggalkan tempatnya bersila selama sehari. Ketika Suwiryo baru melangkahkan kaki kanannya, dari kejauhan terdengar suara angin ribut. Terdengar pula jeritan manusia yang muncul bergantian dengan suara angin. Suara angin itu semakin lama semakin mendekat. Suwiryo bergegas lari meninggalkan tempat itu. Dia berlindung di teras warung yang di dalamnya ada beberapa orang yang berlindung.

Hempasan angin semakin kencang. Suaranya bergemuruh. Ranting dan dahan pohon banyak yang patah. Beberapa atap warung mengelupas. Atap yang terbuat dari seng dan asbes itu beterbangan terbawa pusaran angin. Kekuatan angin yang bertenaga seperti raksasa itu juga mencabut pohon besar yang berusia ratusan tahun. Pohon itu tumbang kemudian menimpa warung tempat Suwiryo dan orang-orang berlindung.

Seketika itu suasana senyap. Tidak terdengar rintih atau jerit orang-orang di bawahnya. Mereka meregang nyawa tertimpa pohon tempat memuja dan menyajikan sesajen dalam setiap ritual.

Lima menit berlalu. Jalasuci porak-poranda oleh amukan angin. Warga yang selamat datang ke lokasi untuk mencari para korban. Mereka menemukan lima orang korban tertimpa pohon yang dikeramatkan para pemuja. Salah satu korban adalah Suwiryo. Dia yang berusaha memperbaiki nasib hidupnya terhadang ajal. Keinginannya pupus direnggut amukan angin yang sekaligus melenyapkan hidupnya.

Orang-orang di sekitar Suwiryo miris. Mereka berempati pada kehidupan Suwiryo. Hidupnya tragis. Dia meregang nyawa ketika ingin memperbaiki nasib hidup keluarga dengan caranya.  (*)

Wanar, 3 Desember 2021

---------------

*) Ahmad Zaini, guru di SMKN 1 Lamongan. Beberapa cerpen dan puisinya pernah dipublikasikan di berbagai media cetak dan online. Selain itu, karya-karyanya juga terbukukan dalam antologi tunggal dan komunal. Buku kumpulan cerpennya Lorong Kenangan memenangi lomba GTK Creative Camp (GCC) 2021.

(bw/*/als/JPR)

©2022 PT. JawaPos Group Multimedia