25 C
Banyuwangi
Tuesday, November 29, 2022

Zawawi Imron Bedah Buku Antologi Puisi 

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Diskusi dan bedah buku Antologi Puisi Banyuwangi Memanggil dengan Puisi di auditorium Untag 1945 Banyuwangi berlangsung gayeng kemarin (28/10). Buku berisi 100 lebih karya puisi itu dibedah oleh penyair ASEAN D. Zawawi Imron dan budayawan Iqbal Baraas yang dipandu Samsudin Adlawi, sastrawan Banyuwangi.

Bedah buku kemarin diwarnai dengan peluncuran buku puisi Rahim Suci Bunda Sri Tanjung karya Samsudin Adlawi. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Hasan Basri, Wakil Rektor III Untag 1945 Banyuwangi Yusmia Widiastuti, dan ratusan undangan dari kalangan mahasiswa serta budayawan.

Buku Banyuwangi Memanggil dengan Puisi diterbitkan oleh Dewan Kesenian Blambangan yang berisi lebih dari 100 puisi. Puisi dalam buku tersebut merupakan kumpulan karya dari 85 penulis muda Banyuwangi. Karya puisi tersebut lebih dulu dikurasi oleh Samsudin Adlawi dan Fatah Yasin Noor.

Ketua DKB Hasan Basri mengungkapkan, melalui buku tersebut dia berharap penulis bisa lebih mengembangkan tulisannya. Selain itu mempunyai obsesi yang lebih besar untuk bisa memberikan karya yang lebih baik. ”Kalau ingin mengharumkan nama daerah belajarlah dari penyair ASEAN Zawawi Imron,” kata Hasan.

Baca Juga :  Setelah Pomo Martadi, Kini Armaya

Menurut  Hasan, dengan menjadi penyair yang baik, nama seseorang akan dikenang oleh seluruh masyarakat. Kelak semua akan tahu karya indah seseorang tersebut dan akan selalu mengalir terbawa generasi. ”Menjadi penyair tidak salah. Karya mereka selalu terbaca dan itu menjadi sajak indah,” tuturnya.

Budayawan Banyuwangi Iqbal Baraas menambahkan, antologi puisi berjudul Banyuwangi Memanggil dengan Puisi merupakan bentuk konsistensi dari perjalanan sastra di Banyuwangi. Dari kumpulan puisi tersebut banyak temuan berbagai proses kreatif yang bisa dijadikan bahan diskusi dengan berbagai pendekatan. ”Baik dramaturgi, proses kreatif, atau pun pendekatan kultural dan sosiologi,” jelas budayawan asal Genteng itu.

Buku antologi puisi tersebut dicetak sejak Oktober 2021 dan baru diekspos ke publik tahun 2022. ”Sebuah puisi makin jarang dibaca, makin berbahaya rasa pukaunya. Seperti sulap, makin jarang diatraksikan, makin mahal nilainya. Dan, itu serasa dirindukan,” ujar Iqbal.

Penyair ASEAN Zawawi Imron menjelaskan, jalan puisi memang tidak ada yang lurus. Kalimat puisi harus berliku-liku. Tidak ada kalimat puisi yang diciptakan dengan kalimat yang lurus begitu saja. ”Hanya kalimat shiratal mustaqim yang artinya harus lurus dan benar-benar istiqomah,” bebernya.

Baca Juga :  Guru SDN 3 Kaliploso dan SDN 5 Benculuk Daftar Liga Puisi

Belajar dari perjalanan sebuah puisi, hidup tidak harus lurus dan tegak begitu saja. Setiap manusia harus konsisten dan memiliki hati yang indah. Terutama hati, memiliki keindahan yang pasti setiap manusia merasakan tanpa harus dijelaskan. ”Banyak sekali perumpamaan hidup seperti puisi. Meskipun rumit, namun memiliki arti yang begitu indah,” ujar sang penyair Celurit Emas asal Sumenep tersebut.

Ditanya tentang buku puisi Rahim Suci Bunda Sri Tanjung, Zawawi menilai sangat bagus. Dia baru pertama kali membaca buku puisi karya Samsudin Adlawi tersebut. Bahasa dalam puisi tersebut begitu indah. Kalimatnya begitu mendayu dan memikat para pembaca. ”Melalui karyanya, Samsudin Adlawi menyampaikan rasa cintanya terhadap puisi. Dia menggambarkan rasa cintanya terhadap Banyuwangi. Kami patut memberikan apresiasi,” pujinya. (cw5/aif/c1)

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Diskusi dan bedah buku Antologi Puisi Banyuwangi Memanggil dengan Puisi di auditorium Untag 1945 Banyuwangi berlangsung gayeng kemarin (28/10). Buku berisi 100 lebih karya puisi itu dibedah oleh penyair ASEAN D. Zawawi Imron dan budayawan Iqbal Baraas yang dipandu Samsudin Adlawi, sastrawan Banyuwangi.

Bedah buku kemarin diwarnai dengan peluncuran buku puisi Rahim Suci Bunda Sri Tanjung karya Samsudin Adlawi. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Hasan Basri, Wakil Rektor III Untag 1945 Banyuwangi Yusmia Widiastuti, dan ratusan undangan dari kalangan mahasiswa serta budayawan.

Buku Banyuwangi Memanggil dengan Puisi diterbitkan oleh Dewan Kesenian Blambangan yang berisi lebih dari 100 puisi. Puisi dalam buku tersebut merupakan kumpulan karya dari 85 penulis muda Banyuwangi. Karya puisi tersebut lebih dulu dikurasi oleh Samsudin Adlawi dan Fatah Yasin Noor.

Ketua DKB Hasan Basri mengungkapkan, melalui buku tersebut dia berharap penulis bisa lebih mengembangkan tulisannya. Selain itu mempunyai obsesi yang lebih besar untuk bisa memberikan karya yang lebih baik. ”Kalau ingin mengharumkan nama daerah belajarlah dari penyair ASEAN Zawawi Imron,” kata Hasan.

Baca Juga :  Maestro Mengajar, Bupati Ikut Menari Bersama

Menurut  Hasan, dengan menjadi penyair yang baik, nama seseorang akan dikenang oleh seluruh masyarakat. Kelak semua akan tahu karya indah seseorang tersebut dan akan selalu mengalir terbawa generasi. ”Menjadi penyair tidak salah. Karya mereka selalu terbaca dan itu menjadi sajak indah,” tuturnya.

Budayawan Banyuwangi Iqbal Baraas menambahkan, antologi puisi berjudul Banyuwangi Memanggil dengan Puisi merupakan bentuk konsistensi dari perjalanan sastra di Banyuwangi. Dari kumpulan puisi tersebut banyak temuan berbagai proses kreatif yang bisa dijadikan bahan diskusi dengan berbagai pendekatan. ”Baik dramaturgi, proses kreatif, atau pun pendekatan kultural dan sosiologi,” jelas budayawan asal Genteng itu.

Buku antologi puisi tersebut dicetak sejak Oktober 2021 dan baru diekspos ke publik tahun 2022. ”Sebuah puisi makin jarang dibaca, makin berbahaya rasa pukaunya. Seperti sulap, makin jarang diatraksikan, makin mahal nilainya. Dan, itu serasa dirindukan,” ujar Iqbal.

Penyair ASEAN Zawawi Imron menjelaskan, jalan puisi memang tidak ada yang lurus. Kalimat puisi harus berliku-liku. Tidak ada kalimat puisi yang diciptakan dengan kalimat yang lurus begitu saja. ”Hanya kalimat shiratal mustaqim yang artinya harus lurus dan benar-benar istiqomah,” bebernya.

Baca Juga :  Fakultas Pertanian & Perikanan Untag Banyuwangi Gelar Seminar Edufarm & Coffee

Belajar dari perjalanan sebuah puisi, hidup tidak harus lurus dan tegak begitu saja. Setiap manusia harus konsisten dan memiliki hati yang indah. Terutama hati, memiliki keindahan yang pasti setiap manusia merasakan tanpa harus dijelaskan. ”Banyak sekali perumpamaan hidup seperti puisi. Meskipun rumit, namun memiliki arti yang begitu indah,” ujar sang penyair Celurit Emas asal Sumenep tersebut.

Ditanya tentang buku puisi Rahim Suci Bunda Sri Tanjung, Zawawi menilai sangat bagus. Dia baru pertama kali membaca buku puisi karya Samsudin Adlawi tersebut. Bahasa dalam puisi tersebut begitu indah. Kalimatnya begitu mendayu dan memikat para pembaca. ”Melalui karyanya, Samsudin Adlawi menyampaikan rasa cintanya terhadap puisi. Dia menggambarkan rasa cintanya terhadap Banyuwangi. Kami patut memberikan apresiasi,” pujinya. (cw5/aif/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/