25 C
Banyuwangi
Tuesday, November 29, 2022

Gandrung Sewu Jadi Salah Satu Event Paling Spektakuler

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Seribu lebih penari gandrung beraksi. Tak sekadar menyuguhkan keindahan gerak tari dan teatrikal, mereka juga menghadirkan nuansa kebahagiaan serta semangat bangkit dari pandemi Covid-19.

Ya, salah satu event spektakuler dalam balutan Banyuwangi Festival (B-Fest) 2022, yakni ”Gandrung Sewu” digeber di Pantai Boom, Sabtu (29/10) sore. Ada 1.200 peserta dalam event kebanggaan masyarakat Bumi Blambangan ini. Mereka terdiri dari 1.100 penari gandrung, 40 penabuh gamelan, dan 60 pemain teatrikal.

Berbekal selendang merah serta kipas warna merah dan putih, mereka tampil allout di hamparan pasir pantai nan landai. Gandrung Sewi kali ini menyuguhkan tema ”Sumunare Tlatah Blambanganyang bermakna Kilau Bumi Blambangan.

Baca Juga :  Banyuwangi Fishing Festival Diikuti 432 Pemancing Se-Indonesia

Bupati Ipuk Fiestiandani mengatakan, event yang digelar sejak 2012 itu, bisa menjadi momentum untuk membangkitkan kembali pariwisata Banyuwangi. ”Sebagaimana instruksi Bapak Presiden, semuanya diminta untuk berwisata di dalam negeri demi menjaga perekonomian bangsa. Untuk itu, kita perlu juga menyambut instruksi tersebut dengan baik. Salah satunya dengan menggelar event wisata yang terbaik,” ujarnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi M.Y. Bramuda mengatakan, tema Sumunare Tlatah Blambangan diangkat sebagai spirit Banyuwangi bangkit seusai menghadapi pandemi. ”Ini sesuai dengan tagline yang dicetuskan oleh Bupati Ipuk, yakni Banyuwangi Rebound,” kata dia.

Inspirasi tersebut berangkat dari kisah Banyuwangi semasa masih menjadi kawasan Kerajaan Blambangan. Kala itu, kerajaan dilanda wabah. Bahkan, sang putri raja bernama Dewi Sekardadu, terjangkit. Tak seorang pun mampu menyembuhkan. Hingga nanti datang seorang ulama bernama Syekh Maulana Ishak ke Blambangan. ”Kedatangan Syekh Maulana Ishak yang berhasil menyembuhkan wabah di Blambangan inilah yang menjadi fragmen utama dalam Gandrung Sewu kali ini,” papar Bramuda.

Baca Juga :  Duluuuurrr...Kemiren Juara II Desa Wisata Nasional

Sementara itu, pelatih tari gandrung Suko Prayitno menuturkan Gandrung Sewu tahun ini lebih mengusung suasana bahagia atau gembira. Maknanya lebih pada penggambaran berkurangnya kasus Covid-19 di Banyuwangi. ”Sebelumnya kita susah karena adanya Covid-19. Gandrung Sewu tahun ini mewakili situasi di masyarakat yang berbahagia karena Covid-19 mulai mereda,” pungkasnya. (sgt/bay/c1)

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Seribu lebih penari gandrung beraksi. Tak sekadar menyuguhkan keindahan gerak tari dan teatrikal, mereka juga menghadirkan nuansa kebahagiaan serta semangat bangkit dari pandemi Covid-19.

Ya, salah satu event spektakuler dalam balutan Banyuwangi Festival (B-Fest) 2022, yakni ”Gandrung Sewu” digeber di Pantai Boom, Sabtu (29/10) sore. Ada 1.200 peserta dalam event kebanggaan masyarakat Bumi Blambangan ini. Mereka terdiri dari 1.100 penari gandrung, 40 penabuh gamelan, dan 60 pemain teatrikal.

Berbekal selendang merah serta kipas warna merah dan putih, mereka tampil allout di hamparan pasir pantai nan landai. Gandrung Sewi kali ini menyuguhkan tema ”Sumunare Tlatah Blambanganyang bermakna Kilau Bumi Blambangan.

Baca Juga :  Cerita Watudodol Versi Kiai Semar hingga Buyut Jakso

Bupati Ipuk Fiestiandani mengatakan, event yang digelar sejak 2012 itu, bisa menjadi momentum untuk membangkitkan kembali pariwisata Banyuwangi. ”Sebagaimana instruksi Bapak Presiden, semuanya diminta untuk berwisata di dalam negeri demi menjaga perekonomian bangsa. Untuk itu, kita perlu juga menyambut instruksi tersebut dengan baik. Salah satunya dengan menggelar event wisata yang terbaik,” ujarnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi M.Y. Bramuda mengatakan, tema Sumunare Tlatah Blambangan diangkat sebagai spirit Banyuwangi bangkit seusai menghadapi pandemi. ”Ini sesuai dengan tagline yang dicetuskan oleh Bupati Ipuk, yakni Banyuwangi Rebound,” kata dia.

Inspirasi tersebut berangkat dari kisah Banyuwangi semasa masih menjadi kawasan Kerajaan Blambangan. Kala itu, kerajaan dilanda wabah. Bahkan, sang putri raja bernama Dewi Sekardadu, terjangkit. Tak seorang pun mampu menyembuhkan. Hingga nanti datang seorang ulama bernama Syekh Maulana Ishak ke Blambangan. ”Kedatangan Syekh Maulana Ishak yang berhasil menyembuhkan wabah di Blambangan inilah yang menjadi fragmen utama dalam Gandrung Sewu kali ini,” papar Bramuda.

Baca Juga :  BCE Kembali Digelar, Dimeriahkan Belasan Tarian

Sementara itu, pelatih tari gandrung Suko Prayitno menuturkan Gandrung Sewu tahun ini lebih mengusung suasana bahagia atau gembira. Maknanya lebih pada penggambaran berkurangnya kasus Covid-19 di Banyuwangi. ”Sebelumnya kita susah karena adanya Covid-19. Gandrung Sewu tahun ini mewakili situasi di masyarakat yang berbahagia karena Covid-19 mulai mereda,” pungkasnya. (sgt/bay/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/