alexametrics
23.4 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

Larung Sesaji Di Plawangan Muncar

MUNCAR, Jawa Pos Radar Genteng – Para nelayan yang tinggal di pesisir Pantai Muncar, menggelar ritual petik laut, kemarin (24/8). Hanya saja, tradisi yang selalu digelar setiap 15 Suro kalender Jawa atau 15 Muharram penanggalan Islam itu, tahun ini digelar secara sederhana karena pandemi Covid-19.

Puncak petik laut yang digelar para nelayan itu, ditandai dengan larung sesaji ke tengah laut. Sebelumnya, banyak digelar aneka kegiatan seperti tirakatan dan pengajian di sejumlah tempat ibadah. “Biasanya banyak acara, kali ini kita gelar secara sederhana,” terang wakil ketua panitia Petik Laut Muncar, Sihat Aftarjo.

Menurut Sihat, sesaji yang akan dilarung dalam ritual petik laut ini, dibawa perahu berukuran mini atau gitik. Sebelum dibawa ke tengah laut, gitik sesaji dengan panjang sekitar dua meter itu oleh nelayan diarak keliling kampung dengan finis Pelabuhan Muncar. “Dalam petik laut ini, intinya berdoa bersama,” ujarnya.

Gitik sesaji itu, terang dia, berisi berbagai macam hasil laut, hasil bumi, jajan pasar, dua ekor ayam yang masih hidup, dan kepala kambing dengan pancing yang terbuat dari emas seberat dua gram yang dikaitkan di lidah. “Tahun ini gitik dibuat lebih kecil, menyesuaikan dengan kondisi,” katanya.

Dalam petik laut ini, masih kata dia, setelah gitik sesaji diarak keliling kampung, langsung ditaruh di kapal slerek dan dibawa ke tengah laut. Puluhan kapal selerek, garden, dan jukung milik nelayan yang biasa dibuat mencari ikan, mengikuti kapal slerek pembawa sesaji dibelakangnya. Semua kapal dan perahu, dihias dengan ornament indah dan dilengkapi sound system. “Panitia membawa dua penari gandrung,” terangnya.

Setelah iring-iringan kapal pembawa gitik sesaji sampai di selatan Tanjung Sembulungan, atau berjarak sekitar 15 kilometer dari Pelabuhan Muncar, gitik sesaji dilarung ke tengah laut. Bersamaan dengan itu, sejumlah nelayan ikut menyebur ke laut dan berebut sesaji. “Hanya makanan dan buah yang boleh diambil, selebihnya harus dilarung,” cetusnya.

Tidak hanya berebut sesaji di laut, para pemilik kapal dan nelayan mengambil air laut di sekitar tempat pelarungan menggunakan ember, dan disiramkan secara mereta di seluruh bagian kapal dan perahu. “Itu dipercaya sebagai pembersih kapal dan perahu dari tolak balak,” ungkapnya.

Di tengah laut itu, para nelayan juga menyampaikan doa bersama atas melimpahnya tangkapan ikan. Dan mereka berharap seluruh nelayan di Muncar terhindar dari bahaya saat melaut. “Kami juga berdoa agar Covid-19 segera berakhir, dan petik laut di tahun depan bisa digelar secara besar-besaran lagi,” harapnya.

MUNCAR, Jawa Pos Radar Genteng – Para nelayan yang tinggal di pesisir Pantai Muncar, menggelar ritual petik laut, kemarin (24/8). Hanya saja, tradisi yang selalu digelar setiap 15 Suro kalender Jawa atau 15 Muharram penanggalan Islam itu, tahun ini digelar secara sederhana karena pandemi Covid-19.

Puncak petik laut yang digelar para nelayan itu, ditandai dengan larung sesaji ke tengah laut. Sebelumnya, banyak digelar aneka kegiatan seperti tirakatan dan pengajian di sejumlah tempat ibadah. “Biasanya banyak acara, kali ini kita gelar secara sederhana,” terang wakil ketua panitia Petik Laut Muncar, Sihat Aftarjo.

Menurut Sihat, sesaji yang akan dilarung dalam ritual petik laut ini, dibawa perahu berukuran mini atau gitik. Sebelum dibawa ke tengah laut, gitik sesaji dengan panjang sekitar dua meter itu oleh nelayan diarak keliling kampung dengan finis Pelabuhan Muncar. “Dalam petik laut ini, intinya berdoa bersama,” ujarnya.

Gitik sesaji itu, terang dia, berisi berbagai macam hasil laut, hasil bumi, jajan pasar, dua ekor ayam yang masih hidup, dan kepala kambing dengan pancing yang terbuat dari emas seberat dua gram yang dikaitkan di lidah. “Tahun ini gitik dibuat lebih kecil, menyesuaikan dengan kondisi,” katanya.

Dalam petik laut ini, masih kata dia, setelah gitik sesaji diarak keliling kampung, langsung ditaruh di kapal slerek dan dibawa ke tengah laut. Puluhan kapal selerek, garden, dan jukung milik nelayan yang biasa dibuat mencari ikan, mengikuti kapal slerek pembawa sesaji dibelakangnya. Semua kapal dan perahu, dihias dengan ornament indah dan dilengkapi sound system. “Panitia membawa dua penari gandrung,” terangnya.

Setelah iring-iringan kapal pembawa gitik sesaji sampai di selatan Tanjung Sembulungan, atau berjarak sekitar 15 kilometer dari Pelabuhan Muncar, gitik sesaji dilarung ke tengah laut. Bersamaan dengan itu, sejumlah nelayan ikut menyebur ke laut dan berebut sesaji. “Hanya makanan dan buah yang boleh diambil, selebihnya harus dilarung,” cetusnya.

Tidak hanya berebut sesaji di laut, para pemilik kapal dan nelayan mengambil air laut di sekitar tempat pelarungan menggunakan ember, dan disiramkan secara mereta di seluruh bagian kapal dan perahu. “Itu dipercaya sebagai pembersih kapal dan perahu dari tolak balak,” ungkapnya.

Di tengah laut itu, para nelayan juga menyampaikan doa bersama atas melimpahnya tangkapan ikan. Dan mereka berharap seluruh nelayan di Muncar terhindar dari bahaya saat melaut. “Kami juga berdoa agar Covid-19 segera berakhir, dan petik laut di tahun depan bisa digelar secara besar-besaran lagi,” harapnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/