Kamis, 02 Dec 2021
Radar Banyuwangi
Home / Budaya
icon featured
Budaya

Surat Dari Masa Depan

22 November 2021, 12: 21: 00 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

Surat Dari Masa Depan

Share this      

Novel karya Alvi Syahrin yang berjudul “Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-apa” merupakan buku yang berisi cerita-cerita pendek tentang bagaimana mengatasi masalah-masalah yang hadir di kehidupan. Novel ini menceritakan tentang kegelisahan terhadap masa depan.

Dimana realita kehidupan dimulai. Lulus dari SMA dan mulai sibuk mempersiapkan diri untuk lanjut ke perguruan tinggi negeri favorit, ada yang berhasil ada yang tidak. Terjebak gap year, lalu kehidupan masa kuliah. Tekanan harapan dari orangtua dan realita standar kehidupan dari orang-orang pada umumnya, masa pengangguran, mencari kerja, mulai bekerja, bosan dan mulai lelah dengan segala problematika yang menghampiri hidup kita.

Diawali oleh kisah seseorang yang dimulai pada usia 25 tahun, dimana diusia tersebut banyak orang lain diluar sana yang sudah sukses dengan pekerjaaan dan karirnya. Sayangnya, kita hanya tenggelam dan terjebak dengan satu keinginan yang tak kunjung terwujud, hanya impian biasa saat masih kecil yakni “Enak ya jadi dokter, bisa buka klinik, bekerja dirumah sakit, masa depan yang pasti terjamin.”. Kalimat tersebut hanyalah standart kesuksesan bagi masyarakat luar harus jadi dokter. Bersikap bodo amatlah pada standar-standar sukses yang dibuat oleh society dan media.

Baca juga: Maestro Mengajar, Bupati Ikut Menari Bersama

Surat Dari Masa Depan

Pada kenyataannya, sukses tidak hanya menjadi dokter, contoh nyata, Bill Gates, dia bukan seorang dokter, dia mendirikan Microsoft di tahun 1975 yang pada saat itu perkembangan teknologi belum semasif saat ini, Steve Jobs tidak terbangun dari tidurnya lalu berkata bahwa ia akan menemukan Apple, Jeff Bezos tidak tiba-tiba memutuskan untuk membangun Amazon suatu saat nanti, Jack Ma pun tidak dengan cepatnya berpikir bahwa ia akan menjadi sukses melalui Alibaba. Mereka semua sebenarnya sama seperti kita terlahir dari yang tidak tahu jadi apa-apa namun bedanya mereka dengan kita adalah mereka melakukan suatu hal yang baru dan menekuninya sedangkan kita tidak.

Gagal masuk universitas negeri, pasti ada hati yang sedang gelisah, rasa putus asa dalam hidupnya mulai menghantui apalagi saat membuka hasil pengumuman SBMPTN dan kita tahu bahwa nama kita tidak ada dalam daftar. Nafas panjang yang berat. Bahu yang merosot. Harapan yang meredup. Kecewa menyelimuti permukaan hati seperti mendung yang kelam. Tak semudah itu semangat kita dipatahkan, meskipun saat ditanya kuliah dimana kita tak punya jawaban keren seperti, “Aku kuliah di UGM” namun, tak semudah itu kita harus menyerah, masih ada harapan universitas swasta yang kualitasnya tidak kalah bagus dengan universitas negeri, ya memang biaya di universitas swasta lebih mahal.

Dari situ kita harus berusaha lebih giat. Buktikan bahwa, tanpa almamater universitas, kita bisa menjadi orang yang sukses. Semuanya harus berjuang, dan tak perlu khawatir bagaimana selanjutnya. Kita hanya perlu menjalaninya: berdoa dan berusaha, dan Allah yang akan menjamin segalanya.

Terkadang bukan hanya keadaan lingkungan sekitar saja yang kita ubah tapi diri kita juga butuh untuk berubah. Berubah untuk mencoba menjalankan semuanya dengan sungguh-sungguh dan maksimalkan usaha. Tak ada jurusan yang benar-benar tepat, we all are just trying to fit.

Yang terpenting dari itu semua adalah berdoa kepada Allah maha mengetahui lagi maha bijaksana.Hidup kita bukan hanya sebatas peringkat yang kita dapat dari sekolah, bukan sebatas almamater suatu universitas yang kita banggakan sewaktu kuliah, bukan gelar doctor/professor yang kita peroleh,dan deretan prestasi lain yang telah digapai, dan bukan hanya sebatas makan, tidur, bangun, menikah, punya anak dan menanti kematian.

Hidup tidaklah sesimpel dan seindah drama korea, namun hidup ialah waktu untuk kita terus bergerak dan berusaha mewujudkan yang terbaik, menggapai satu persatu mimpi-mimpi kita dengan sungguh-sungguh dan kita harus belajar biasa saja, tidak terlalu bahagia, tidak terlalu sedih, bersedih dan berbahagia boleh tetapi sewajarnya saja.

Novel ini mengajak kita untuk tidak selalu mengikuti standar kesuksesan yang digaungkan oleh masyarakat dan media. Pada dasarnya, kita semua pernah, sedang, dan akan menjadi apa-apa, hanya saja kita tidak tahu kapan waktu itu datang. Kita pernah menjadi seorang bayi yang menyenangkan hati orangtua kita. Kita adalah seorang anak yang berusaha berbakti kepada orang tua. Kita akan jadi orang tua yang cerdas dan bijaksana. Hidup bukanlah sebatas menjadi sukses dari sudut pandang dunia, tetapi sukses itu merasa cukup dan mampu memaknai setiap apa yang kita lakukan.

Novel ini disajikan dengan alur yang menarik sehingga membuat pembaca tidak bosan, selain itu, warna kertas yang diambil yaitu orange muda, setiap bab nya berganti dengan warna orange lebih tua dan disetiap awalan bab terdapat kalimat pembuka sehingga menambah poin plus tersendiri pada novel.

Meskipun dalam novel memiliki beberapa kelemahan, salah satunya yakni beberapa kalimat menggunakan bahasa inggris yang dimana tidak semua orang dapat mengerti dengan artinya, namun terlepas dari ketidak sempurnaannya, buku ini sangat menarik untuk dibaca oleh semua kalangan terutama kalangan muda yang sedang berjuang untuk menggapai mimpi dan merealisasikannya dan juga untuk semua kalangan yang ingin mengenang memori tentang perjuangan yang penuh lika-liku dan pengorbanan demi untuk menggapai kesuksesan.

(bw/ics/ics/JPR)

©2021 PT. JawaPos Group Multimedia