alexametrics
25.6 C
Banyuwangi
Thursday, August 11, 2022

Tiga Gending Terlewatkan, Penari Seblang Kembali Kesurupan

GLAGAH, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Rangkaian ritual adat Seblang kembali digelar di Balai Sanggar Seblang, Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah, Selasa siang (19/7). Gara-garanya, Supani, sang penari Seblang mendadak kesurupan, Selasa pagi (19/7).

Nenek berusia 72 tahun itu mendadak kerasukan saat sedang berbelanja di warung milik tetangganya. Saat itu, kedua tangan Mbah Supani memeragakan seolah sedang menggenggam keris. Tak pelak, kejadian itu langsung menarik perhatian warga Kelurahan Bakungan.

Sesepuh adat, pawang, ketua panitia Seblang dan Lurah Bakungan Agus Rahmanto langsung mendatangi kediaman Supani usai mendapat kabar tersebut. ”Kami dihubungi via telepon oleh pihak keluarga Mbah Supani, dan kami langsung datang ke sana,” ujar Ketua Panitia Pelaksana Seblang Bakungan Lukman Hakim.

Setiba di kediaman Supani, kondisi wanita yang sudah menjadi penari seblang selama lima tahun berturut-turut itu masih kesurupan. Setelah ditanya oleh Asri selaku pawang Seblang, ternyata leluhur yang merasuki Supani minta agar ritual adat Seblang kembali digelar karena ada tiga gending (lagu) yang terlewatkan dan belum dimainkan pada pergelaran Minggu malam (17/7).

Mendapati kondisi tersebut, Lucky—panggilan akrab Lukman Hakim, langsung bermusyawarah dengan sesepuh adat, tokoh masyarakat, dan Lurah Bakungan untuk menyelenggarakan kembali ritual Seblang. ”Kami bersepakat untuk menggelar kembali ritual tarian Seblang sesuai permintaan leluhur Seblang,” katanya.

Baca Juga :  Parade Maulid Naik Hand Tractor

Lucky menyebut, ritual adat Seblang yang diulang hanya pada ritual tariannya saja, tidak dimulai dari awal seperti nyekar, ider bumi, dan selamatan. Prosesi ritual tarian adat seblang akhirnya disepakati digelar Selasa siang (19/7) pukul 12.00 usai salat Duhur.

Heri Purwoko, salah satu tetua adat Bakungan menambahkan, gending (lagu) yang kurang saat ritual digelar pada Minggu lalu, yakni gending Surung Dayung dan Dongsrok. Dengan segala keterbatasan, akhirnya Seblang Bakungan digelar kembali. Saat itu, tangan Mbah Supani bergerak seperti mengajak ”roh leluhur” ke sanggar tari.

”Saya langsung memanggil sinden untuk melantunkan beberapa gending yang kurang, namun ternyata Mbah Supani yang sedang mengalami kerasukan itu tidak mau. Dia minta untuk digelar kembali di Balai Dusun Bakungan,” jelas Heri.

Beruntung, masih ada beberapa perlengkapan yang masih utuh sehingga masih bisa digunakan kembali. Tak ayal Balai Sanggar Seblang pun mendadak dijubeli penonton yang mayoritas adalah warga setempat.

Ubo rampe seperti pisang, kelapa, wanci suruh kinangan, kembang dermo/untaian bunga, tumpeng takir, boneka,caping/topi petani, cemeti, singkal (alat membajak  sawah), dan kelapa gading juga langsung disediakan. Ada juga tebu hitam dan sekar setaman. ”Kalau sesajinya sudah pas, hanya gendingnya saja ada yang tidak dimainkan. Jadi, minta agar tarian seblangnya kembali diulang,” timpal Asri, pawang seblang.

Baca Juga :  Jaring Bibit Pelaku Seni Peran lewat Festival Teater

Sejak awal tarian Seblang dimulai, imbuh Asri, Mbah Supani tampak tersenyum terus-menerus sampai acara berakhir dengan gending Erang-Erang. ”Ini salah satu bukti, jika ritual adat Seblang ini memang sakral. Tidak sembarangan, kurang tiga gending saja, harus kembali diulang,” jelas lelaki asal Lingkungan Watu Ulo, Kelurahan Bakungan ini.

Seblang Bakungan merupakan tarian yang dibawakan oleh wanita tua sembari memegang keris di kedua tangannya. Gerakan-gerakan magis membuat ritual ini menjadi tontonan menarik.

Penari Seblang Bakungan adalah Mbah Supani, seorang wanita berusia 72 tahun yang merupakan keturunan Mbah Misnah yang telah pensiun menjadi seblang 19 tahun yang lalu.

Dalam ritualnya, setelah dibacakan mantra dan doa, sesaat kemudian seblang langsung kerasukan roh dan menari mengikuti irama gending yang mengiringinya. ”Semoga Seblang Bakungan ini tidak hanya menjadi seni pertunjukan, tapi sebagai penguatan budaya yang ada di Banyuwangi,” ujar Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banyuwangi Choliqul Ridho yang hadir dalam acara tersebut.

Ridho mengatakan, Banyuwangi konsisten mengangkat tradisi dan budaya lokal sebagai salah satu daya tarik pariwisata. ”Festival di Banyuwangi bukan sekadar mendatangkan wisatawan, tapi juga cara untuk menguatkan gotong royong, pemahaman, dan pelestarian budaya. Sehingga tradisi dan budaya lokal tetap tumbuh subur di tengah modernitas,” tandasnya. (ddy/afi/c1)

GLAGAH, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Rangkaian ritual adat Seblang kembali digelar di Balai Sanggar Seblang, Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah, Selasa siang (19/7). Gara-garanya, Supani, sang penari Seblang mendadak kesurupan, Selasa pagi (19/7).

Nenek berusia 72 tahun itu mendadak kerasukan saat sedang berbelanja di warung milik tetangganya. Saat itu, kedua tangan Mbah Supani memeragakan seolah sedang menggenggam keris. Tak pelak, kejadian itu langsung menarik perhatian warga Kelurahan Bakungan.

Sesepuh adat, pawang, ketua panitia Seblang dan Lurah Bakungan Agus Rahmanto langsung mendatangi kediaman Supani usai mendapat kabar tersebut. ”Kami dihubungi via telepon oleh pihak keluarga Mbah Supani, dan kami langsung datang ke sana,” ujar Ketua Panitia Pelaksana Seblang Bakungan Lukman Hakim.

Setiba di kediaman Supani, kondisi wanita yang sudah menjadi penari seblang selama lima tahun berturut-turut itu masih kesurupan. Setelah ditanya oleh Asri selaku pawang Seblang, ternyata leluhur yang merasuki Supani minta agar ritual adat Seblang kembali digelar karena ada tiga gending (lagu) yang terlewatkan dan belum dimainkan pada pergelaran Minggu malam (17/7).

Mendapati kondisi tersebut, Lucky—panggilan akrab Lukman Hakim, langsung bermusyawarah dengan sesepuh adat, tokoh masyarakat, dan Lurah Bakungan untuk menyelenggarakan kembali ritual Seblang. ”Kami bersepakat untuk menggelar kembali ritual tarian Seblang sesuai permintaan leluhur Seblang,” katanya.

Baca Juga :  Seblang Bakungan Dimulai Dengan Selametan Kampung

Lucky menyebut, ritual adat Seblang yang diulang hanya pada ritual tariannya saja, tidak dimulai dari awal seperti nyekar, ider bumi, dan selamatan. Prosesi ritual tarian adat seblang akhirnya disepakati digelar Selasa siang (19/7) pukul 12.00 usai salat Duhur.

Heri Purwoko, salah satu tetua adat Bakungan menambahkan, gending (lagu) yang kurang saat ritual digelar pada Minggu lalu, yakni gending Surung Dayung dan Dongsrok. Dengan segala keterbatasan, akhirnya Seblang Bakungan digelar kembali. Saat itu, tangan Mbah Supani bergerak seperti mengajak ”roh leluhur” ke sanggar tari.

”Saya langsung memanggil sinden untuk melantunkan beberapa gending yang kurang, namun ternyata Mbah Supani yang sedang mengalami kerasukan itu tidak mau. Dia minta untuk digelar kembali di Balai Dusun Bakungan,” jelas Heri.

Beruntung, masih ada beberapa perlengkapan yang masih utuh sehingga masih bisa digunakan kembali. Tak ayal Balai Sanggar Seblang pun mendadak dijubeli penonton yang mayoritas adalah warga setempat.

Ubo rampe seperti pisang, kelapa, wanci suruh kinangan, kembang dermo/untaian bunga, tumpeng takir, boneka,caping/topi petani, cemeti, singkal (alat membajak  sawah), dan kelapa gading juga langsung disediakan. Ada juga tebu hitam dan sekar setaman. ”Kalau sesajinya sudah pas, hanya gendingnya saja ada yang tidak dimainkan. Jadi, minta agar tarian seblangnya kembali diulang,” timpal Asri, pawang seblang.

Baca Juga :  Jaring Bibit Pelaku Seni Peran lewat Festival Teater

Sejak awal tarian Seblang dimulai, imbuh Asri, Mbah Supani tampak tersenyum terus-menerus sampai acara berakhir dengan gending Erang-Erang. ”Ini salah satu bukti, jika ritual adat Seblang ini memang sakral. Tidak sembarangan, kurang tiga gending saja, harus kembali diulang,” jelas lelaki asal Lingkungan Watu Ulo, Kelurahan Bakungan ini.

Seblang Bakungan merupakan tarian yang dibawakan oleh wanita tua sembari memegang keris di kedua tangannya. Gerakan-gerakan magis membuat ritual ini menjadi tontonan menarik.

Penari Seblang Bakungan adalah Mbah Supani, seorang wanita berusia 72 tahun yang merupakan keturunan Mbah Misnah yang telah pensiun menjadi seblang 19 tahun yang lalu.

Dalam ritualnya, setelah dibacakan mantra dan doa, sesaat kemudian seblang langsung kerasukan roh dan menari mengikuti irama gending yang mengiringinya. ”Semoga Seblang Bakungan ini tidak hanya menjadi seni pertunjukan, tapi sebagai penguatan budaya yang ada di Banyuwangi,” ujar Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banyuwangi Choliqul Ridho yang hadir dalam acara tersebut.

Ridho mengatakan, Banyuwangi konsisten mengangkat tradisi dan budaya lokal sebagai salah satu daya tarik pariwisata. ”Festival di Banyuwangi bukan sekadar mendatangkan wisatawan, tapi juga cara untuk menguatkan gotong royong, pemahaman, dan pelestarian budaya. Sehingga tradisi dan budaya lokal tetap tumbuh subur di tengah modernitas,” tandasnya. (ddy/afi/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/