alexametrics
24.5 C
Banyuwangi
Monday, July 4, 2022

Menyaksikan Pertunjukan Gandrung Terop di Halaman Dibudpar Banyuwangi

BANYUWANGI – Kesan kurang baik yang melekat pada kesenian gandrung terop mulai dikikis oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi. Caranya dengan menggelar pertunjukan gandrung terop sesuai pakem yang berlaku.

Suara gamelan gandrung mengalun lirih. Kendang, kempul dan biola saling bersahutan membentuk irama yang padu. Rintik hujan menyambut setiap pengunjung yang datang di pelinggihan kantor Disbudpar Banyuwangi, Rabu malam (15/12).

Malam itu sedang berlangsung seni pertunjukan gandrung terop yang sengaja digelar dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-250 Banyuwangi. Pertunjukan kesenian itu digelar untuk memberikan hiburan masyarakat serta melestarikan kesenian khas kabupaten ujung timur Pulau Jawa.

”Kami menggelar pertunjukan ingin mengubah image negatif gandrung terop ini di tengah masyarakat. Kita ingin mempertontonkan kesenian gandrung terop yang lebih baik sesuai pakemnya,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi M. Yanuar Bramuda.

Pertunjukan gandrung terop malam itu menampilkan sang maestro gandrung Banyuwangi, yakni Temuk dan Sunasih. Tampil juga tiga penari gandrung terop lain usianya masih muda. Dalam pertunjukan itu, Gandrung Temuk sempat mendendangkan beberapa lagu.

Sebelum paju gandrung, acara dimulai dengan topengan dilanjutkan dengan rempenan. Setiap pengunjung yang duduk di kursi dihampiri gandrung. Mereka diberi kesempatan menari bersama gandrung. Penonton yang boleh menari gandrung adalah yang ketiban selendang oleh penari gandrung.

Paju gandrung berlangsung di atas pentas dengan disaksikan penonton. Lelaki yang sudah diberi sampur atau selendang boleh menari secara beraturan dan bergantian dengan menjaga norma kesopanan. ”Pertunjukan seperti ini untuk regenerasi gandrung terop. Kami berharap pertunjukan ini bisa mereinkarnasi seni gandrung terop di Banyuwangi,” kata Bramuda.

Pihaknya ingin membudayakan dan melestarikan gandrung terop dengan cerita baru yang lebih kekinian, tentunya dengan konsep yang lebih menarik. Gandrung terop tak sekadar menjadi tontonan, tetapi bisa menjadi tuntunan bagi masyarakat setiap ada hajatan pernikahan maupun khitanan.

Sejauh ini kesenian gandrung terop dalam penampilannya sudah banyak berubah. Ada gandrung dangdutan disertai dengan minum-minuman keras. ”Kita ingin mengembalikan kesenian khas Banyuwangi sesuai pakem dengan cara-cara yang elegan. Gandrung terop pada saat malam hari identik sebagai pelayan. Ke depan akan kita ubah itu,” kata Bramuda.

Kesenian gandrung, lanjut dia, harus tetap hidup dengan cara yang baru dengan tetap mengedepankan nilai-nilai seni, pakem cerita, dan semangat gandrung seperti diawali dengan topengan, rempenan, paju gandrung, dan seblang subuh.

Seblang subuh merupakan sebuah tari penyelesaian dari pertunjukan gandrung terop. Seblang mempunyai arti sadarlah atau kembali seperti sedia kala. Sedangkan seblang subuh merupakan ajakan untuk sadar bahwa jangan hanya bersenang-senang saja semalam suntuk. Ingatlah akan anak istri di rumah juga tugas masing-masing esok hari. ”Pertunjukan gandrung terop sebagai  simulasi bagaimana gandrung disajikan dengan alur cerita dan pakem yang sarat dengan pesan moral,” tandasnya.

BANYUWANGI – Kesan kurang baik yang melekat pada kesenian gandrung terop mulai dikikis oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi. Caranya dengan menggelar pertunjukan gandrung terop sesuai pakem yang berlaku.

Suara gamelan gandrung mengalun lirih. Kendang, kempul dan biola saling bersahutan membentuk irama yang padu. Rintik hujan menyambut setiap pengunjung yang datang di pelinggihan kantor Disbudpar Banyuwangi, Rabu malam (15/12).

Malam itu sedang berlangsung seni pertunjukan gandrung terop yang sengaja digelar dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-250 Banyuwangi. Pertunjukan kesenian itu digelar untuk memberikan hiburan masyarakat serta melestarikan kesenian khas kabupaten ujung timur Pulau Jawa.

”Kami menggelar pertunjukan ingin mengubah image negatif gandrung terop ini di tengah masyarakat. Kita ingin mempertontonkan kesenian gandrung terop yang lebih baik sesuai pakemnya,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi M. Yanuar Bramuda.

Pertunjukan gandrung terop malam itu menampilkan sang maestro gandrung Banyuwangi, yakni Temuk dan Sunasih. Tampil juga tiga penari gandrung terop lain usianya masih muda. Dalam pertunjukan itu, Gandrung Temuk sempat mendendangkan beberapa lagu.

Sebelum paju gandrung, acara dimulai dengan topengan dilanjutkan dengan rempenan. Setiap pengunjung yang duduk di kursi dihampiri gandrung. Mereka diberi kesempatan menari bersama gandrung. Penonton yang boleh menari gandrung adalah yang ketiban selendang oleh penari gandrung.

Paju gandrung berlangsung di atas pentas dengan disaksikan penonton. Lelaki yang sudah diberi sampur atau selendang boleh menari secara beraturan dan bergantian dengan menjaga norma kesopanan. ”Pertunjukan seperti ini untuk regenerasi gandrung terop. Kami berharap pertunjukan ini bisa mereinkarnasi seni gandrung terop di Banyuwangi,” kata Bramuda.

Pihaknya ingin membudayakan dan melestarikan gandrung terop dengan cerita baru yang lebih kekinian, tentunya dengan konsep yang lebih menarik. Gandrung terop tak sekadar menjadi tontonan, tetapi bisa menjadi tuntunan bagi masyarakat setiap ada hajatan pernikahan maupun khitanan.

Sejauh ini kesenian gandrung terop dalam penampilannya sudah banyak berubah. Ada gandrung dangdutan disertai dengan minum-minuman keras. ”Kita ingin mengembalikan kesenian khas Banyuwangi sesuai pakem dengan cara-cara yang elegan. Gandrung terop pada saat malam hari identik sebagai pelayan. Ke depan akan kita ubah itu,” kata Bramuda.

Kesenian gandrung, lanjut dia, harus tetap hidup dengan cara yang baru dengan tetap mengedepankan nilai-nilai seni, pakem cerita, dan semangat gandrung seperti diawali dengan topengan, rempenan, paju gandrung, dan seblang subuh.

Seblang subuh merupakan sebuah tari penyelesaian dari pertunjukan gandrung terop. Seblang mempunyai arti sadarlah atau kembali seperti sedia kala. Sedangkan seblang subuh merupakan ajakan untuk sadar bahwa jangan hanya bersenang-senang saja semalam suntuk. Ingatlah akan anak istri di rumah juga tugas masing-masing esok hari. ”Pertunjukan gandrung terop sebagai  simulasi bagaimana gandrung disajikan dengan alur cerita dan pakem yang sarat dengan pesan moral,” tandasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/