Kamis, 02 Dec 2021
Radar Banyuwangi
Home / Budaya
icon featured
Budaya

Tampilkan Kesenian Janger “Ampak-Ampak Gunung Gumitir”

16 November 2021, 08: 20: 59 WIB | editor : Bayu Saksono

Tampilkan Kesenian Janger “Ampak-Ampak Gunung Gumitir”

KREATIF: Duta seni pelajar se-Kecamatan Kalibaru menampilkan kesenian janger, Sabtu (13/11). (Deddy Jumhardiyanto/RaBa)

Share this      

KALIBARU, Jawa Pos Radar Banyuwangi - Pergelaran Banyuwangi Culture Everyweek (BCE) edisi Kecamatan Kalibaru berlangsung seru dan menarik. Gabungan duta seni pelajar menyuguhkan penampilan BCE dengan warna yang berbeda.

Jika BCE edisi di kecamatan lain hanya menampilkan tari-tarian, dan paduan suara. BCE edisi kecamatan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Jember ini justru lebih kreatif dengan menampilkan kesenian janger  dikemas apik.

Acara dibuka langsung  Sekretaris Kecamatan Kalibaru, Friko Frihardoko. Dalam sambutannya, Friko berharap agar masyarakat tetap mematuhi protokol kesehatan. “BCE merupakan salah supaya Pemkab Banyuwangi untuk melestarikan seni dan budaya. Dengan ditampilkannya BCE ini bisa salah satu wadah mengasah bakat minat pelajar di tingkat SD/SMP hingga SMA,” ungkapnya.

Baca juga: Tampilkan Tari Srikandi Blambangan

Friko juga mengajak masyarakat khususnya di Kecamatan Kalibaru agar mengikuti vaksinasi Covid 19 dengan mendatangi tempat vaksinasi. Karena vaksin Covid 19 bisa mengurangi dampak Covid 19, terbukti klinis dengan adanya vaksinasi jumlah pasien Covid 19 di Banyuwangi terus menurun.

“Banyuwangi sebetulnya sudah mencapai target 70 persen, tetapi untuk tiap kecamatan masih belum, khususnya di Kecamatan Kalibaru. Makanya, mari bagi keluarga yang belum vaksin mari diajak datang ke tempat vaksin di desa, dan fasilitas kesehatan yang sudah tersedia, agar kondisi perekonomian dan aktivitas masyarakat bisa kembali normal,” tandasnya.

Duta seni pelajar Kecamatan Kalibaru membawakan cerita kesenian janger berjudul “Ampak- Ampak Gunung Gumitir” ini cukup apik. Mirip dengan kesenian janger pada umum yakni menceritakan Kerajaan Blambangan dan Majapahit.

Meski hanya berlangsung dua jam, cerita dalam pagelaran kesenian janger ini tetap menampilkan sejumlah tari-tarian di antaranya tari kedok-kedokan dan tari sorote lintang berhasil dikemas dengan apik dan menarik di tengah alur cerita janger.

Dalam cerita singkat kesenian janger itu, Ratu Ayu Kencana Wungu sangat khawatir ketika mendengar bahwa Minak Jinggo ingin menyerang kerajaannya. Maka, ia pun menggelar sayembara.

Datanglah seorang pemuda tampan bernama Damarwulan untuk mengikuti sayembara dan datang ke kerajaan Blambangan bertemu dengan Prabu Minak Jinggo. Pertarungan sengit antara dua pendekar sakti terjadi. Keduanya silih-berganti menyerang. Namun, akhirnya Damarwulan kalah dalam pertarungan itu hingga pingsan terkena pusaka gada wesi kuning milik Minak Jinggo.

Rupanya, kedua selir Minak Jinggo, Dewi Wahita dan Dewi Puyengan terpikat melihat ketampanan Damarwulan. Mereka pun secara diam-diam mengobati luka pemuda itu. Bahkan, mereka juga membuka rahasia kesaktian Minak Jinggo.

Pada malam harinya, Dewi Wahita dan Dewi Puyengan mencuri pusaka gada wesi kuning saat Minak Jinggo. terlelap. Pusaka itu kemudian mereka berikan kepada Damarwulan. Setelah memiliki senjata itu, Damarwulan pun kembali menantang Minak Jinggo.  Alangkah terkejutnya Minak Jinggo saat melihat sejata pusakanya ada di tangan Damarwulan.

Minak Jinggo tidak bisa melakukan perlawanan sehingga dapat dengan mudah dikalahkan. Damarwulan memenggal kepada Minak Jinggo untuk dipersembahkan kepada Ratu Ayu Kencana Wungu.

Sayangnya, di tengah perjalanan ke Majapahit Damarwulan bertemu dengan Layang Seto dan Layang Gumitir. Damarwulan diperdaya oleh keduanya yakni agar menitipkan gada besi kuning dan kepala Minak Jinggo untuk dibawa bersama-sama ke Kerajaan Majapahit menghadap Ratu Kencana Wungu. Dalam perjalanan itulah Damarwulan justru dihabisi oleh layang seto dan layang gumitir dengan diceburkan di gunung gumitir dan cerita pun berakhir. 

(bw/ddy/rbs/JPR)

©2021 PT. JawaPos Group Multimedia