alexametrics
27.5 C
Banyuwangi
Sunday, October 2, 2022

Petik Laut Muncar, Nelayan Larung Sesaji ke Semenanjung Sembulungan

MUNCAR, Jawa Pos Radar Genteng – Para nelayan yang tinggal di pesisir Pantai Muncar, Kecamatan Muncar menggelar ritual petik laut, Sabtu (13/8). Tidak seperti dua tahun sebelumnya yang hanya sederhana karena pandemi covid-19, ritual kali ini digelar meriah dengan aneka rangkaian kegiatan.

Puncak petik laut yang digelar para nelayan itu, ditandai dengan larung sesaji ke tengah laut, tepatnya di Semenanjung Sembulungan. Sebelumnya, para nelayan menggelar berbagai kegiatan seperti musyawarah besar (Mubes), tirakatan, dan upacara ider bumi di sejumlah tempat. “Rangkaian kegiatan dimulai sejak Jumat (12/8),” kata ketua panitia Petik Laut 2022, Choirul Imam.

Menurut Imam, sesaji yang akan dilarung dalam ritual petik laut ini, diletakkan dalam perahu berukuran mini atau biasa disebut gitik. Sebelum dibawa ke tengah laut, gitik sesaji dengan panjang sekitar dua meter, oleh nelayan diarak keliling kampung dan terakhir di Pelabuhan Muncar. “Gitik sesaji itu juga dibacakan doa oleh pawang petik laut, Renteng Daeng Yusuf,” katanya seraya menyebut tradisi ini selalu digelar setiap 15 Suro kalender Jawa atau 15 Muharram.

Baca Juga :  Ombak Tinggi, Nelayan Lempar Jangkar

Imam menyebut pawang petik laut itu khusus, tidak semua orang bisa melakukan. Orang yang ditunjuk menjadi pawang petik laut sudah turun temurun atau dari generasi ke generasi. “Dari dulu keluarga Pak Renteng yang jadi pawang,” jelasnya pada Jawa Pos Radar Genteng.

Gitik sesaji itu, terang dia, berisi berbagai macam hasil laut, hasil bumi, jajan pasar, dan dua ekor ayam yang masih hidup. Juga ada sepasang burung dara dan kepala kambing dengan pancing emas seberat dua gram yang dikaitkan di lidah. “Itu semua dilarung di tengah laut dengan harapan tangkapan nelayan Muncar bisa melimpah, para nelayan juga diberi keselamatan,” katanya.

Dalam petik laut ini, masih kata dia, setelah gitik sesaji diarak keliling kampung, langsung ditaruh di Kapal Slerek dan dibawa ke tengah laut. Di belakangnya, sekitar 70 kapal selerek, gardan, dan jukung milik nelayan yang biasa dibuat mencari ikan, mengikuti. Semua kapal dan perahu, dihias dengan ornamen indah dan dilengkapi sound system. “Tahun ini sangat meriah,” terangnya.

Baca Juga :  Masjid Cheng Hoo Wujud Penghormatan Kepada Penyebar Islam Asal Tiongkok

Setelah iring-iringan kapal pembawa gitik sesaji sampai di selatan Tanjung Sembulungan, atau sekitar 30 menit perjalanan dari Pelabuhan Muncar, gitik sesaji dilarung ke tengah laut. Bersamaan dengan itu, sejumlah nelayan ikut menyebur ke laut untuk berebut sesaji. “Ada kepercayaan yang terkena cipratan air saat pelarungan, akan mendapat keberuntungan,” cetus Pawang petik laut, Renteng Daeng Yusuf, 58.

Tidak hanya berebut sesaji, para pemilik kapal dan nelayan mengambil air laut di sekitar tempat pelarungan menggunakan ember, dan air itu disiramkan secara mereta di seluruh bagian kapal dan perahu. “Itu dipercaya sebagai pembersih kapal dan perahu dari tolak balak,” ungkapnya.

Renteng menyebut selama dua tahun terakhir, petik laut digelar secara sederhana. Dan itu, hasil ikan tangkapan nelayan juga menurun. “Sangat berdampak, kemarin tangkapan kami menurun,” pungkasnya.(sas/abi)

MUNCAR, Jawa Pos Radar Genteng – Para nelayan yang tinggal di pesisir Pantai Muncar, Kecamatan Muncar menggelar ritual petik laut, Sabtu (13/8). Tidak seperti dua tahun sebelumnya yang hanya sederhana karena pandemi covid-19, ritual kali ini digelar meriah dengan aneka rangkaian kegiatan.

Puncak petik laut yang digelar para nelayan itu, ditandai dengan larung sesaji ke tengah laut, tepatnya di Semenanjung Sembulungan. Sebelumnya, para nelayan menggelar berbagai kegiatan seperti musyawarah besar (Mubes), tirakatan, dan upacara ider bumi di sejumlah tempat. “Rangkaian kegiatan dimulai sejak Jumat (12/8),” kata ketua panitia Petik Laut 2022, Choirul Imam.

Menurut Imam, sesaji yang akan dilarung dalam ritual petik laut ini, diletakkan dalam perahu berukuran mini atau biasa disebut gitik. Sebelum dibawa ke tengah laut, gitik sesaji dengan panjang sekitar dua meter, oleh nelayan diarak keliling kampung dan terakhir di Pelabuhan Muncar. “Gitik sesaji itu juga dibacakan doa oleh pawang petik laut, Renteng Daeng Yusuf,” katanya seraya menyebut tradisi ini selalu digelar setiap 15 Suro kalender Jawa atau 15 Muharram.

Baca Juga :  Semua Sepakat Jaga Pancasila

Imam menyebut pawang petik laut itu khusus, tidak semua orang bisa melakukan. Orang yang ditunjuk menjadi pawang petik laut sudah turun temurun atau dari generasi ke generasi. “Dari dulu keluarga Pak Renteng yang jadi pawang,” jelasnya pada Jawa Pos Radar Genteng.

Gitik sesaji itu, terang dia, berisi berbagai macam hasil laut, hasil bumi, jajan pasar, dan dua ekor ayam yang masih hidup. Juga ada sepasang burung dara dan kepala kambing dengan pancing emas seberat dua gram yang dikaitkan di lidah. “Itu semua dilarung di tengah laut dengan harapan tangkapan nelayan Muncar bisa melimpah, para nelayan juga diberi keselamatan,” katanya.

Dalam petik laut ini, masih kata dia, setelah gitik sesaji diarak keliling kampung, langsung ditaruh di Kapal Slerek dan dibawa ke tengah laut. Di belakangnya, sekitar 70 kapal selerek, gardan, dan jukung milik nelayan yang biasa dibuat mencari ikan, mengikuti. Semua kapal dan perahu, dihias dengan ornamen indah dan dilengkapi sound system. “Tahun ini sangat meriah,” terangnya.

Baca Juga :  Warga Karangdoro Gelar Petik Sungai

Setelah iring-iringan kapal pembawa gitik sesaji sampai di selatan Tanjung Sembulungan, atau sekitar 30 menit perjalanan dari Pelabuhan Muncar, gitik sesaji dilarung ke tengah laut. Bersamaan dengan itu, sejumlah nelayan ikut menyebur ke laut untuk berebut sesaji. “Ada kepercayaan yang terkena cipratan air saat pelarungan, akan mendapat keberuntungan,” cetus Pawang petik laut, Renteng Daeng Yusuf, 58.

Tidak hanya berebut sesaji, para pemilik kapal dan nelayan mengambil air laut di sekitar tempat pelarungan menggunakan ember, dan air itu disiramkan secara mereta di seluruh bagian kapal dan perahu. “Itu dipercaya sebagai pembersih kapal dan perahu dari tolak balak,” ungkapnya.

Renteng menyebut selama dua tahun terakhir, petik laut digelar secara sederhana. Dan itu, hasil ikan tangkapan nelayan juga menurun. “Sangat berdampak, kemarin tangkapan kami menurun,” pungkasnya.(sas/abi)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/