Sabtu, 23 Oct 2021
Radar Banyuwangi
Home / Budaya
icon featured
Budaya

Anggota TNI dari Papua Diajari Menyangrai Kopi

12 Oktober 2021, 08: 47: 19 WIB | editor : Bayu Saksono

Anggota TNI dari Papua Diajari Menyangrai Kopi

PRAKTIK LANGSUNG: Selama berada di Sanggar Genjar Arum, anggota Bintara Opsus Papua diajari menyangrai kopi. (Ramada Kusuma/RaBa)

Share this      

GLAGAH, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Sebelas anggota TNI AD Abituren Dikjurba Otsus (Pendidikan Kejuruan Bintara Otonomi Khusus) kemarin (11/10) pagi berkunjung ke Sanggar Genjah Arum, Desa Kemiren, Kecamatan Glagah. Di sanggar milik Setiawan Subekti itu, mereka diajari cara mengolah kopi yang benar.

Sebelas anggota TNI yang mayoritas berdarah Papua itu juga diberi penjelasan tentang budaya masyarakat Oseng. Begitu memasuki gerbang Genjah Arum, para tentara pilihan itu disambut tari barong. Setelah itu, mereka mendengarkan musik lesung yang dimainkan para lansia dari Genjah Arum.

Anggota TNI berpangkat bintara itu kemudian diajak mencicipi produk kopi asli Banyuwangi. Mereka juga mendapatkan penjelasan langsung dari pemilik Sanggar Genjah Arum Setiawan Subekti tentang filosofi pembuatan kopi dan proses yang dilakukan untuk mengolah kopi secara tepat.

Baca juga: Mulai Barang Purbakala, Keris, Benda Antik Bisa Dilihat Pameran

Iwan memberi gambaran beberapa jenis kopi. Para bintara itu juga ditanya seperti apa pemahaman mereka tentang kopi sebelum nantinya terjun mempelajari kopi. ”Kita beri gambaran tentang pengolahan kopi. Saya dengar di daerah mereka tanaman kopi cukup banyak. Tapi belum diolah, hanya dijual dalam kondisi mentah,” kata Setiawan Subekti.

Pria yang akrab disapa Iwan itu juga memotivasi para bintara TNI AD tersebut agar bersemangat untuk bisa belajar mengolah kopi dengan baik. Dengan harapan, ketika kembali ke Papua atau daerah lain tempat penugasannya, mereka bisa memproduksi kopi berkualitas. ”Ketika kita bisa membuat kopi yang berkualitas baik, hal itu akan membuat orang mencari kita. Dengan begitu kopi bisa mengangkat ekonomi masyarakat,” kata Iwan di hadapan para Bintara Otsus.

Salah satu anggota Bintara Otsus Serda Luther Oktavianus Way mengatakan, sebagai calon Babinsa, dia ingin bisa menyerap banyak ilmu ketika mendapatkan kesempatan untuk belajar di Banyuwangi. Termasuk cara mengolah kopi yang tepat dan baik. ”Di tempat saya (Kabupaten Maybrat, Papua Barat) kopi belum dikelola dengan maksimal. Mereka hanya menjual kopi mentah. Saya ingin menuntut ilmu bagaimana agar nanti kopi bisa diolah, jadi bisa dikonsumsi langsung,” ujar mantan mahasiswa Mercu Buana Jogjakarta itu.

Anggota lainnya, Serda Ardiles Mesakh Mambrase menambahkan, produksi kopi di Papua Barat terutama di Kabupaten Tambrau nyaris belum ada. Kopi masih dipanen buahnya saja, tanpa proses pengolahan pascapanen. Padahal perkebunan kopi di sana cukup banyak. Pengolahan kopi hanya ada di wilayah perkotaan saja. ”Kita di papua juga punya kopi yang terkenal, namanya Kopi Senang. Banyak diminum tapi di kota, kalau di desa kebanyakan masih kopi kemasan,” terangnya.

Ardiles optimistis bisa mengembangkan kopi di Papua. Apalagi, saat ini tren ngopi juga sudah merambah ke Papua. Tak hanya orang tua, anak- anak muda dan kaum milenial sudah mulai menggandrungi kopi. ”Nanti kita akan belajar dulu yang benar, lalu mencoba bersama-sama, sebelum diajarkan ke masyarakat,” tegas Ardiles

Kasdim 0825 Banyuwangi Mayor (Inf) Herawady Karnawan mengatakan, 11 orang Dikjurba Otsus itu datang ke Banyuwangi dalam on the job training untuk mempelajari ilmu komunikasi di tengah masyarakat atau tugas kewilayahan. Selama dua setengah bulan di Banyuwangi, mereka diajak untuk mempelajari beberapa hal, terutama tentang cara bergaul di tengah masyarakat.

Terakhir mereka diajari untuk teknik membuat kopi yang bisa diaplikasikan di tengah masyarakat. ”Semua pembelajaran seputar kopi akan dibawa ke daerahnya. Mereka nantinya akan kembali ke masyarakat sebagai Babinsa,” tandas Herawady.

(bw/fre/rbs/JPR)

©2021 PT. JawaPos Group Multimedia