alexametrics
27.2 C
Banyuwangi
Tuesday, May 24, 2022

Cari Gending Lain, Malah Ditolak Leluhur

“Seblang… Seblang… Yo lukinto sing kang dadi encakana“

 

ITULAH sepenggal lirik gending Seblang Lukinto yang dilantunkan Milatin dan Suwarnik, sinden dalam ritual adat Seblang Olehsari. Dua sinden inilah yang paling bersemangat dari empat sinden lainnya yang mendampingi.

Syair gending Seblang Lukinto ini dikumandangkan saat pertunjukan baru saja dimulai. Gending pembuka ini dipercaya oleh masyarakat Olehsari sebagai pemanggil arwah leluhur untuk datang ke ritual seblang. Syair dari gending Seblang Lukinto diulang- ulang hingga sebanyak 10 kali.

Ritual yang bertujuan untuk memohon keselamatan ini berlangsung cukup menegangkan. Diawali seorang pawang membawa penari ke arena seblang untuk memasang mahkota berupa omprok yang dihiasi pupus gedang (daun pisang yang masih muda) dan beberapa macam bunga segar di atasnya. Omprok ini hampir menutupi wajah sang penari.

Setelah itu, para pawang membacakan mantra untuk memasukkan roh Sang Hyang ke dalam tubuh sang penari. Untuk membuktikan roh leluhur sudah masuk dalam tubuh penari, pawang cukup menggoyangkan tubuh penari ke kanan dan ke kiri sembari memegang nyiru kosong, jika nyiru yang di pegang penari jatuh dan badan penarinya terjungkal ke belakang, menandakan bahwa penari sudah kesurupan roh leluhur. Proses masuknya roh ini diiringi lantunan gending Seblang Lukinto. “Kadang juga ada yang sampai butuh waktu lama untuk bisa kesurupan. Kami bersyukur kali ini langsung dan cepat,” ungkap Kepala Desa Olehsari, Joko Mukhlis.

Baca Juga :  Puncak Kontes Dimeriahkan Berbagai Acara

Selanjutnya, pertunjukan diteruskan dengan lantunan gending-gending yang semuanya berbahasa Oseng.  Seperti gending Liliro Kantun, Cengkir Gading, Padha Nonton Pupuse, Padha Nonton Pundak Sempal, Kembang Menur, Kembang Gadung, Kembang Pepe, dan Kembang Dermo. “Semuanya ada 44 jenis gending,” ujar Suwarnik salah seorang sinden.

Semua gending-gending itu sudah dibukukan. Sehingga, jika saat pergelaran ada syair atau lirik yang lupa tinggal membuka catatan. Namun, sebagian besar untuk gending-gending yang dinyanyikan seperti Seblang Lukinto, Liliro Kantun, Kembang Gadung, Kembang Pepe, Kembang Dermo, sudah hafal di luar kepala. “Hanya memang ada yang ketika dinyanyikan ditolak oleh leluhur yang merasuki tubuh seblang, jadi kami sinden harus cari gending lainnya,” jelas Suwarnik.

Baca Juga :  Tabur Bunga Di Monumen Cemetuk

Penari seblang akan menolak dengan cara melambaikan tangan kepada sinden yang duduk di bawah tenda sebelah kanan penari seblang. Mendapat penolakan itu, para panjak (penabuh gamelan) langsung memukul saron mencari opsi gending lainnya. Pantus (pemimpin penabuh gamelan) ini memberi isyarat kode berupa nada lagu. Para sinden kemudian langsung mengikuti irama nada gending awal yang dipukul pantus tersebut. “Sinden harus paham dengan nada yang ditabuh pantus,” pungkasnya.

Ada tiga jenis gamelan yang ditabuh, yakni saron, kendang, dan gong. Total ada lima orang penabuh yang memainkan alat musik tradisional itu. Yakni tiga penabuh saron, satu penabuh kendang dan satu penabuh gong. Mereka duduk di tengah panggung duduk melingkar. Satu gending selesai didendangkan, istirahat sejenak kemudian mulai menyanyikan gending lainnya. Begitu seterusnya, hingga kegiatan berakhir ditutup dengan gending Kembang Dermo dan Seblang Lukinto. 

“Seblang… Seblang… Yo lukinto sing kang dadi encakana“

 

ITULAH sepenggal lirik gending Seblang Lukinto yang dilantunkan Milatin dan Suwarnik, sinden dalam ritual adat Seblang Olehsari. Dua sinden inilah yang paling bersemangat dari empat sinden lainnya yang mendampingi.

Syair gending Seblang Lukinto ini dikumandangkan saat pertunjukan baru saja dimulai. Gending pembuka ini dipercaya oleh masyarakat Olehsari sebagai pemanggil arwah leluhur untuk datang ke ritual seblang. Syair dari gending Seblang Lukinto diulang- ulang hingga sebanyak 10 kali.

Ritual yang bertujuan untuk memohon keselamatan ini berlangsung cukup menegangkan. Diawali seorang pawang membawa penari ke arena seblang untuk memasang mahkota berupa omprok yang dihiasi pupus gedang (daun pisang yang masih muda) dan beberapa macam bunga segar di atasnya. Omprok ini hampir menutupi wajah sang penari.

Setelah itu, para pawang membacakan mantra untuk memasukkan roh Sang Hyang ke dalam tubuh sang penari. Untuk membuktikan roh leluhur sudah masuk dalam tubuh penari, pawang cukup menggoyangkan tubuh penari ke kanan dan ke kiri sembari memegang nyiru kosong, jika nyiru yang di pegang penari jatuh dan badan penarinya terjungkal ke belakang, menandakan bahwa penari sudah kesurupan roh leluhur. Proses masuknya roh ini diiringi lantunan gending Seblang Lukinto. “Kadang juga ada yang sampai butuh waktu lama untuk bisa kesurupan. Kami bersyukur kali ini langsung dan cepat,” ungkap Kepala Desa Olehsari, Joko Mukhlis.

Baca Juga :  Tak Bisa Tunjukkan Bukti Tes Antigen, Wajib Putar Balik

Selanjutnya, pertunjukan diteruskan dengan lantunan gending-gending yang semuanya berbahasa Oseng.  Seperti gending Liliro Kantun, Cengkir Gading, Padha Nonton Pupuse, Padha Nonton Pundak Sempal, Kembang Menur, Kembang Gadung, Kembang Pepe, dan Kembang Dermo. “Semuanya ada 44 jenis gending,” ujar Suwarnik salah seorang sinden.

Semua gending-gending itu sudah dibukukan. Sehingga, jika saat pergelaran ada syair atau lirik yang lupa tinggal membuka catatan. Namun, sebagian besar untuk gending-gending yang dinyanyikan seperti Seblang Lukinto, Liliro Kantun, Kembang Gadung, Kembang Pepe, Kembang Dermo, sudah hafal di luar kepala. “Hanya memang ada yang ketika dinyanyikan ditolak oleh leluhur yang merasuki tubuh seblang, jadi kami sinden harus cari gending lainnya,” jelas Suwarnik.

Baca Juga :  Tabur Bunga Di Monumen Cemetuk

Penari seblang akan menolak dengan cara melambaikan tangan kepada sinden yang duduk di bawah tenda sebelah kanan penari seblang. Mendapat penolakan itu, para panjak (penabuh gamelan) langsung memukul saron mencari opsi gending lainnya. Pantus (pemimpin penabuh gamelan) ini memberi isyarat kode berupa nada lagu. Para sinden kemudian langsung mengikuti irama nada gending awal yang dipukul pantus tersebut. “Sinden harus paham dengan nada yang ditabuh pantus,” pungkasnya.

Ada tiga jenis gamelan yang ditabuh, yakni saron, kendang, dan gong. Total ada lima orang penabuh yang memainkan alat musik tradisional itu. Yakni tiga penabuh saron, satu penabuh kendang dan satu penabuh gong. Mereka duduk di tengah panggung duduk melingkar. Satu gending selesai didendangkan, istirahat sejenak kemudian mulai menyanyikan gending lainnya. Begitu seterusnya, hingga kegiatan berakhir ditutup dengan gending Kembang Dermo dan Seblang Lukinto. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/