Sabtu, 23 Oct 2021
Radar Banyuwangi
Home / Budaya
icon featured
Budaya

Sekar Jagad Blambangan; Simbol Keindahan dan Keragaman

06 September 2021, 14: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Sekar Jagad Blambangan; Simbol Keindahan dan Keragaman

BERWIBAWA: Motif batik Sekar Jagad Blambangan sangat kaya detail. (Ramada Kusuma/RadarBanyuwangi.id)

Share this      

RadarBanyuwangi.id – Motif batik Sekar Jagad Blambangan masuk deretan motif yang mempunyai sejarah panjang. Bahkan, motif batik ini ditengarai telah menjalani metamorfosis sejak abad ke-18 atau sejak masa pendudukan Mataram di Bumi Blambangan tahun 1633 silam.

Informasi yang berhasil dikumpulkan wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi, batik motif Sekar Jagad diyakini kali pertama diperkenalkan di Bumi Blambangan oleh orang-orang Mataram. Kala itu, batik motif Sekar Jagad hanya dipakai oleh putri-putri kalangan bangsawan kerajaan di tanah ujung timur Pulau Jawa ini.

Keluarga kerajaan mengenakan batik motif ini pada hari-hari tertentu, termasuk saat upacara di lingkungan kerajaan. Motif batik Sekar Jagad merupakan aura kewibawaan para pembesar tempo dulu dan para revolusioner dengan menyimpan pesan kearifan lokal masyarakat tertentu.

Baca juga: Batik Beras Kutah, Motif yang Bermakna Kemakmuran

Dalam perkembangannya, batik-batik motif Sekar Jagad tersebut dirangkai dengan motif khas Banyuwangi lainnya seperti motif Gajah Oling, Klabangan, Moto Pitik, Blarak Sempal, Paras Gempal, Kopi Pecah, dan Kangkung Setingkes. Hasil perpaduan motif Sekar Jagad dengan motif-motif khas Banyuwangi itulah yang ”melahirkan” motif baru, yakni Sekar Jagad Blambangan.

Sekar dalam bahasa Indonesia berarti bunga, sedangkan Jagad berarti dunia. Sekar Jagad Blambangan memiliki makna filosofis keindahan dan keragaman budaya di Banyuwangi.

Catatan Jawa Pos Radar Banyuwangi, batik motif Sekar Jagad Blambangan pernah ditampilkan pada ajang Indonesia Fashion Week (IFW) yang digeber di Jakarta Convention Center (JCC). Tepatnya di era kepemimpinan Bupati Abdullah Azwar Anas pada tahun 2017 lalu. ”Saat daerah lain semangat membawa tema budaya global ke tingkat lokal, kami justru membawa tema budaya lokal ke level global. Salah satunya lewat ajang Batik Festival,” ujar Anas kala itu. (sgt/bay/c1)

(bw/sgt/als/JPR)

©2021 PT. JawaPos Group Multimedia