alexametrics
23.8 C
Banyuwangi
Tuesday, July 5, 2022

Mulai Barang Purbakala, Keris, Benda Antik Bisa Dilihat Pameran

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi menggelar pameran kepurbakalaan di halaman kantor Disbudpar kemarin (4/10). Pameran akan digelar selama tiga hari hingga Rabu (6/10).

Berbagai benda purbakala dan benda kuno berbahan batu, tanah liat, hingga kayu ditampilkan pada pameran tersebut. Terdapat artefak berbentuk tablet berbahan terakota (tanah yang dibakar) yang diperkirakan digunakan sejak abad 8–9 Masehi. Pada tablet tersebut terdapat tulisan kuno dengan huruf palawa dalam bahasa Sansekerta, yang berfungsi untuk menetralisir energi negatif.

Terdapat pula batu bata Blambangan di era Majapahit dan Kerajaan Macan Putih, masing-masing diperkirakan digunakan pada abad 13–14 Masehi dan abad 17 Masehi. Batu bata di era Majapahit mempunyai panjang 30 centimeter (cm), dengan lebar 14 cm, dan ketebalan 5 cm. Sedangkan batu bata Kerajaan Macan Putih berukuran lebih besar, yaitu mempunyai panjang 38 cm, lebar 20 cm, dan ketebalan 10 cm.

Kepala Disbudpar Banyuwangi M. Yanuarto Bramuda mengatakan, pameran ini digelar untuk mengenalkan situs budaya Banyuwangi khususnya kepada generasi milenial. ”Kami berharap generasi milenial bisa mengetahui sejarah Blambangan dan peninggalan adiluhung leluhur kita,” ujarnya.

Selain menyajikan artefak dari museum, terdapat pula koleksi benda purbakala yang dimiliki oleh para pegiat barang arkeolog/cagar budaya. Benda-benda tersebut terdiri dari keris dan barang antik yang berusia lebih dari setengah abad.

Selain pameran benda purbakala, pada kesempatan yang sama juga digelar pentas seni, workshop, lelang benda antik, dan Lontar Yusup. Pameran dibuka sejak pukul 08.00 sampai 16.00, kemudian dibuka kembali pada pukul 18.00 sampai 21.00.

Dari pagi hingga siang ada jadwal kunjungan dari beberapa siswa SMP di Banyuwangi. Kemudian pada sore hari ada pertunjukan seni barong yang diiringi gamelan. Pada hari kedua, digelar workshop. Sedangkan pada penutupan acara akan dimeriahkan dengan pementasan Lontar Yusup.

Ketua Paguyuban Pelestari Tosan Aji (Panji Belambangan) Ilham Triadi mengapresiasi acara yang diselenggarakan oleh Disbudpar. Dia menilai dengan adanya pameran kepurbakalaan ini, generasi milenial akan lebih peduli untuk melestarikan cagar budaya yang ada di Banyuwangi, sekaligus mempelajari sejarah Blambangan.

Pada pameran tersebut, Panji Belambangan menyajikan beberapa koleksi keris yang dimiliki. Usia keris diperkirakan berusia puluhan bahkan ratusan tahun. Ilham juga melelang beberapa jenis keris, jika ada kolektor benda kuno yang meminati koleksinya. ”Harganya bervariasi, mulai dari Rp 500 ribu hingga jutaan rupiah,” jelas Irham.

Salah satu pengunjung, Misbahur, 22, mengaku senang dengan penyelenggaraan pameran tersebut. Dia mendapat pengetahuan baru tentang benda cagar budaya dan sejarah Bumi Blambangan. ”Sebelumnya saya tidak tahu tentang apa itu cagar budaya. Berkat acara ini saya mendapat pengetahuan baru,” kata Misbahur. 

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi menggelar pameran kepurbakalaan di halaman kantor Disbudpar kemarin (4/10). Pameran akan digelar selama tiga hari hingga Rabu (6/10).

Berbagai benda purbakala dan benda kuno berbahan batu, tanah liat, hingga kayu ditampilkan pada pameran tersebut. Terdapat artefak berbentuk tablet berbahan terakota (tanah yang dibakar) yang diperkirakan digunakan sejak abad 8–9 Masehi. Pada tablet tersebut terdapat tulisan kuno dengan huruf palawa dalam bahasa Sansekerta, yang berfungsi untuk menetralisir energi negatif.

Terdapat pula batu bata Blambangan di era Majapahit dan Kerajaan Macan Putih, masing-masing diperkirakan digunakan pada abad 13–14 Masehi dan abad 17 Masehi. Batu bata di era Majapahit mempunyai panjang 30 centimeter (cm), dengan lebar 14 cm, dan ketebalan 5 cm. Sedangkan batu bata Kerajaan Macan Putih berukuran lebih besar, yaitu mempunyai panjang 38 cm, lebar 20 cm, dan ketebalan 10 cm.

Kepala Disbudpar Banyuwangi M. Yanuarto Bramuda mengatakan, pameran ini digelar untuk mengenalkan situs budaya Banyuwangi khususnya kepada generasi milenial. ”Kami berharap generasi milenial bisa mengetahui sejarah Blambangan dan peninggalan adiluhung leluhur kita,” ujarnya.

Selain menyajikan artefak dari museum, terdapat pula koleksi benda purbakala yang dimiliki oleh para pegiat barang arkeolog/cagar budaya. Benda-benda tersebut terdiri dari keris dan barang antik yang berusia lebih dari setengah abad.

Selain pameran benda purbakala, pada kesempatan yang sama juga digelar pentas seni, workshop, lelang benda antik, dan Lontar Yusup. Pameran dibuka sejak pukul 08.00 sampai 16.00, kemudian dibuka kembali pada pukul 18.00 sampai 21.00.

Dari pagi hingga siang ada jadwal kunjungan dari beberapa siswa SMP di Banyuwangi. Kemudian pada sore hari ada pertunjukan seni barong yang diiringi gamelan. Pada hari kedua, digelar workshop. Sedangkan pada penutupan acara akan dimeriahkan dengan pementasan Lontar Yusup.

Ketua Paguyuban Pelestari Tosan Aji (Panji Belambangan) Ilham Triadi mengapresiasi acara yang diselenggarakan oleh Disbudpar. Dia menilai dengan adanya pameran kepurbakalaan ini, generasi milenial akan lebih peduli untuk melestarikan cagar budaya yang ada di Banyuwangi, sekaligus mempelajari sejarah Blambangan.

Pada pameran tersebut, Panji Belambangan menyajikan beberapa koleksi keris yang dimiliki. Usia keris diperkirakan berusia puluhan bahkan ratusan tahun. Ilham juga melelang beberapa jenis keris, jika ada kolektor benda kuno yang meminati koleksinya. ”Harganya bervariasi, mulai dari Rp 500 ribu hingga jutaan rupiah,” jelas Irham.

Salah satu pengunjung, Misbahur, 22, mengaku senang dengan penyelenggaraan pameran tersebut. Dia mendapat pengetahuan baru tentang benda cagar budaya dan sejarah Bumi Blambangan. ”Sebelumnya saya tidak tahu tentang apa itu cagar budaya. Berkat acara ini saya mendapat pengetahuan baru,” kata Misbahur. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/