alexametrics
25.6 C
Banyuwangi
Thursday, August 11, 2022

Pagi Mepe Kasur, Malam Tumpengan

GLAGAH, Jawa Pos Radar Banyuwangi Dua peristiwa budaya tersaji di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Minggu (3/7). Sejak pagi hingga siang menjelang sore, warga desa adat Oseng tersebut menggelar tradisi mepe alias menjemur kasur. Malamnya, mereka makan tumpeng bareng-bareng di depan kediaman masing-masing.

Sejak pagi, warga mulai mengeluarkan kasur dari rumah masing-masing. Mereka kemudian menjemur kasur yang memiliki warna seragam, yakni merah dan hitam, tersebut. Tak pelak, ratusan, bahkan mungkin ribuan kasur tampak berjejer di depan rumah-rumah warga setempat.

Tak hanya dijemur, sesekali warga juga membersihkan kasus miliknya dari debu dan kotoran. Caranya dengan memukul-mukul kasir tersebut menggunakan alat khusus berbahan rotan.

Hingga akhirnya, sekitar pukul 14.00, warga memasukkan kembali kasur miliknya ke dalam rumah masing-masing. Belakangan diketahui, tradisi mepe kasur tersebut merupakan rangkaian kegiatan bersih desa setempat.

Salah satu warga, Adi Purwadi mengatakan, warna merah pada kasur warga desa adat Oseng Banyuwangi tersebut mengandung makna keberanian. Sedangkan warna hitam melambangkan keabadian.

Baca Juga :  Gus Muafiq: Bisa Perkuat Karakter Kebangsaan
(Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

Menurut Adi, kasur-kasur khas Kemiren ini sengaja dikeluarkan dan dijemur. Ini menunjukkan bahwa dalam ritual bersih desa, warga Kemiren ingin membersihkan rumah dan lingkungan dari berbagai penyakit dan marabahaya. “Dari hal terkecil dan paling dasar yakni kamar dan ranjang juga dibersihkan. Karena terkadang penyakit itu munculnya dari kasur. Harus dibersihkan,” ujarnya.

Ketua Adat Kemiren Suhaimi mengatakan, warga Oseng menganggap kasur sebagai benda yang sangat dekat dengan manusia sehingga wajib dibersihkan agar kotoran yang ada di kasur hilang. “Proses menjemur kasur berlangsung sejak pagi hingga menjelang sore hari,” tuturnya.

Begitu matahari terbit, lanjut dia, kasur segera dijemur di depan rumah masing-masing sambil membaca doa dan memercikkan air bunga di halaman. Tujuannya agar dijauhkan dari bencana dan penyakit. Setelah matahari melewati kepala alias pada tengah hari, semua kasur harus digulung dan dimasukkan. Konon jika tidak segera dimasukkan hingga matahari terbenam, kebersihan kasur ini akan hilang dan khasiat untuk menghilangkan penyakit pun tidak akan ada hasilnya. “Kalau sampai sore ya nanti khasiatnya akan menurun. Apalagi kalau kemalaman. Bisa tidak sehat,” kata dia.

Baca Juga :  Ajang Sinau Bareng, Kenalkan Wayang Kulit Kepada Generasi Milenial

Sementara itu, setelah memasukkan kasur ke rumah masing-masing, warga Kemiren melanjutkan tradisi bersih desa dengan arak-arakan barong. Barong diarak dari ujung timur menuju ujung barat dan kembali ke ujung timur. Setelah arak-arakan Barong, masyarakat setempat lantas berziarah ke Makam Buyut Cili yang diyakini masyarakat sebagai penjaga desa setempat.

Setelah itu, malamnya warga menggelar selamatan Tumpeng Sewu. Semua warga mengeluarkan tumpeng khas warga Oseng, yakni pecel pitik alias ayam panggang dengan parutan kelapa. Kekhasan acara ini juga ditambah akan dinyalakan obor di setiap depan pagar rumah warga. (sgt/aif)

GLAGAH, Jawa Pos Radar Banyuwangi Dua peristiwa budaya tersaji di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Minggu (3/7). Sejak pagi hingga siang menjelang sore, warga desa adat Oseng tersebut menggelar tradisi mepe alias menjemur kasur. Malamnya, mereka makan tumpeng bareng-bareng di depan kediaman masing-masing.

Sejak pagi, warga mulai mengeluarkan kasur dari rumah masing-masing. Mereka kemudian menjemur kasur yang memiliki warna seragam, yakni merah dan hitam, tersebut. Tak pelak, ratusan, bahkan mungkin ribuan kasur tampak berjejer di depan rumah-rumah warga setempat.

Tak hanya dijemur, sesekali warga juga membersihkan kasus miliknya dari debu dan kotoran. Caranya dengan memukul-mukul kasir tersebut menggunakan alat khusus berbahan rotan.

Hingga akhirnya, sekitar pukul 14.00, warga memasukkan kembali kasur miliknya ke dalam rumah masing-masing. Belakangan diketahui, tradisi mepe kasur tersebut merupakan rangkaian kegiatan bersih desa setempat.

Salah satu warga, Adi Purwadi mengatakan, warna merah pada kasur warga desa adat Oseng Banyuwangi tersebut mengandung makna keberanian. Sedangkan warna hitam melambangkan keabadian.

Baca Juga :  Ajang Sinau Bareng, Kenalkan Wayang Kulit Kepada Generasi Milenial
(Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

Menurut Adi, kasur-kasur khas Kemiren ini sengaja dikeluarkan dan dijemur. Ini menunjukkan bahwa dalam ritual bersih desa, warga Kemiren ingin membersihkan rumah dan lingkungan dari berbagai penyakit dan marabahaya. “Dari hal terkecil dan paling dasar yakni kamar dan ranjang juga dibersihkan. Karena terkadang penyakit itu munculnya dari kasur. Harus dibersihkan,” ujarnya.

Ketua Adat Kemiren Suhaimi mengatakan, warga Oseng menganggap kasur sebagai benda yang sangat dekat dengan manusia sehingga wajib dibersihkan agar kotoran yang ada di kasur hilang. “Proses menjemur kasur berlangsung sejak pagi hingga menjelang sore hari,” tuturnya.

Begitu matahari terbit, lanjut dia, kasur segera dijemur di depan rumah masing-masing sambil membaca doa dan memercikkan air bunga di halaman. Tujuannya agar dijauhkan dari bencana dan penyakit. Setelah matahari melewati kepala alias pada tengah hari, semua kasur harus digulung dan dimasukkan. Konon jika tidak segera dimasukkan hingga matahari terbenam, kebersihan kasur ini akan hilang dan khasiat untuk menghilangkan penyakit pun tidak akan ada hasilnya. “Kalau sampai sore ya nanti khasiatnya akan menurun. Apalagi kalau kemalaman. Bisa tidak sehat,” kata dia.

Baca Juga :  Wajan Tanah Liat Lebih Nikmat

Sementara itu, setelah memasukkan kasur ke rumah masing-masing, warga Kemiren melanjutkan tradisi bersih desa dengan arak-arakan barong. Barong diarak dari ujung timur menuju ujung barat dan kembali ke ujung timur. Setelah arak-arakan Barong, masyarakat setempat lantas berziarah ke Makam Buyut Cili yang diyakini masyarakat sebagai penjaga desa setempat.

Setelah itu, malamnya warga menggelar selamatan Tumpeng Sewu. Semua warga mengeluarkan tumpeng khas warga Oseng, yakni pecel pitik alias ayam panggang dengan parutan kelapa. Kekhasan acara ini juga ditambah akan dinyalakan obor di setiap depan pagar rumah warga. (sgt/aif)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/