
RADARBANYUWANGI.ID - Stadio Olimpico akan menjadi panggung benturan dua tim yang sama-sama belum kehilangan angka di Serie A. Roma dan Inter Milan datang dengan modal empat kemenangan dari empat pertandingan.
Keduanya juga sama-sama produktif, mencetak rata-rata tiga gol setiap laga. Maka Sabtu malam nanti bukan sekadar pertandingan pekan biasa. Ini adalah pertemuan dua kandidat papan atas yang sedang sama-sama melaju tanpa rem.
Roma datang dengan pertahanan yang baru kebobolan sekali di Serie A. Inter membawa rekor tandang yang sulit diabaikan. Ada pula sejarah pertemuan yang lebih memihak tim tamu. Pertanyaannya sederhana: siapa yang lebih dulu kehilangan kesempurnaan?
Roma kembali ke jalur kemenangan
Roma sempat kehilangan catatan sempurnanya ketika bermain imbang 1-1 melawan Fenerbahce di Liga Champions. Namun, Gian Piero Gasperini tidak perlu menunggu lama untuk melihat timnya kembali menang.
Pada lawatan ke markas Torino, Roma menang 2-0. Donyell Malen kembali mencatatkan namanya di papan skor sebelum Nicolo Pisilli memastikan kemenangan lewat gol pada fase akhir pertandingan. Empat kemenangan Serie A menghasilkan 12 gol bagi Roma. Lebih menarik lagi, mereka hanya kebobolan satu gol.
Malen menjadi pusat perhatian. Sejak bergabung pada pertengahan Januari, penyerang tersebut telah mencetak 20 gol dalam 22 penampilan Serie A. Produktivitasnya menjadi salah satu alasan mengapa Roma mulai diperbincangkan dalam persaingan Scudetto.
Roma juga memiliki rangkaian sembilan kemenangan beruntun di Serie A jika ditarik hingga akhir musim lalu. Namun, Gasperini menghadapi satu masalah besar, sejarah melawan Inter di Olimpico.
Roma terakhir kali mengalahkan Inter di kandang sendiri dalam pertandingan Serie A pada Oktober 2016. Bahkan, Inter memenangi lima pertemuan liga terakhir di Roma dengan agregat 11-2. Dalam 11 pertemuan terakhir, Inter juga sembilan kali keluar sebagai pemenang.
Inter datang dengan daya ledak
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




