Dalam perlombaan ini, setiap peserta membawa truk dengan mngusung sound system. Mereka itu tidak hanya dari wilayah Banyuwangi, tapi juga banyak dari sejumlah kota di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Bali. “Ini rutin digelar setiap akhir Ramadan,” terang salah satu panitia Nanang Susiono, 43.
Menurut Susiono, kegiatan ini sudah menjadi agenda tahunan sejak 2012. Dan ini dilaksanakan di hari terakhir Ramadan atau menjelang Hari Raya Idul Fitri. “Awal kegiatan ini adu patrol yang dimulai pada 1987,” katanya.
Adu sound System tahun ini, jelas dia, yang kali pertama sejak ada wabah Covid-19, dan ini yang paling ramai. Para peserta banyak dari berbagai kota di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Bali. “Kegiatan ini dilaksanakan selama tiga hari,” jelas mantan ketua panitia adu sound 2014 hingga 2018 ini.
Selama tiga hari itu, jelas dia, untuk hari pertama dan kedua agendanya adu sound system. Sedang di hari ketiga kirab dan takbir keliling di Desa Sumbersewu. “Acara ini menjadi ajang promosi operator sound system,” ungkapnya.
Para pemenang dalam adu sound ini, jelas dia, selain mendappatr hadiah dari panitia, juga akan mendapat nilai tambah. Sound systemnya dianggap yang terbaik dan bisa menaikkan harga sewa. “Biasanya yang menang itu banyak orderan, dan itu sewanya bisa naik,” cetusnya.
Untuk kirab takbir keliling, jelas dia, tidak semua peserta akan ikut. Biasanya, yang akan takbir keliling hanya peserta lokal dari Desa Sumbersewu dan Kumendung, Kecamatan Muncar. “Untuk mengurangi gangguan di rumah warga yang dilewati, kami minta peserta mengurangi volume sound systemnya,” katanya.
Salah satu penonton, Ahmad Faizal, 24, mengaku senang dengan adanya kegiatan tersebut. Pemuda yang mengaku dari Kabupaten Jember itu rela jauh-jauh datang ke Desa Sumbersewu untuk menikmati adu sound system itu. “Suka dengarkan sound system, jadi nonton sampai sini (Sumbersewu),” ujarnya.
Menurut Faizal, adu sound system itu sangat digemari oleh pemuda seusianya. Terutama yang tinggal di wilayah pedesaan. “Bisa dibilang ini hiburan yang murah dan meriah,” cetusnya.
Meski bisa menjadi hiburan, beberapa warga yang tinggal di sekitar lokasi adu sound system mengeluhkan kencangnya suara dari para peserta lomba sound system. “Suaranya sangat keras, dan itu menganggu,” terang warga di sekitar lokasi lomba yang minta namanya tidak dikorankan.
Saking kerasnya suara sound system itu, lanjut dia, ada bagian dinding rumah milik warga yang rusak. Dan itu, tidak hanya satu rumah saja. “Ada rumah milik warga yang rusak karena suara sound sangat keras sekali,” terangnya.
Dia bersama beberapa warga lain a sudah melayangkan protes pada panitia. Bentuk protes itu, membuat surat tertulis dan ditandatangani oleh warga yang tinggal di sekitar lapangan, “Banyak yang mengeluh,” katanya kepada Jawa Pos Radar Genteng.(gas/abi) Editor : Agus Baihaqi