Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

BBM Naik, Sopir Angkutan Umum Kelabakan

Ali Sodiqin • Kamis, 15 September 2022 | 18:35 WIB
MENUNGGU PENUMPANG: Dua unit bus parkir di Terminal Brawijaya, Selasa (13/9). (Rizki Slamet/Radar Banyuwangi)
MENUNGGU PENUMPANG: Dua unit bus parkir di Terminal Brawijaya, Selasa (13/9). (Rizki Slamet/Radar Banyuwangi)
BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi membuat para sopir angkutan kota (angkot) di Banyuwangi menjerit. Sebab, selain sepi penumpang, mereka tak berdaya menaikkan tarif angkutan umum tersebut.

Sejumlah pengemudi angkot mengaku sebenarnya ingin menaikkan tarif angkutan pasca kenaikan harga BBM diberlakukan sejak beberapa hari lalu. Namun sayang, para penumpang bersikukuh membayar ongkos angkutan sebagaimana tarif yang dikenakan sebelum kenaikan harga BBM tersebut.

Seperti diutarakan salah satu sopir angkot, Muji. Dia menuturkan, tarif angkot sebelum BBM naik sebesar Rp 5 ribu per orang. “Harga BBM naik dan biaya operasional yang harus kami keluarkan juga naik. Saya berharap masyarakat sadar dengan membayar ongkos lebih tinggi,” ujarnya.

Sopir angkot yang lain, Mashadi, 62, menurutkan, penumpang angkutan kota sepi sejak kehadiran jasa-jasa transportasi lainnya hadir. “Hari ini (kemarin) saya belum dapat penumpang dari pagi, kalau sampai pukul 17.00 belum dapat penumpang, saya pulang dengan tangan kosong,” tuturnya.

Sementara itu, dampak kenaikan BBM juga dirasakan para sopir bus. Salah satunya Kusnan. Pria asal Branggahan, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri mengatakan, sejak harga BBM naik, tarif bus antarkota naik sebesar Rp 10 ribu per orang, yakni dari Rp 95 ribu menjadi Rp105 ribu.

Dia mengaku kenaikan tarif bus antarkota tersebut menyebabkan sejumlah penumpang keberatan. “Ada penumpang yang sadar. Ada pula yang belum sadar berkaitan perubahan tarif dampak kenaikan harga BBM. Tetapi mau bagaimana lagi, mereka tetap harus membayar tarif sebesar Rp 105 ribu,” kata Kusnan.

Kusnan berharap, kenaikan tarif bus antarkota tersebut tidak memicu penurunan jumlah penumpang. “Jika tidak ada penumpang, kami sebagai sopir akan mengalami minus dalam mengoperasikan transportasi bus antarkota,” pungkasnya. (cw1/sgt) Editor : Ali Sodiqin
#Dampak Harga BBM #BBM Naik #pertalite #pertamax #bensin