Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kisah Perang Puputan Bayu Lebih Seram

Syaifuddin Mahmud • Sabtu, 28 Mei 2022 | 15:42 WIB
Photo
Photo
BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi - KKN di Desa Penari kembali trending. Kisah mahasiswa yang menjalani kuliah kerja nyata (KKN) tersebut kini diangkat ke layar lebar. Tak tanggung-tanggung, film tersebut menembus rekor terlaris di Indonesia sepanjang sejarah. Berikut sorotan Aji Satria Rifai, pengamat perfilman asal Genteng yang tinggal di Jogjakarta.

Awalnya sempat dirahasiakan tempat dalam cerita tersebut. Belakangan tempat tersebut ada yang mengklaim di Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi. Mungkin pengarang merasa takut menyinggung warga setempat, tapi justru sebaliknya warga menyambut baik adanya trending cerita itu.

Cerita horor seperti itu sesuatu yang biasa dan tidak terlalu seram bagi warga Banyuwangi.
Ada banyak kejadian kelam di Banyuwangi yang tercatat sejarah, seperti Perang Puputan Bayu, Lubang Buaya Ansor oleh PKI di Cemetuk, Wirjo pembunuh gila, dan ninja Banyuwangi. Kejadian-kejadian itu menelan korban yang tidak sedikit, yakni 60 ribu, 62, 30, dan 309.

Di lokasi yang sama, yakni Desa Bayu, merupakan saksi sejarah kelam yang pernah dialami Banyuwangi dalam pertempuran melawan penjajah Belanda, yakni Perang Puputan Bayu yang merenggut sekitar 60 ribu jiwa warga pribumi pada 18 Desember 1771. ”Ini merupakan tragedi sejarah paling tragis di nusantara. Sayangnya, kejadian ini tak seviral cerita horor KKN,” tegas pria yang pernah mengenyam pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta, Program Studi Film dan TV tersebut.

Perang Puputan Bayu resmi dijadikan momentum Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) yang sebenarnya juga sempat digugat oleh kalangan budayawan dan sejarawan Banyuwangi sejak tahun 2010 silam. Alasannya, momentum Harjaba seharusnya secara administratif ketika pengangkatan bupati pertama Mas Alit pada 7 Desember 1773 atau perpindahan pusat pemerintahan Banyuwangi dari Benculuk ke Banyuwangi pada 24 Oktober 1774.

Selain itu, imbuh Satria, momentum perang itu juga tidak humanis jika dijadikan Harjaba lantaran terdapat sadisme (pribumi mengarak mayat kompeni berkeliling desa). Bahkan, konon juga terdapat kanibalisme. ”Maraknya peminat cerita dan film horor ini mengingatkan saya bersama kawan-kawan budayawan senior untuk mengubah penepatan Hari Jadi Banyuwangi. Semoga hingga hari ini banyak yang tahu tentang sejarah tersebut,” kata alumnus SMAN 2 Genteng tersebut.

Photo
Photo
ASRI : Suasana destinasi wisata Rowo Bayu (Fredy Rizky/RadarBanyuwangi.id)

Menurut Satria, horor sekelas KKN dalam cerita itu tidak sebanding dengan rentetan tragedi yang pernah terjadi di Banyuwangi, khususnya Perang Puputan Bayu. ”Namun, kembali lagi bahwa ini memang sekadar hiburan komersial yang mana memerlukan unsur misteri dan drama dalam sajiannya,” tegas pria kelahiran Genteng tersebut.

Meski kerap menjadi perdebatan tentang keaslian kisahnya, film tersebut digolongkan fiktif karena tokoh, tempat, hingga sumbernya merupakan nama samaran. Diduga kuat dampak dari trending-nya film itu mampu meningkatkan jumlah pengunjung Rowo Bayu jika dibandingkan dengan hari-hari sebelum film itu dirilis.

”Kisah mistis yang ’receh’ ini justru berdampak positif bagi ekonomi kreatif dan pariwisata. Secara teori ini merupakan salah satu bentuk dari fenomena postmodern. Kesan mistis yang dulu dianggap negatif, bahkan ketinggalan zaman, kini dimaknai menjadi bagian dari entertainment yang berbentuk kearifan lokal,” kata Satria yang kini menetap di Jogjakarta.

Alasan prestasi film juga layak dibanggakan karena bisa menjadi branding warga Banyuwangi untuk memajukan sektor pariwisata. Berdasarkan data, film bergenre horor merupakan jenis film yang paling digemari. Genre horor juga merupakan bagian dari kreativitas yang berperan dalam ekonomi kreatif dan sangat mungkin berpotensi masuk dalam kategori jenis destinasi wisata.

”Jika melihat wisata horor yang berbentuk wahana rumah hantu yang berbeda di Jatim Park misalnya, kita bisa lihat bahwa wahana tersebut selalu banyak digemari,” imbuhnya.

Lokasi penting dalam cerita tersebut juga bisa menambah daya tarik wisatawan karena banyak konten video penelusuran mengenai keaslian tempat dalam cerita itu. ”Jika lokasi-lokasi (poskamling, sumur, tempat keramat) itu memang benar, ada kemungkinan besar akan menjadi destinasi wisata baru di Banyuwangi,” tegas Satria.

Banyuwangi memang terkenal mistis dari berbagai kalangan, namun itu belum pernah dideklarasikan secara terang-terangan oleh pemerintah. ”Padahal ketenaran itu merupakan branding bagi Banyuwangi untuk menjadi satu-satunya daerah yang paling mistis di tanah Jawa dan ini merupakan branding yang unik,” tandas pria kelahiran 2 Agustus 1993 tersebut. (fre/aif/c1) Editor : Syaifuddin Mahmud
#desa penari #Rowobayu