JawaPos.com - Tidak ada yang terlihat spesial sebenarnya dari sungai yang disebut warga banyu caruk di Kelurahan Gombengsari, Kelurahan Kalipuro, ini. Saat Jawa Pos Radar Banyuwangi mengunjungi lokasi tersebut, tidak tampak ada perlakuan khusus di sungai yang muncul dari pertemuan dua sungai tersebut.
Lokasinya memang tersembunyi di tengah kebun yang berjarak sekitar lima puluh meter dari permukiman warga. Tetapi, sungai ini mendadak menjadi tempat yang cukup ramai dikunjungi orang, terutama saat perayaan satu suro.
Tentunya mereka ini adalah orang-orang yang sedang melakukan ritual ruwatan atau bersih-bersih dengan cara mandi di sungai. Tarmidi, 37, salah seorang warga yang tinggal di dekat banyu caruk mengaku sering melihat orang yang mandi di sana saat malam-malam tertentu. Semakin ramai saat malam pertama bulan Suro.
Abbas, 83, pemilik tanah yang menjadi lokasi banyu caruk itu menceritakan, sungai tersebut memang sering dimanfaatkan untuk ritual oleh beberapa orang. Tak jarang ada orang yang mengambil air dari sungai tersebut entah untuk keperluan apa.
Anehnya, yang menggunakan justru orang-orang dari luar kota, seperti Surabaya, Probolinggo, dan Jember. Orang Kelurahan Gombengsari sendiri jarang yang menggunakan air tersebut untuk ritual khusus. “Kadang ada orang yang selamatan kecil-kecilan di sini. Waktu saya Tanya ternyata bukan orang Banyuwangi,” kata Abbas.
Jika dilihat lebih lama lagi, lokasi banyu caruk ini memang terlihat sangat nyaman. Meski di bagian atas ada aliran sungai yang masih digunakan sebagian ibu-ibu untuk mandi, tapi saat JP-RaBa berada di titik pertemuan dua sungai itu, tidak terdengar sedikit pun suara orang. Begitu juga suara air yang mengalir hanya terdengar mirip dengan suara orang berbisik.
Abbas menambahkan, jika sebuah bangunan berbentuk kubus yang berada di barat banyu caruk itu dulu digunakan sebagai tempat penyimpanan turbin listrik. Meski saat itu turbin yang beroperasi sampai akhir era Presiden Suharto itu sedang dihidupkan, tapi tidak terdengar sedikit pun bunyi.
Hal itulah yang mungkin membuat banyak orang menggunakan air itu untuk mandi saat Suro. “Biasanya setelah ada ritual mocoan, malam harinya ada orang-orang yang mandi di sini. Orang-orang sini tidak ada masalah, semua sudah tahu. Jadi diam saja,” kata kakek empat cicit itu.
Bagi warga sekitar, air di sungai itu, menurut Abbas, sebenarnya juga dipercaya memiliki khasiat tertentu. Beberapa kali jika akan ada pernikahan warga sekitar, maka keluarga mempelai akan mengisi air kendi dari mata air itu sebagai salah satu pelengkap. Bahkan beberapa warga juga percaya air itu bisa menghilangkan pikiran-pikiran buruk.
Tak jarang Abbas menggunakan air itu untuk mandi jika dirinya sedang menghadapi masalah yang berat dan merasa terganggu pikirannya. “Dulu kalau ada orang seperti kesurupan atau terkena gangguan juga dimandikan di sini. Entah bagaimana caranya, tapi setelah selesai mandi mereka jadi normal,” kisah Abbas.