alexametrics
24.5 C
Banyuwangi
Monday, July 4, 2022

Petani Tebu Keluhkan Giling Tak Lancar

ASEMBAGUS – Proses revitalasi peningkatan kapasitas PG Asembagus saat ini benar-benar membuat petani tebu pusing. Pengiriman tebu-tebu ke PG lain (PG Panji, PG Olean, PG Wringin Anom), tidak berjalan lancar.

Beberapa petani mengeluhkan kondisi demikian. Terutama petani tebu yang giling di PG Asembagus. Seperti yang disampaikan Edi Hamid, petani tebu asal Desa Bantal, Kecamatan Asembagus. Dia mengaku, akibat tidak lancarnya giling, tebu miliknya banyak yang kering.

Dia menerangkan, tebu-tebu yang sudah ditebang tidak langsung dikirim. Masih menunggu beberapa hari lagi. “Bosan nanam tebu kalau begini. Kemarin tebang, sekarang sudah libur. Sampai marah tukang tebang gara-gara libur terus,” katanya.

Dia mengatakan, jika tidak giling langsung, konsekwensinya, berpotensi ditolak pihak PG karena tebu sudah kering. Atas kenyataan ini, dia mengaku sangat dirugikan. “Mau ditanam yang lain saja besok. Rugi kalau mempertahankan tebu,” ujarnya.

Edi mengaku, bukan hanya dirinya yang mengalami kondisi demikian. Petani yang lain yang ada di sekitar Kecamatan Asembagus juga mengalami keadaan serupa. “Banyak yang mengeluh, bukan saya saja,” terangnya.

General Manager PG Asembagus, Ahmad Barnas mengatakan, pengirim tebu Asembagus ketiga PG yang ada di Situbondo dua hari sekali. Hal ini untuk menyiasati antrian di PG. “Hari ini masuk, besok tidak. Betul kalau itu,” katanya.

Dia memastikan, pengiriman tebu tidak akan lebih dari dua hari. Ini berdasarkan surat perintah angkut (SPA) dari PG Asembagus. “Asal minta SPA ke Asembagus. Kalau berangkat sendiri-sendiri, kita nggak ngerti,” katanya.

Barnas menambahkan, petani yang memiliki SPA, tidak akan pernah dirugikan. Artinya, tebu yang sudah ditebang pasti giling. “Coba dipastikan dulu, punya SPA Asembagu atau bukan. Kalau ada SPA, lapor jika ada masalah biar diurus,” sarannya.

Jika ada tebu yang tidak bisa giling, kualitas tebunya perlu dipertanyakan. Kalau tebu memenuhi syarat pasti digiling. Misalnya tidak kotor. “Kalau sampai tidak tergiling, harus dipertanyakan. Mungkin saja kotor. Di PG Asembagus kalau kotor juga ditolak,” pungkasnya. (bib/pri)

ASEMBAGUS – Proses revitalasi peningkatan kapasitas PG Asembagus saat ini benar-benar membuat petani tebu pusing. Pengiriman tebu-tebu ke PG lain (PG Panji, PG Olean, PG Wringin Anom), tidak berjalan lancar.

Beberapa petani mengeluhkan kondisi demikian. Terutama petani tebu yang giling di PG Asembagus. Seperti yang disampaikan Edi Hamid, petani tebu asal Desa Bantal, Kecamatan Asembagus. Dia mengaku, akibat tidak lancarnya giling, tebu miliknya banyak yang kering.

Dia menerangkan, tebu-tebu yang sudah ditebang tidak langsung dikirim. Masih menunggu beberapa hari lagi. “Bosan nanam tebu kalau begini. Kemarin tebang, sekarang sudah libur. Sampai marah tukang tebang gara-gara libur terus,” katanya.

Dia mengatakan, jika tidak giling langsung, konsekwensinya, berpotensi ditolak pihak PG karena tebu sudah kering. Atas kenyataan ini, dia mengaku sangat dirugikan. “Mau ditanam yang lain saja besok. Rugi kalau mempertahankan tebu,” ujarnya.

Edi mengaku, bukan hanya dirinya yang mengalami kondisi demikian. Petani yang lain yang ada di sekitar Kecamatan Asembagus juga mengalami keadaan serupa. “Banyak yang mengeluh, bukan saya saja,” terangnya.

General Manager PG Asembagus, Ahmad Barnas mengatakan, pengirim tebu Asembagus ketiga PG yang ada di Situbondo dua hari sekali. Hal ini untuk menyiasati antrian di PG. “Hari ini masuk, besok tidak. Betul kalau itu,” katanya.

Dia memastikan, pengiriman tebu tidak akan lebih dari dua hari. Ini berdasarkan surat perintah angkut (SPA) dari PG Asembagus. “Asal minta SPA ke Asembagus. Kalau berangkat sendiri-sendiri, kita nggak ngerti,” katanya.

Barnas menambahkan, petani yang memiliki SPA, tidak akan pernah dirugikan. Artinya, tebu yang sudah ditebang pasti giling. “Coba dipastikan dulu, punya SPA Asembagu atau bukan. Kalau ada SPA, lapor jika ada masalah biar diurus,” sarannya.

Jika ada tebu yang tidak bisa giling, kualitas tebunya perlu dipertanyakan. Kalau tebu memenuhi syarat pasti digiling. Misalnya tidak kotor. “Kalau sampai tidak tergiling, harus dipertanyakan. Mungkin saja kotor. Di PG Asembagus kalau kotor juga ditolak,” pungkasnya. (bib/pri)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/