alexametrics
28.1 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Temukan Tiga Gugus Struktur Utuh di Situs Melek

SITUBONDO– Hasil survei penyelamatan berupa eskavasi awal yang dilakukan BPCB Jatim di situs Melek cukup mengejutkan. Temuan-temuan benda yang diduga peninggalan masa pra sejarah, ternyata tidak hanya didapatkan di lahan Sanawi, yang selama ini menjadi titik fokus pemantauan. Melainkan, meluas hingga jarak sekitar lima ratus meter di sekitar lokasi.

  Hariri, Kordinator tim Ekskavasi BPCB Jatim menyampaikan, temuan situs bersejarah cukup berfariatif. Di antaranya, ditemukannya tiga gugus struktur yang masih utuh.

“Gugus struktur yang pertama kami identifikasi sebagai batur atau semacam panggung. Yang saat ini, fungsinya masih belum dapat kami simpulkan. Juga kami temukan dua buah pagar dengan gapura kecil. Jadi yang satu gugus itu berada di sebelah selata, dan pagar lainnya di timur,” jelasnya, kemarin (25/6).

Bahkan berdasarkan analisa dari Hariri, teradapat dua lapis budaya yang sebenarnya berada di Pedukuhan Melek. “Kedua pagar yang kami temukan aslinya terhubung. Kemudian kami amati berdasarkan letak dan struktur penyusunan bata. Ini menyimpulkan, pagar itu menggunakan bata-bata yang digunakan ulang. Sebagian besar adalah bata-bata patahan. Sehingga menurut kami, bata-bata ini diambil dari bangunan lain yang sebelumnya juga pernah ada. kemungkinan dua lapis budaya,” bebernya.

Namun, kata Hariri, untuk keberadaan budaya yang lebih dalam lagi, menurut hariri dirinya masih belum dapat memastikan. “Sebenarnya keberadaan dua lapis kebudayaan itu masih berupa dugaan. Karena kami melihat, bata yang digunakan adalah bata bekas yang diambil di tempat lain,” tuturnya.

Menurut Hariri, dirinya sudah melakukan perbandingan antara temuan-temuan di lokasi situs dengan lokasi sekitar. “Hasilnya, kami melihat ketinggian temuan berbeda. Ada yang ditemukan hanya pada kedalaman 20 centimeter. Namun ada pula yang ditemukan dengan kedalaman hingga satu atau dua meter. Jadi ini masih memerlukan analisi lebih lanjut,” paparnya.

Relawan Budaya Balumbung, Irwan Rakhday berharap, para pegiat sejarah semakin termotivasi untuk melakukan kajian dan pelstarian sejarah. “Sejak tahun 2013, advokasi telah dilakukan para pegiat sejarah. Saat ini adalah momentum pelesatarian yang luar biasa. ini awal yang bagus untuk penanganan tinggalan-tinggalan arkeologi. Khususnya yang diduga sebagai peninggalan masa klasik,” jelasnya. (zul/pri)

SITUBONDO– Hasil survei penyelamatan berupa eskavasi awal yang dilakukan BPCB Jatim di situs Melek cukup mengejutkan. Temuan-temuan benda yang diduga peninggalan masa pra sejarah, ternyata tidak hanya didapatkan di lahan Sanawi, yang selama ini menjadi titik fokus pemantauan. Melainkan, meluas hingga jarak sekitar lima ratus meter di sekitar lokasi.

  Hariri, Kordinator tim Ekskavasi BPCB Jatim menyampaikan, temuan situs bersejarah cukup berfariatif. Di antaranya, ditemukannya tiga gugus struktur yang masih utuh.

“Gugus struktur yang pertama kami identifikasi sebagai batur atau semacam panggung. Yang saat ini, fungsinya masih belum dapat kami simpulkan. Juga kami temukan dua buah pagar dengan gapura kecil. Jadi yang satu gugus itu berada di sebelah selata, dan pagar lainnya di timur,” jelasnya, kemarin (25/6).

Bahkan berdasarkan analisa dari Hariri, teradapat dua lapis budaya yang sebenarnya berada di Pedukuhan Melek. “Kedua pagar yang kami temukan aslinya terhubung. Kemudian kami amati berdasarkan letak dan struktur penyusunan bata. Ini menyimpulkan, pagar itu menggunakan bata-bata yang digunakan ulang. Sebagian besar adalah bata-bata patahan. Sehingga menurut kami, bata-bata ini diambil dari bangunan lain yang sebelumnya juga pernah ada. kemungkinan dua lapis budaya,” bebernya.

Namun, kata Hariri, untuk keberadaan budaya yang lebih dalam lagi, menurut hariri dirinya masih belum dapat memastikan. “Sebenarnya keberadaan dua lapis kebudayaan itu masih berupa dugaan. Karena kami melihat, bata yang digunakan adalah bata bekas yang diambil di tempat lain,” tuturnya.

Menurut Hariri, dirinya sudah melakukan perbandingan antara temuan-temuan di lokasi situs dengan lokasi sekitar. “Hasilnya, kami melihat ketinggian temuan berbeda. Ada yang ditemukan hanya pada kedalaman 20 centimeter. Namun ada pula yang ditemukan dengan kedalaman hingga satu atau dua meter. Jadi ini masih memerlukan analisi lebih lanjut,” paparnya.

Relawan Budaya Balumbung, Irwan Rakhday berharap, para pegiat sejarah semakin termotivasi untuk melakukan kajian dan pelstarian sejarah. “Sejak tahun 2013, advokasi telah dilakukan para pegiat sejarah. Saat ini adalah momentum pelesatarian yang luar biasa. ini awal yang bagus untuk penanganan tinggalan-tinggalan arkeologi. Khususnya yang diduga sebagai peninggalan masa klasik,” jelasnya. (zul/pri)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/