alexametrics
25.5 C
Banyuwangi
Wednesday, July 6, 2022

Tiga Warga Disambar Petir, Satu Orang Meninggal

PANARUKAN – Budiadi, warga Dusun Barat Kebun, Desa Wringinanom, Kecamatan Panarukan, Situbondo, meninggal dunia setelah disambar petir, Kamis (25/11). Pria berumur 43 tahun tersebut langsung tewas di tempat. Itu terjadi pada saat koban memupuk padi di sawah milik  tetangganya.

Selain Budiadi, warga lainnya yang ikut menjadi korban adalah Asmojo. Namun, pria ini tak sampaik kehilangan nyawa. Asmodo hanya tidak sadarkan diri. Begitu mendapat perawatan di Rumah Sakit Abdoer Rahem Situbondo dia siuman.

Namun, saat koran ini sampai di rumah sakit plat merah tersebut, Asmojo masih belum bisa diajak berkomunikasi. Kemungkinan dia masih mengalami trauma mendalam. Matanya hanya melihat melihat-lihat keadaan sekeliling.

Camat Panarukan, Adik Supriyadi mengatakan, kejadian tersebut bermula pada saat almarhum Budiadi, sedang memupuk padi di sawah milik tetangganya, bersama dengan temanya yaitu Asmojo. Setelah memupuk  sekitar pukul 11.00, dia sempat pulang melaksanakan Salat Duhur. Kemudian,  kembali lagi ke sawah untuk membersihkan rumput di sela-sela padi.

“Pada waktu hujan deras, keduanya masih bekerja. Sekitar pukul 01.00, keduanya disambar petir dan mengakibatkan satu orang meninggal. Satu orang lagi tidak sadarkan diri alias pingsan. Langsung dilarikan ke RSUD,” ujar Supriyadi.

Jenazah Budiadi tidak dibawa ke rumah sakit. Sebab, pihak keluarganya menyadari apa yang menimpa anggota keluarganya itu sebagai sebuah musibah. Jenazah pria dengan dua anak itu langsung dibawa ke rumah duka.

“Saya sudah konfirmasi terhadap keluarga almarhum. Jawaban mereka, sudah menerima takdir tersebut, dan tidak berkenan jika jenazah almarhum dibawa ke RSUD. Mereka hanya mengingakan doa dari semua yang mengetahui kejadian tersebut, agar almarhum didoakan, dan amal baiknya diterima Allah, karena sebelum meninggal korban masih sempat melakukan salat duhur di rumahnya,” imbuh Supriayadi.

Supriyadi menyampaikan, untuk satu korban lagi, Asmojo sudah mendapatkan penanganan rumah sakit. Namun, kondisinya belum stabil, meski hasil pemeriksaan dokter menyatakan yang bersangkutan tidak mengalami apa-apa.

“Menurut dokter, jantung dan paru-paru maupun bagian dalam Pak Asmojo tidak mengalami cidera. Kondisinya baik-baik saja. Namun, dalam dua-tiga hari ini, kekek tersebut belum boleh pulang, untuk menadapatakan penanganan. Baru boleh pulang  ketika benar-benar sembuh,” jelasnya.

Informasi yang dikumpulkan koran ini, dalam insiden tersebut sebenarnya tidak hanya merenggut dua korban. Tapi tiga orang. Yang satu oeang lagi tidak mengalami cidera. Sebab, jaraknya cukup jauh. “Dalam kejadian itu sebenrnya ada tiga orang, untuk yang satu ini namanya Muji, 40, tapi dia hanya merasakan trauma, dan tidak dibawa kemana-mana,” pungkas Supriyadi. (mg1/pri)

PANARUKAN – Budiadi, warga Dusun Barat Kebun, Desa Wringinanom, Kecamatan Panarukan, Situbondo, meninggal dunia setelah disambar petir, Kamis (25/11). Pria berumur 43 tahun tersebut langsung tewas di tempat. Itu terjadi pada saat koban memupuk padi di sawah milik  tetangganya.

Selain Budiadi, warga lainnya yang ikut menjadi korban adalah Asmojo. Namun, pria ini tak sampaik kehilangan nyawa. Asmodo hanya tidak sadarkan diri. Begitu mendapat perawatan di Rumah Sakit Abdoer Rahem Situbondo dia siuman.

Namun, saat koran ini sampai di rumah sakit plat merah tersebut, Asmojo masih belum bisa diajak berkomunikasi. Kemungkinan dia masih mengalami trauma mendalam. Matanya hanya melihat melihat-lihat keadaan sekeliling.

Camat Panarukan, Adik Supriyadi mengatakan, kejadian tersebut bermula pada saat almarhum Budiadi, sedang memupuk padi di sawah milik tetangganya, bersama dengan temanya yaitu Asmojo. Setelah memupuk  sekitar pukul 11.00, dia sempat pulang melaksanakan Salat Duhur. Kemudian,  kembali lagi ke sawah untuk membersihkan rumput di sela-sela padi.

“Pada waktu hujan deras, keduanya masih bekerja. Sekitar pukul 01.00, keduanya disambar petir dan mengakibatkan satu orang meninggal. Satu orang lagi tidak sadarkan diri alias pingsan. Langsung dilarikan ke RSUD,” ujar Supriyadi.

Jenazah Budiadi tidak dibawa ke rumah sakit. Sebab, pihak keluarganya menyadari apa yang menimpa anggota keluarganya itu sebagai sebuah musibah. Jenazah pria dengan dua anak itu langsung dibawa ke rumah duka.

“Saya sudah konfirmasi terhadap keluarga almarhum. Jawaban mereka, sudah menerima takdir tersebut, dan tidak berkenan jika jenazah almarhum dibawa ke RSUD. Mereka hanya mengingakan doa dari semua yang mengetahui kejadian tersebut, agar almarhum didoakan, dan amal baiknya diterima Allah, karena sebelum meninggal korban masih sempat melakukan salat duhur di rumahnya,” imbuh Supriayadi.

Supriyadi menyampaikan, untuk satu korban lagi, Asmojo sudah mendapatkan penanganan rumah sakit. Namun, kondisinya belum stabil, meski hasil pemeriksaan dokter menyatakan yang bersangkutan tidak mengalami apa-apa.

“Menurut dokter, jantung dan paru-paru maupun bagian dalam Pak Asmojo tidak mengalami cidera. Kondisinya baik-baik saja. Namun, dalam dua-tiga hari ini, kekek tersebut belum boleh pulang, untuk menadapatakan penanganan. Baru boleh pulang  ketika benar-benar sembuh,” jelasnya.

Informasi yang dikumpulkan koran ini, dalam insiden tersebut sebenarnya tidak hanya merenggut dua korban. Tapi tiga orang. Yang satu oeang lagi tidak mengalami cidera. Sebab, jaraknya cukup jauh. “Dalam kejadian itu sebenrnya ada tiga orang, untuk yang satu ini namanya Muji, 40, tapi dia hanya merasakan trauma, dan tidak dibawa kemana-mana,” pungkas Supriyadi. (mg1/pri)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/