alexametrics
25.6 C
Banyuwangi
Thursday, August 11, 2022

Harga Cabai Rawit Tembus Rp 90 Ribu, Pedagang Mengeluh Sering Tak Balik Modal

PANJI, Radar Situbondo – Harga cabai rawit makin meroket. Pantauan koran ini di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Situbondo, Minggu (26/6), harganya kini naik menjadi Rp 90 ribu perkilogram. Keadaan ini membuat pembeli maupun pedangan mengeluh.

Seperti yang terjadi di Pasar Panji. Banyak pedagang mengaku sulit mendapatkan untung. Sasmiyati, misalnya. Kata dia, harga cabai sudah dua bulan tidak mengalami penurunan dari angka Rp 80 ribu. “Sekarang sudah Rp 90 ribu. Bukan hanya mahal, tapi di luar batas wajar. Apalagi, cabai yang dipasok saat ini banyak campuran. Ada yang masih hijau. Pembeli maunya merah saja. Terus kita mau lepas berapa kepada pembeli?,” ungkap Sasmiyati.

Kata dia, rata-rata pedagang yang ada di Pasar Panji menyediakan stok cabai rawit sedikit. Sebab, banyak pedagang yang mengaku mengalami kerugian ketika mengambil stok terlalu banyak. Saat ini saja, meski sudah menyetok sedikit, namun masih sulit bagi pedagang untuk mengahabiskan.

Baca Juga :  Tiap Hari Distribusi Ratusan Nasi Bungkus untuk Korban Erupsi Semeru

“Sekarang saya menjual cabai sepuluh kilogram perhari. Itu butuh waktu dua kadang tiga hari. Otomatis, kalau penjulan lambat, pedagang tidak bakalan untung. Yang ada hanya rugi. Bahkan modal pun tidak kembali,” ungkap warga Kelurahan Panji itu.

Menurutnya, berjualan cabai harus bisa memprediksi kapan cabai akan habis. Sehingga, dari sana bisa memutuskan berapa kilogram yang harus dibeli dari pemasok. Kalau tidak paham, maka tidak akan mengantongi keuntungan. Sebab, timbangan cabai cepat berubah. Bukan hanya beratnya yang susut, tetapi juga banyak cabai yang membusuk.

“Jual cabai itu tidak gampang, kalau sekarang saru kilogram, besok bisa turun dua ons. Lain lagi kalau banyak yang busuk, dalam satu kilo bisa hilang sampai 3 ons. Sedangkan pembeli maunya yang merah terus yang murah, tapi minta banyak. Pokoknya repot kalau cabai, tidak mau jual kasihan sama pembeli,” cetus Sasmiayati.

Baca Juga :  Desak Pemerintah Bangun Museum Cagar Budaya

Sasmiyati menyebutkan, untuk saat ini pasokan cabai rawit masih jarang dari Situbondo. Kalau pun ada pasokan cabai, yang dibawa banyak cabai putih dan cabai besar. Sedangakn cabai tersebut jarang dibeli. Pasokan cabai rawit dalam dua bulan ini kebanyakan dari luar kota. “Kebetulan cabai yang saya jual sekarang membeli dari orang kediri, beberapa hari yang lalu dari Banyuwangi, kalau cabai yang asli Situbondo saya rasa jarang sekali,” pungkas Sasmiyati. (hum/pri)

PANJI, Radar Situbondo – Harga cabai rawit makin meroket. Pantauan koran ini di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Situbondo, Minggu (26/6), harganya kini naik menjadi Rp 90 ribu perkilogram. Keadaan ini membuat pembeli maupun pedangan mengeluh.

Seperti yang terjadi di Pasar Panji. Banyak pedagang mengaku sulit mendapatkan untung. Sasmiyati, misalnya. Kata dia, harga cabai sudah dua bulan tidak mengalami penurunan dari angka Rp 80 ribu. “Sekarang sudah Rp 90 ribu. Bukan hanya mahal, tapi di luar batas wajar. Apalagi, cabai yang dipasok saat ini banyak campuran. Ada yang masih hijau. Pembeli maunya merah saja. Terus kita mau lepas berapa kepada pembeli?,” ungkap Sasmiyati.

Kata dia, rata-rata pedagang yang ada di Pasar Panji menyediakan stok cabai rawit sedikit. Sebab, banyak pedagang yang mengaku mengalami kerugian ketika mengambil stok terlalu banyak. Saat ini saja, meski sudah menyetok sedikit, namun masih sulit bagi pedagang untuk mengahabiskan.

Baca Juga :  Dua Tersangka Ilegal Logging Dilimpahkan ke Kejari

“Sekarang saya menjual cabai sepuluh kilogram perhari. Itu butuh waktu dua kadang tiga hari. Otomatis, kalau penjulan lambat, pedagang tidak bakalan untung. Yang ada hanya rugi. Bahkan modal pun tidak kembali,” ungkap warga Kelurahan Panji itu.

Menurutnya, berjualan cabai harus bisa memprediksi kapan cabai akan habis. Sehingga, dari sana bisa memutuskan berapa kilogram yang harus dibeli dari pemasok. Kalau tidak paham, maka tidak akan mengantongi keuntungan. Sebab, timbangan cabai cepat berubah. Bukan hanya beratnya yang susut, tetapi juga banyak cabai yang membusuk.

“Jual cabai itu tidak gampang, kalau sekarang saru kilogram, besok bisa turun dua ons. Lain lagi kalau banyak yang busuk, dalam satu kilo bisa hilang sampai 3 ons. Sedangkan pembeli maunya yang merah terus yang murah, tapi minta banyak. Pokoknya repot kalau cabai, tidak mau jual kasihan sama pembeli,” cetus Sasmiayati.

Baca Juga :  Tiap Hari Distribusi Ratusan Nasi Bungkus untuk Korban Erupsi Semeru

Sasmiyati menyebutkan, untuk saat ini pasokan cabai rawit masih jarang dari Situbondo. Kalau pun ada pasokan cabai, yang dibawa banyak cabai putih dan cabai besar. Sedangakn cabai tersebut jarang dibeli. Pasokan cabai rawit dalam dua bulan ini kebanyakan dari luar kota. “Kebetulan cabai yang saya jual sekarang membeli dari orang kediri, beberapa hari yang lalu dari Banyuwangi, kalau cabai yang asli Situbondo saya rasa jarang sekali,” pungkas Sasmiyati. (hum/pri)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/