alexametrics
28.2 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

Sudah Bilang Punya Alergi pada Petugas, Tapi Tetap Divaksin

SITUBONDO – Kondisi  Hardi Maret Saputra mulai membaik. Siswa SD tersebut hingga kini masih menjalani perawatan di ruang ICU RS dr. Abdoer Rahem Situbondo. Hari ini sudah memasuki hari keempat. Bocah sembilan tahun tersebut sempat dikabarkan sakit setelah tiga hari divaksin. Namun rumah sakit menilai itu lantaran organ dalam yang bersangkutan bermasalah. 

Suhartatik, ibu Hardi mengatakan, anaknya memang memiliki alergi gatal-gatal sejak usia dua tahun. Mulai duduk di bangku PAUD hingga lulus TK masih belum sembuh. Bahkan,  hingga masuk SD kelas satu, Hardi tetap memiliki penyakit gatal-gatal. “Anak saya mulai minum obat dari kelas satu SD, sekitar lima tahun mengonsumsi obat gatal-gatal. Beberapa bulan ini orangnya sudah jarang minta,” katanya.

Warga Lingkungan Karangasem, Kelurahan Patokan, Kecamatan/Kota Situbondo itu mengatakan, anaknya dalam keadaan baik-baik saja sebelum divaksin. “Mengikuti vaksin di sekolahnya. Sebelum disuntik, dilakukan skrining terlebih dahulu. Saya juga menyaksikan. Waktu mau disuntik vaksin, saya sudah bilang sama dokternya. Anak saya punya penyakit alergi. Dokternya menjawab: tidak apa-apa,” imbuh Tatik.

Kata dia, dirinya tidak memiliki firasat aneh. Sebab, semua temannya juga disuntik vaksin dan tidak mengalami masalah. Apalagi, itu juga sudah menjadi aturan sekolah. Setiap murid yang usianya enam sampai sebelas tahun harus disuntik vaksin. “Iya saya pasrah saja, namanya juga anak sekolah, kan memang harus disuntik vaksin, katanya biar tidak terkena Covid-19,” jelasnya.

Disebutkan, gejala tidak nyaman mulai dirasakan Hardi tiga hari setelah disuntik vaksin. Anaknya mengatakan pusing. Tatik pun menyuruh Hardi tidur di kamar. Setelah itu, ayah hardi datang dan masuk ke kamar.  Kondisi Hardi ketika itu sudah seperti orang kena stroke. Tangannya kaku dan sulit untuk diluruskan.

“Yang kaku itu bukan hanya tangannya, kakinya juga kaku. Karena panik kami hanya mengompresnya menggunakan air hangat. Dan alhamdulillah, tangan dan kakinya bisa diluruskan. Karena panik kami langsung membawanya ke puskesmas terdekat sebelum ahirnya dirujuk ke sini (RSUD),” paparnya.

Direktur Rumah Sakit dr. Abdoer Rahem Situbondo dr. Roekmy Prabarini mengatakan, kurang begitu memahami tanya jawab yang dilakukan oleh bagian nakes saat melakukan skrening sebelum suntik vaksin. Yang jelas, sebelum dilakukan suntik vaksin harus ada tanya jawab, apakah anak yang akan di suntik memiliki alergi atau tidak. “Mungkin  pasiennya tidak menyampaikan kalau memiliki penyakit alergi,” kata Rukmi.

Menurutnya, kondisi anak tersebut, sudah memmbaik setelah mendapat perawatan dalam tiga hari. orangnya sudah bisa duduk, dan tidak menjerit. ”Hasil pemeriksaan menandakan bahwa adanya gangguan pada liver, beserta ada temuan faktor lain akibat inveksi. Bahkan, pasien tersebut selama lima tahun mengonsumsi obat gatal,” pungkas Rukmi. (hum/pri)

SITUBONDO – Kondisi  Hardi Maret Saputra mulai membaik. Siswa SD tersebut hingga kini masih menjalani perawatan di ruang ICU RS dr. Abdoer Rahem Situbondo. Hari ini sudah memasuki hari keempat. Bocah sembilan tahun tersebut sempat dikabarkan sakit setelah tiga hari divaksin. Namun rumah sakit menilai itu lantaran organ dalam yang bersangkutan bermasalah. 

Suhartatik, ibu Hardi mengatakan, anaknya memang memiliki alergi gatal-gatal sejak usia dua tahun. Mulai duduk di bangku PAUD hingga lulus TK masih belum sembuh. Bahkan,  hingga masuk SD kelas satu, Hardi tetap memiliki penyakit gatal-gatal. “Anak saya mulai minum obat dari kelas satu SD, sekitar lima tahun mengonsumsi obat gatal-gatal. Beberapa bulan ini orangnya sudah jarang minta,” katanya.

Warga Lingkungan Karangasem, Kelurahan Patokan, Kecamatan/Kota Situbondo itu mengatakan, anaknya dalam keadaan baik-baik saja sebelum divaksin. “Mengikuti vaksin di sekolahnya. Sebelum disuntik, dilakukan skrining terlebih dahulu. Saya juga menyaksikan. Waktu mau disuntik vaksin, saya sudah bilang sama dokternya. Anak saya punya penyakit alergi. Dokternya menjawab: tidak apa-apa,” imbuh Tatik.

Kata dia, dirinya tidak memiliki firasat aneh. Sebab, semua temannya juga disuntik vaksin dan tidak mengalami masalah. Apalagi, itu juga sudah menjadi aturan sekolah. Setiap murid yang usianya enam sampai sebelas tahun harus disuntik vaksin. “Iya saya pasrah saja, namanya juga anak sekolah, kan memang harus disuntik vaksin, katanya biar tidak terkena Covid-19,” jelasnya.

Disebutkan, gejala tidak nyaman mulai dirasakan Hardi tiga hari setelah disuntik vaksin. Anaknya mengatakan pusing. Tatik pun menyuruh Hardi tidur di kamar. Setelah itu, ayah hardi datang dan masuk ke kamar.  Kondisi Hardi ketika itu sudah seperti orang kena stroke. Tangannya kaku dan sulit untuk diluruskan.

“Yang kaku itu bukan hanya tangannya, kakinya juga kaku. Karena panik kami hanya mengompresnya menggunakan air hangat. Dan alhamdulillah, tangan dan kakinya bisa diluruskan. Karena panik kami langsung membawanya ke puskesmas terdekat sebelum ahirnya dirujuk ke sini (RSUD),” paparnya.

Direktur Rumah Sakit dr. Abdoer Rahem Situbondo dr. Roekmy Prabarini mengatakan, kurang begitu memahami tanya jawab yang dilakukan oleh bagian nakes saat melakukan skrening sebelum suntik vaksin. Yang jelas, sebelum dilakukan suntik vaksin harus ada tanya jawab, apakah anak yang akan di suntik memiliki alergi atau tidak. “Mungkin  pasiennya tidak menyampaikan kalau memiliki penyakit alergi,” kata Rukmi.

Menurutnya, kondisi anak tersebut, sudah memmbaik setelah mendapat perawatan dalam tiga hari. orangnya sudah bisa duduk, dan tidak menjerit. ”Hasil pemeriksaan menandakan bahwa adanya gangguan pada liver, beserta ada temuan faktor lain akibat inveksi. Bahkan, pasien tersebut selama lima tahun mengonsumsi obat gatal,” pungkas Rukmi. (hum/pri)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/