29.1 C
Banyuwangi
Tuesday, May 30, 2023

Kemenag Luruskan Lomba Bola Voli Ricuh

SITUBONDO, Jawa Pos Radar Situbondo – Kantor Kementerian Agama mengklarifikasi gonjang-ganjing kericuhan lomba voli dalam rangka HUT KORPRI yang terjadi Rabu lalu (23/11). Dikatakan, peristiwa tersebut terjadi lantaran tim Kemenag dipojokkan sebelum pertandingan dimulai.

Kasubbag TU Kemenag Kementrian Agama (Kemenag) Situbonodo, Imam Turmidzi menjelaskan, peristiwa tersebut berawal saat tim Kemenag mendapat panggilan dari panitia. Namun, tidak langsung datang lantaran keadaan waktu itu sangat ramai dan berisik. Sehingga panggilan yang berulang-ulang tidak terdengar.

Begitu tim Kemenag Situbondo sampai di hadapan panitia, langsung disalahkan oleh salah satu pemain Satpol PP. Tim Kemenag dinilai lelet mendatangi panggilan. “Padahal,  begitu kami dengar panggilan sudah langsung menuju ka tempat panitia. Kan jaraknya jauh, dari belakang Pemda ke tempat panitia yang berada di dalam gedung pemda. Setelah kami kumpul tim Satpol PP langsung melakukan provokasi,” kata Imam Turmidi.

Tak berhenti sampai di situ saja, tim Satpol PP juga mempermasalahkan salah satu pemain Kemenag bernama Bayu. Dia dinilai sebagai pemain yang disewa dan dikira bukan pegawai Kemenag. “Saat nama Bayu ditanyakan sebagai pegawai kemenag, ya saya sampaikan benar. Bahwa Bayu adalah guru di Madrasah Aliyah NU Asembagus,” kata Imam.

Baca Juga :  Dampak Tragedi Kanjuruhan, Liga Bupati Situbondo Dihentikan Sementara

Setelah ditelusuri lebih lanjut, kecurigaan terhadap bayu itu dari salah satu anggota Satpol PP yang memang sering bermain bola voli dengan Bayu. Dia lah yang mengira Bayu bukan bagian dari Kemenag Situbondo. “Artinya, anggota Satpol PP itu tidak mengetahui jika bayu adalah seorang guru. Padahal dalam aplikasi yang kami miliki, Bayu sudah menjadi guru lima tahun yang lalu,” jelas kemenag.

Keadaan sempat menghangat. Namun hanya sebatas perang mulut karena saling mempertahankan pendapat. Kemudian, Sekda datang untuk menengahi. Tim Kemenag hanya mendengarkan arahan dari Sekda. Habis itu, Kemenag langsung melanjutkan permainan, kerena Sekda sudah memerintahkan untuk melanjutkan.

“Begitu tim Kemenag sudah melanjutkan permainan, tim Satpol PP yang kembali bertengkar dengar panitia pelaksana. Kami sendiri sudah banyak mengalah, memilih tidak melawan dengan keras, kami menghindar,” tegasnya.

Baca Juga :  Penanaman Porang Disarankan Ada Penelitian Konfrehensif

Sementara itu, Official tim bola voli Satpol PP, Eko Priono menerangkan, anggota  Satpol menduga jika Kemenag sudah menyewa pemain dari luar OPD. Padahal, itu merupakan pelanggaran. Selain itu juga membuat pertandingan tidak berimbang.

“Kami minta daftar pemain tim Kemenag, tapi mereka (Kemenag) tidak bisa menujukan. Alasannya masih proses katanya, padahal sebelum bermain seharusnya semua tim yang akan bertanding harus menyerahkan daftar pemainnya,” ungkap Eko Priono,

Kata dia, jika permainan tidak dilakukan sesuai dengan aturan, maka akan ada pihak yang dirugikan. “Kan ini lomba khusus OPD. Tapi kalau yang menyewa dari luar dibiarkan kan tidak adil namanya,” Cetus Eko. (hum/pri)

SITUBONDO, Jawa Pos Radar Situbondo – Kantor Kementerian Agama mengklarifikasi gonjang-ganjing kericuhan lomba voli dalam rangka HUT KORPRI yang terjadi Rabu lalu (23/11). Dikatakan, peristiwa tersebut terjadi lantaran tim Kemenag dipojokkan sebelum pertandingan dimulai.

Kasubbag TU Kemenag Kementrian Agama (Kemenag) Situbonodo, Imam Turmidzi menjelaskan, peristiwa tersebut berawal saat tim Kemenag mendapat panggilan dari panitia. Namun, tidak langsung datang lantaran keadaan waktu itu sangat ramai dan berisik. Sehingga panggilan yang berulang-ulang tidak terdengar.

Begitu tim Kemenag Situbondo sampai di hadapan panitia, langsung disalahkan oleh salah satu pemain Satpol PP. Tim Kemenag dinilai lelet mendatangi panggilan. “Padahal,  begitu kami dengar panggilan sudah langsung menuju ka tempat panitia. Kan jaraknya jauh, dari belakang Pemda ke tempat panitia yang berada di dalam gedung pemda. Setelah kami kumpul tim Satpol PP langsung melakukan provokasi,” kata Imam Turmidi.

Tak berhenti sampai di situ saja, tim Satpol PP juga mempermasalahkan salah satu pemain Kemenag bernama Bayu. Dia dinilai sebagai pemain yang disewa dan dikira bukan pegawai Kemenag. “Saat nama Bayu ditanyakan sebagai pegawai kemenag, ya saya sampaikan benar. Bahwa Bayu adalah guru di Madrasah Aliyah NU Asembagus,” kata Imam.

Baca Juga :  Evaluasi Hasil, KONI Bakal Siapkan Seleksi Ketat Hadapi Porprov 2023

Setelah ditelusuri lebih lanjut, kecurigaan terhadap bayu itu dari salah satu anggota Satpol PP yang memang sering bermain bola voli dengan Bayu. Dia lah yang mengira Bayu bukan bagian dari Kemenag Situbondo. “Artinya, anggota Satpol PP itu tidak mengetahui jika bayu adalah seorang guru. Padahal dalam aplikasi yang kami miliki, Bayu sudah menjadi guru lima tahun yang lalu,” jelas kemenag.

Keadaan sempat menghangat. Namun hanya sebatas perang mulut karena saling mempertahankan pendapat. Kemudian, Sekda datang untuk menengahi. Tim Kemenag hanya mendengarkan arahan dari Sekda. Habis itu, Kemenag langsung melanjutkan permainan, kerena Sekda sudah memerintahkan untuk melanjutkan.

“Begitu tim Kemenag sudah melanjutkan permainan, tim Satpol PP yang kembali bertengkar dengar panitia pelaksana. Kami sendiri sudah banyak mengalah, memilih tidak melawan dengan keras, kami menghindar,” tegasnya.

Baca Juga :  Penanaman Porang Disarankan Ada Penelitian Konfrehensif

Sementara itu, Official tim bola voli Satpol PP, Eko Priono menerangkan, anggota  Satpol menduga jika Kemenag sudah menyewa pemain dari luar OPD. Padahal, itu merupakan pelanggaran. Selain itu juga membuat pertandingan tidak berimbang.

“Kami minta daftar pemain tim Kemenag, tapi mereka (Kemenag) tidak bisa menujukan. Alasannya masih proses katanya, padahal sebelum bermain seharusnya semua tim yang akan bertanding harus menyerahkan daftar pemainnya,” ungkap Eko Priono,

Kata dia, jika permainan tidak dilakukan sesuai dengan aturan, maka akan ada pihak yang dirugikan. “Kan ini lomba khusus OPD. Tapi kalau yang menyewa dari luar dibiarkan kan tidak adil namanya,” Cetus Eko. (hum/pri)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/