Sabtu, 23 Oct 2021
Radar Banyuwangi
Home / Situbondo
icon featured
Situbondo

Kisah Jumadin, Mantan Nelayan Jangkar yang Beralih Usaha Ikan Kering

25 September 2021, 07: 30: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Kisah Jumadin, Mantan Nelayan Jangkar yang Beralih Usaha Ikan Kering

AKTIVITAS SEHARI-HARI: Jumadin menjemur ikan di halaman rumahnnya di Desa Jangkar, Kecamatan Jangkar (21/9), kemarin. (Humaidi/RadarBanyuwangi.id)

Share this      

JANGKAR – Jumadin memutuskan berhenti menjadi nelayan karena usia yang sudah senja. Kini dia memilih menekuni usaha ikan kering.

Usia Jumadin sudah 70 tahun. Dia tinggal di Desa/Kecamatan Jangkar. Menjalankan usaha berjualan ikan kering baginya sudah nyaman, dibandingkan jika harus pergi ke tengah laut. Tak  jarang, dia diterjang ombak dan angin yang tidak bersahabat. Padahal usianya sudah tak lagi muda.

"Kemampuan saya saat ini sudah tidak seperti dulu lagi, yang bisa pergi menangkap ikan di tengah laut. Kadang faktor angin bisa berdampak pada kesehatan saya sendiri," ujarnya kepada koran ini, selasa (21/9) kemarin.

Baca juga: PG Pandjie-Pemdes Tenggir Bersitegang, Penebangan Tebu Dijaga Aparat

Jumadin mengaku, pertama kali dia menekuni usaha ikan kering pada tahun 2020. Dia membutuhkan modal sebesar Rp 500 ribu. Beruntung dia memiliki tabungan yang bisa dia gunakan sebagai modal usaha.

"Awalnya saya menjalani usaha ikan kering ini menghabiskan modal sekitar Rp 500 ribu. Untuk biaya ikan sebanyak setengah kwintal harganya sebesar Rp 400 ribu saat itu, serta biaya bumbu sekitar Rp 100 ribu," ucapnya.

Selama menjadi pengusaha ikan kering, Jumadin mengaku tidak begitu kesulitan mencari pelanggan. Sebab, dia sudah memiliki pelanggan tetap sejak masih aktif menjadi nelayan. "Pelanggan tetap saya masih ada, sebagiaan besar di Pasar Jangkar sini, juga dari masyarakat yang biasanya rutin membeli ikan ke saya," ungkapnya.

Terkadang,  dalam satu hari ikan yang dia jual bisa habis sebanyak satu kwintal. Satu kilogram ikan kering, dijual dengan harga Rp 50 ribu sampai Rp 70 ribu tergantung persediaan ikan. “Kalau persediaan ikan yang dibeli dari nelayan melimpah, harga jual saya Rp 50 ribu. Namun, jika terbatas, maka saya jual dengan harga Rp 70 ribu," jelasnya.

Dalam Setiap harinya, Jumadin memproduksi ikan kering dari nelayan. Dia proses sendiri sampai pada penjemuran. “Itu saya lakukan tiap hari. Agar pelanggan saya tetap bisa mendapatkan ikan kering yang saya jual,” terangnya.

Musim panas seperti saat ini, menjadi keuntungan tersendiri bagi Jumadin. Sebab, proses penjemuran ikan membutuhkan terik matahari yang cukup.  Sehingga, dalam waktu sehari saja penjemuran sudah cukup.

"Kalau pas keadaan panas seharian, proses penjemuran ikan dalam sehari sudah selesai. Tapi kalau panasnya terbatas, bisa membutuhkan waktu dua sampai tiga hari. Baru bisa kering merata ikan yang saya jemur," ungkapnya.

Hasil yang didapatkan Jumadi setiap harinya berkisar di angka Rp 50 ribu. Bagi sebagian orang nominal itu mungkin tak seberapa. namun, bagi jumadin seorang kakek yang kekuatannya sudah lemah, harga segitu sudah sangat besar nilainya. (mg1/pri)

(bw/*/als/JPR)

©2021 PT. JawaPos Group Multimedia