alexametrics
25.3 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Perceraian Didominasi Cerai Gugat, 268 laki-laki Pun Jadi Duda

SITUBONDO – Angka perceraian di Kabupaten Situbondo, sejak Februari hingga April 2022 mencapai 362 perkara. Dari jumlah itu, didominasi cerai gugat dibandingkan cerai talak.

Panitera Pengadilan Agama (PA) Situbondo, Khadimul Huda merinci, angka cerai talak sebanyak 119 perkara. Untuk cerai gugat 262 perkara. Dibandingkan tahun sebelumnya, ada penurunan kasus perkara. Pada 2021, ada 125 perkara cerai talak, sedangkan cerai gugat ada 263  perkara. “Yang paling banyak kasusnya,  perempuan mengajak cerai suaminya,” ujarnya, Rabu (23/3/2022).

Menurut Huda, alasan perceraian sangat bervariasi. Yang paling dominan adalah tidak ada keharmonisan dalam rumah tangga. Selain itu,  yang menjadi akar permasalahan adalah perekonomian.  Apalagi faktor gangguan dari pihak ketiga. Baik suaminya yang selingkuh atau pun sebaliknya. “Orang yang berpisah tidak melihat usia, ada yang pasangan muda ada pula yang pasangan tua. Kalau sudah ada konflik saya rasa semuanya sama saja,”imbuh Huda.

Huda menyampaikan, untuk cerai talak yang sudah diputus, keseluruhan ada 85 perkara. Sedangkan untuk cerai gugat, ada  183 perkara. Dari putusan itulah laki-laki atau perempuan sudah resmi menjadi duda dan janda. Total ada 500 orang lebih. “Kalau yang janda sekitar 268 orang, ditambah duda juga 268. Kalau di kalkulasi keseluruhan ada sekitar 581 duda dan janda,” bebernya.

Hadimul Huda menghimbau, agar setiap permasalahan rumah tangga diselesaikan tanpa harus menempuh jalur perceraian. Alangkah lebih baiknya, setiap pasangan saling memahami jika ada sebuah persoalan. “Kalau setiap persoalan rumah tangga diselesaikan dengan baik-baik, Insyaallah tidak akan berujung sampai ke ranah perceraian. Sehingga, rumah tangga yang diidamkan semua orang , yaitu keluarga Sakinah Mawadah Warohmah benar-benar dirasakan,” pungkasnya. (hum/pri)

SITUBONDO – Angka perceraian di Kabupaten Situbondo, sejak Februari hingga April 2022 mencapai 362 perkara. Dari jumlah itu, didominasi cerai gugat dibandingkan cerai talak.

Panitera Pengadilan Agama (PA) Situbondo, Khadimul Huda merinci, angka cerai talak sebanyak 119 perkara. Untuk cerai gugat 262 perkara. Dibandingkan tahun sebelumnya, ada penurunan kasus perkara. Pada 2021, ada 125 perkara cerai talak, sedangkan cerai gugat ada 263  perkara. “Yang paling banyak kasusnya,  perempuan mengajak cerai suaminya,” ujarnya, Rabu (23/3/2022).

Menurut Huda, alasan perceraian sangat bervariasi. Yang paling dominan adalah tidak ada keharmonisan dalam rumah tangga. Selain itu,  yang menjadi akar permasalahan adalah perekonomian.  Apalagi faktor gangguan dari pihak ketiga. Baik suaminya yang selingkuh atau pun sebaliknya. “Orang yang berpisah tidak melihat usia, ada yang pasangan muda ada pula yang pasangan tua. Kalau sudah ada konflik saya rasa semuanya sama saja,”imbuh Huda.

Huda menyampaikan, untuk cerai talak yang sudah diputus, keseluruhan ada 85 perkara. Sedangkan untuk cerai gugat, ada  183 perkara. Dari putusan itulah laki-laki atau perempuan sudah resmi menjadi duda dan janda. Total ada 500 orang lebih. “Kalau yang janda sekitar 268 orang, ditambah duda juga 268. Kalau di kalkulasi keseluruhan ada sekitar 581 duda dan janda,” bebernya.

Hadimul Huda menghimbau, agar setiap permasalahan rumah tangga diselesaikan tanpa harus menempuh jalur perceraian. Alangkah lebih baiknya, setiap pasangan saling memahami jika ada sebuah persoalan. “Kalau setiap persoalan rumah tangga diselesaikan dengan baik-baik, Insyaallah tidak akan berujung sampai ke ranah perceraian. Sehingga, rumah tangga yang diidamkan semua orang , yaitu keluarga Sakinah Mawadah Warohmah benar-benar dirasakan,” pungkasnya. (hum/pri)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/