24 C
Banyuwangi
Saturday, February 4, 2023

Sudah Diusir Satpol PP, Anak-Anak Punk Nekat Kembali ke Alun-Alun

SITUBONDO, Jawa Pos Radar Situbondo – Anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Situbondo, kembali menertibkan anak punk di Alun-Alun Kota Situbondo, Senin (23/1). Kali ini, anak punk itu tidak lagi diamankan ke kantor Satpol PP, tetapi langsung diusir meninggalkan alun-alun.

Jafung (Jabatan Fungsional) Satpol PP Roni Fauzi mengatakan, pihaknya sudah kesekian kalinya melakukan penertiban terhadap anak-anak punk. Namun, mereka tetap nekat kembali ke Alun-Alun Kota Situbondo.

”Tiga hari sebelumnya, kami sudah mengamankan anak punk ini. Kami sudah membawanya ke kantor untuk menandatangani surat pernyataan, tetapi nekat balik lagi ke alun-alun. Tidak boleh tidak, kami harus membentak dan mengusir secara paksa,” kata Roni pada koran ini.

Dikatakan, anak punk yang ditemui di Alun-Alun Situbondo kemarin sudah berkurang dua orang. Yaitu, dua perempuan asal Kalimantan dan Subang yang sempat diamankan sebelumnya. Sedangkan yang baru datang adalah tiga anak punk yang masih di bawah umur.

Baca Juga :  Positif Covid-19, Seorang PMI Dipindah ke Isoter

”Dua perempuan sudah tidak ada. Sekarang ganti tiga anak punk, itu pun masih di bawah umur. Kami sudah kebingungan juga dalam menghadapi anak-anak ini. Diminta pulang kadang nyangkut di Taman Asembagus, di wilayah barat juga ada di Alun-Alun Besuki” kata Roni.

Dia menambahkan, persoalan anak-anak punk itu sebenarnya bukan hanya kewajiban Satpol PP untuk menertibkan. Para pedagang di alun-alun seharusnya juga mengusir mereka. Setidaknya, para pedagang diharapkan mampu membuat anak-anak punk tidak kerasan.

”Anak punk ini biasanya balik pukul 12 malam. Mereka numpang tidur di pujasera. Sehingga, banyak pedagang mengeluh. Mau mengusir juga tidak berani karena pedagang menjaga keamanan dagangannya,” ujar  Roni.

Baca Juga :  Ciduk Enam Anak Punk, Empat Orang Asal Luar Kota

Dia menyebut, OPD yang berhak menertibkan anak-anak punk bukan hanya Satpol PP. Dinas Sosial (Dinsos) dan Dinas Perlindungan Anak dan Perempuan (DP3A) juga memiliki kewajiban untuk mengurus anak-anak punk.

”Kami berharap OPD lain bisa menjalin kerja sama dengan baik. Kalau hanya kami yang mengusir tidak mungkin bisa. Habis diusir pasti datang lagi. Tapi kalau sudah diantarkan pulang atau direhabilitasi oleh Dinsos, bakal ada efek jera,” tandas Roni.

Sekretaris Dinsos Situbondo Rina mengatakan, pihaknya sudah menjalin kerja sama dengan Satpol PP. Namun, fasilitas yang ada di Dinsos juga tidak memadai. Ke depan pihaknya berharap ada bangunan rehabilitasi untuk anak-anak tersebut. ”Kami masih mengusahakan bangunan rehabilitasi untuk anak-anak punk,” katanya. (hum/pri/c1)

SITUBONDO, Jawa Pos Radar Situbondo – Anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Situbondo, kembali menertibkan anak punk di Alun-Alun Kota Situbondo, Senin (23/1). Kali ini, anak punk itu tidak lagi diamankan ke kantor Satpol PP, tetapi langsung diusir meninggalkan alun-alun.

Jafung (Jabatan Fungsional) Satpol PP Roni Fauzi mengatakan, pihaknya sudah kesekian kalinya melakukan penertiban terhadap anak-anak punk. Namun, mereka tetap nekat kembali ke Alun-Alun Kota Situbondo.

”Tiga hari sebelumnya, kami sudah mengamankan anak punk ini. Kami sudah membawanya ke kantor untuk menandatangani surat pernyataan, tetapi nekat balik lagi ke alun-alun. Tidak boleh tidak, kami harus membentak dan mengusir secara paksa,” kata Roni pada koran ini.

Dikatakan, anak punk yang ditemui di Alun-Alun Situbondo kemarin sudah berkurang dua orang. Yaitu, dua perempuan asal Kalimantan dan Subang yang sempat diamankan sebelumnya. Sedangkan yang baru datang adalah tiga anak punk yang masih di bawah umur.

Baca Juga :  Polisi Hentikan Penambangan Jalan Tembus

”Dua perempuan sudah tidak ada. Sekarang ganti tiga anak punk, itu pun masih di bawah umur. Kami sudah kebingungan juga dalam menghadapi anak-anak ini. Diminta pulang kadang nyangkut di Taman Asembagus, di wilayah barat juga ada di Alun-Alun Besuki” kata Roni.

Dia menambahkan, persoalan anak-anak punk itu sebenarnya bukan hanya kewajiban Satpol PP untuk menertibkan. Para pedagang di alun-alun seharusnya juga mengusir mereka. Setidaknya, para pedagang diharapkan mampu membuat anak-anak punk tidak kerasan.

”Anak punk ini biasanya balik pukul 12 malam. Mereka numpang tidur di pujasera. Sehingga, banyak pedagang mengeluh. Mau mengusir juga tidak berani karena pedagang menjaga keamanan dagangannya,” ujar  Roni.

Baca Juga :  Trotoar Jadi Tempat Jualan PKL, tapi Tak Ada Penindakan

Dia menyebut, OPD yang berhak menertibkan anak-anak punk bukan hanya Satpol PP. Dinas Sosial (Dinsos) dan Dinas Perlindungan Anak dan Perempuan (DP3A) juga memiliki kewajiban untuk mengurus anak-anak punk.

”Kami berharap OPD lain bisa menjalin kerja sama dengan baik. Kalau hanya kami yang mengusir tidak mungkin bisa. Habis diusir pasti datang lagi. Tapi kalau sudah diantarkan pulang atau direhabilitasi oleh Dinsos, bakal ada efek jera,” tandas Roni.

Sekretaris Dinsos Situbondo Rina mengatakan, pihaknya sudah menjalin kerja sama dengan Satpol PP. Namun, fasilitas yang ada di Dinsos juga tidak memadai. Ke depan pihaknya berharap ada bangunan rehabilitasi untuk anak-anak tersebut. ”Kami masih mengusahakan bangunan rehabilitasi untuk anak-anak punk,” katanya. (hum/pri/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/