alexametrics
27.8 C
Banyuwangi
Monday, July 4, 2022

Ingat Nama Keluarga hingga Waktu Tertangkap Satpol PP

Penghuni smelter Dinas Sosial (Dinsos) Situbondo berkurang satu. Itu setelah seorang diantara mereka dipulangkan karena dinyatakan telah sembuh.

HABIBUL ADNAN, Situbondo

Efendi dengan spontan melayangkan tinjunya kepada seorang perempuan. Seketika, korbannya berteriak minta tolong. Tidak berselang lama, beberapa anggota Satpol PP membekuknya. Efendi ingat betul apa yang dialaminya.

Begitulah pengakuan Efendi kemarin (24/01). Penangkapannya oleh anggota Satpol PP Kabupaten Situbondo 15 hari lalu bermula karena dia memukul seseorang. Karena itulah dia diamankan petugas hingga akhirnya dibawa ke Dinsos.

Efendi adalah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang sering berkeliaran di Situbondo. Pagi kemarin, dia dikeluarkan dari tempat penampungannya. Pria asal Surabaya itu kini sudah dipulangkan ke rumahnya.

Efendi memang sudah tidak memiliki ganggauan jiwa. Petugas sudah memastikan kalau kondisinya sudah pulih. Ini dilihat dari ingatannya yang sudah kembali normal. Beberapa kejadian yang dialaminya terekam di memori otaknya dengan baik.

Efendi mengaku, dirinya ditangkap petugas karena memukul orang di jalan. “Tidak tahu kenapa saya memukul. Harinya saya lupa, tetapi pagi hari,” katanya kepada petugas yang menginterogasinya.

Tidak hanya kronologis penangkapannya yang dia ketahui. Efendi juga ingat betul nama-nama keluarganya. “Bapak saya bernama Bambang dan ibu bernama Yuli. Sekarang sudah meninggal dunia,” katanya.

Selain nama kedua orang tuanya, dia juga ingat nama tantenya. Efendi menceritakan, di daerah Manukan, Surabaya, ada tantenya yang bernama Desy. “Saya mau pulang ke sana, ke rumah tante saya,” ujarnya.

Dia mengaku, dirinya sudah lama tidak punya tempat tinggal. Rumahnya tidak ada sejak orang tuanya meninggal dunia. “Saya hidup di jalanan,” ceritanya seraya menyampaikan kalau dirinya kurang mendapatkan kasih sayang dari keluarganya.

Efendi dipulangkan ke Surabaya dengan menaiki bus dari Situbondo, pagi kemarin. Kepala Dinsos Situbondo, Lutfi Joko Prihatin mengatakan, pihaknya sudah yakin kalau Efendi sudah benar-benar pulih. “Karena itu, hari ini (kemarin) kita kembalikan ke tempat asalnya. Tadi langsung pulang menggunakan bus,” katanya.

Lutfi mengaku, Efendi sudah benar-benar tidak mengalami gangguan jiwa. Dia menambahkan, selama di penampungan, yang bersangkutan mendapatkan pembinaan dari psikolog.

Dia menerangkan, Efendi sebenarnya tidak sakit jiwa. Tetapi memiliki IQ dibawah rata-rata sejak masih kecil. Kondisinya semakin parah karena Efendi kurang mendapatkan perhatian dari orang tuanya. “Kemudian dia hidup di jalanan sehingga lama-kelamaan mengalami masalah psikologis,” terang Lutfi. (*)

Penghuni smelter Dinas Sosial (Dinsos) Situbondo berkurang satu. Itu setelah seorang diantara mereka dipulangkan karena dinyatakan telah sembuh.

HABIBUL ADNAN, Situbondo

Efendi dengan spontan melayangkan tinjunya kepada seorang perempuan. Seketika, korbannya berteriak minta tolong. Tidak berselang lama, beberapa anggota Satpol PP membekuknya. Efendi ingat betul apa yang dialaminya.

Begitulah pengakuan Efendi kemarin (24/01). Penangkapannya oleh anggota Satpol PP Kabupaten Situbondo 15 hari lalu bermula karena dia memukul seseorang. Karena itulah dia diamankan petugas hingga akhirnya dibawa ke Dinsos.

Efendi adalah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang sering berkeliaran di Situbondo. Pagi kemarin, dia dikeluarkan dari tempat penampungannya. Pria asal Surabaya itu kini sudah dipulangkan ke rumahnya.

Efendi memang sudah tidak memiliki ganggauan jiwa. Petugas sudah memastikan kalau kondisinya sudah pulih. Ini dilihat dari ingatannya yang sudah kembali normal. Beberapa kejadian yang dialaminya terekam di memori otaknya dengan baik.

Efendi mengaku, dirinya ditangkap petugas karena memukul orang di jalan. “Tidak tahu kenapa saya memukul. Harinya saya lupa, tetapi pagi hari,” katanya kepada petugas yang menginterogasinya.

Tidak hanya kronologis penangkapannya yang dia ketahui. Efendi juga ingat betul nama-nama keluarganya. “Bapak saya bernama Bambang dan ibu bernama Yuli. Sekarang sudah meninggal dunia,” katanya.

Selain nama kedua orang tuanya, dia juga ingat nama tantenya. Efendi menceritakan, di daerah Manukan, Surabaya, ada tantenya yang bernama Desy. “Saya mau pulang ke sana, ke rumah tante saya,” ujarnya.

Dia mengaku, dirinya sudah lama tidak punya tempat tinggal. Rumahnya tidak ada sejak orang tuanya meninggal dunia. “Saya hidup di jalanan,” ceritanya seraya menyampaikan kalau dirinya kurang mendapatkan kasih sayang dari keluarganya.

Efendi dipulangkan ke Surabaya dengan menaiki bus dari Situbondo, pagi kemarin. Kepala Dinsos Situbondo, Lutfi Joko Prihatin mengatakan, pihaknya sudah yakin kalau Efendi sudah benar-benar pulih. “Karena itu, hari ini (kemarin) kita kembalikan ke tempat asalnya. Tadi langsung pulang menggunakan bus,” katanya.

Lutfi mengaku, Efendi sudah benar-benar tidak mengalami gangguan jiwa. Dia menambahkan, selama di penampungan, yang bersangkutan mendapatkan pembinaan dari psikolog.

Dia menerangkan, Efendi sebenarnya tidak sakit jiwa. Tetapi memiliki IQ dibawah rata-rata sejak masih kecil. Kondisinya semakin parah karena Efendi kurang mendapatkan perhatian dari orang tuanya. “Kemudian dia hidup di jalanan sehingga lama-kelamaan mengalami masalah psikologis,” terang Lutfi. (*)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/