25 C
Banyuwangi
Tuesday, November 29, 2022

Aktivis Cagar Budaya Minta Dewan Responsif Kasus Situs Melek

SITUBONDO, Jawa Pos Radar Situbondo – Sejumlah pegiat cagar budaya mendatangi kantor DPRD Situbondo, Rabu (21/9). Mereka melaporkan atas persoalan pelik yang ada di Situs Melek, Desa Sumberejo, Kecamatan Banyuputih, Situbondo. Sebab, lokasi tersebut masih digunakan sebagai tempat tambang tradisional.

Koordinator Pegiat Cagar Budaya, Agung Hariyanto menjelaskan, sejak ditemukan adanya benda peninggalan sejarah di desa tersebut, petugas sudah meminta agar masyarakat tidak melanjutkan kegiatan penambangan. Sebab,  dikhawatirkan, peninggalan sejarah itu rusak.

“Kami sudah mengimbau kepada warga untuk tidak menambang di titik lokasi tempat benda bersejarah. Namun masyarakat tidak mau untuk mengikuti arahan yang kami sampaikan,” ujarnya, saat ditemui di ruang kerja komisi IV DPRD.

Kata dia, alasan petugas melarang kegiatan tambang dilanjutkan, agar tidak merusak bangunan atau benda sejarah.  Dipastikan, di lokasi yang sama itu, juga  terdapat banyak peninggalan sejarah. Namun, masih belum diketahui. “Kami khawatir ketika penambangan tetap dilakukan, dapat merusak benda bersejarah. Karena kami yakin, benda bersejarah lain yang belum ditemukan masih banyak. Lokasinya ya di sekitar situs melek,” ungkapnya.

Agung menyebutkan, tahun 2012 merupakan pertama kali ditemukan adanya struktur bangunan bersejarah. Itu berdasarkan laporan dari warga sekitar. Berlanjut di tahun 2018, petugas peduli cagar budaya menemukan struktur batur. Kemudian pada tahun 2022, kembali ditemukan benda lesung batu, serta batu bata dengan panjang 12 meter dan sumur kuno dengan kedalaman dua meter.

Baca Juga :  Benda Diduga Cagar Budaya Ditemukan, Galian C Dipasangi Garis Polisi

“Semua benda yang ditemukan itu, berada di sekitar situs melek. Maka, kami yakin masih ada beberapa benda bersejarah namun belum teridentifikasi,” jelasnya.

Sebelum ditemukan benda lain, dirinya  khawatir rusak akibat kegiatan penambangan. Sebelum itu terjadi, harus dicegah. “Persoalan yang terjadi sebetulnya masyarakat hingga saat tidak mau untuk menghentikan aktivitas penambangan. Bahkan pernah pada tahun 2018, petugas harus bersitegang dengan penambang,” kata pria yang menggunakan blangkon itu.

Agar kasus serupa tidak terulang kembali, kata dia, pemerintah dan anggota DPRD harus mendatangi langsung lokasi situs melek. Itu dilakukan agar ada titik temu yang tidak saling merugikan. “karena di lokasi itu ada benda bersejarah yang harus dilindungi pemerintah juga harus ikut serta dalam menjaga. namun tidak merugikan masyarakat yang melakukan aktivitas penambang. Karena, ketika kami saja yang turun di lapangan, itu tidak menemukan solusi. Sehingga kami pun memilih untuk hearing bersama anggota DPRD,” ungkapnya.

Baca Juga :  Ketua DPRD Sesalkan Pernyataan Pemkab Tentang DID

Agung berharap, wakil rakyat bisa memberikan solusi terhadap masalah ini. Pasalnya dikhawatirkan akan ada potensi hilangnya cagar budaya. “Kami menginginkan wakil rakyat memberikan win win solusi yang lebih humanis. Tujuannya ke depan ada kesepakatan bersama. masyarakat tidak kehilangan mata pencahariannya, dan cagar budaya juga tidak rusak,” harapnya.

Sementara itu, Anggota Komisi IV DPRD Situbondo, Tolak Atin mengatakan, audiensi yang dilakukan sudah kedua kalinya. Saat ini pengurus yang datang meminta untuk dipertemukan dengan dinas Pendidikan dan Kebudayaan. “kami jadwalkan agenda audiensi bersama antara pengurus yayasan balumbung dengan dinas pendidikan. karena permintaan mereka untuk bisa bertemu dengan instansi yang memiliki wewenang terkait kebudayaan,” ucapnya.

Hasil audiensi itu, kata dia, ada beberapa yang harus menjadi perhatian bersama. Yakni, cagar budaya bisa tetap terjaga dengan baik, dan kegiatan masyarakat tidak berhenti. “persoalan ini kami harapkan bisa selesai dengan musyawarah. Karena aktivitas warga itu menyangkut tentang pemenuhan ekonomi, sedangkan cagar budaya harus tetap dijaga. Sehingga tidak lagi ada konflik yang terus terjadi kedepan,” pungkasnya. (wan/pri)

SITUBONDO, Jawa Pos Radar Situbondo – Sejumlah pegiat cagar budaya mendatangi kantor DPRD Situbondo, Rabu (21/9). Mereka melaporkan atas persoalan pelik yang ada di Situs Melek, Desa Sumberejo, Kecamatan Banyuputih, Situbondo. Sebab, lokasi tersebut masih digunakan sebagai tempat tambang tradisional.

Koordinator Pegiat Cagar Budaya, Agung Hariyanto menjelaskan, sejak ditemukan adanya benda peninggalan sejarah di desa tersebut, petugas sudah meminta agar masyarakat tidak melanjutkan kegiatan penambangan. Sebab,  dikhawatirkan, peninggalan sejarah itu rusak.

“Kami sudah mengimbau kepada warga untuk tidak menambang di titik lokasi tempat benda bersejarah. Namun masyarakat tidak mau untuk mengikuti arahan yang kami sampaikan,” ujarnya, saat ditemui di ruang kerja komisi IV DPRD.

Kata dia, alasan petugas melarang kegiatan tambang dilanjutkan, agar tidak merusak bangunan atau benda sejarah.  Dipastikan, di lokasi yang sama itu, juga  terdapat banyak peninggalan sejarah. Namun, masih belum diketahui. “Kami khawatir ketika penambangan tetap dilakukan, dapat merusak benda bersejarah. Karena kami yakin, benda bersejarah lain yang belum ditemukan masih banyak. Lokasinya ya di sekitar situs melek,” ungkapnya.

Agung menyebutkan, tahun 2012 merupakan pertama kali ditemukan adanya struktur bangunan bersejarah. Itu berdasarkan laporan dari warga sekitar. Berlanjut di tahun 2018, petugas peduli cagar budaya menemukan struktur batur. Kemudian pada tahun 2022, kembali ditemukan benda lesung batu, serta batu bata dengan panjang 12 meter dan sumur kuno dengan kedalaman dua meter.

Baca Juga :  Reruntuhan Batu Bata Kerajaan Macan Putih Jadi Destinasi Cagar Budaya

“Semua benda yang ditemukan itu, berada di sekitar situs melek. Maka, kami yakin masih ada beberapa benda bersejarah namun belum teridentifikasi,” jelasnya.

Sebelum ditemukan benda lain, dirinya  khawatir rusak akibat kegiatan penambangan. Sebelum itu terjadi, harus dicegah. “Persoalan yang terjadi sebetulnya masyarakat hingga saat tidak mau untuk menghentikan aktivitas penambangan. Bahkan pernah pada tahun 2018, petugas harus bersitegang dengan penambang,” kata pria yang menggunakan blangkon itu.

Agar kasus serupa tidak terulang kembali, kata dia, pemerintah dan anggota DPRD harus mendatangi langsung lokasi situs melek. Itu dilakukan agar ada titik temu yang tidak saling merugikan. “karena di lokasi itu ada benda bersejarah yang harus dilindungi pemerintah juga harus ikut serta dalam menjaga. namun tidak merugikan masyarakat yang melakukan aktivitas penambang. Karena, ketika kami saja yang turun di lapangan, itu tidak menemukan solusi. Sehingga kami pun memilih untuk hearing bersama anggota DPRD,” ungkapnya.

Baca Juga :  Kembali Temukan Struktur Bata di Situs Mellek

Agung berharap, wakil rakyat bisa memberikan solusi terhadap masalah ini. Pasalnya dikhawatirkan akan ada potensi hilangnya cagar budaya. “Kami menginginkan wakil rakyat memberikan win win solusi yang lebih humanis. Tujuannya ke depan ada kesepakatan bersama. masyarakat tidak kehilangan mata pencahariannya, dan cagar budaya juga tidak rusak,” harapnya.

Sementara itu, Anggota Komisi IV DPRD Situbondo, Tolak Atin mengatakan, audiensi yang dilakukan sudah kedua kalinya. Saat ini pengurus yang datang meminta untuk dipertemukan dengan dinas Pendidikan dan Kebudayaan. “kami jadwalkan agenda audiensi bersama antara pengurus yayasan balumbung dengan dinas pendidikan. karena permintaan mereka untuk bisa bertemu dengan instansi yang memiliki wewenang terkait kebudayaan,” ucapnya.

Hasil audiensi itu, kata dia, ada beberapa yang harus menjadi perhatian bersama. Yakni, cagar budaya bisa tetap terjaga dengan baik, dan kegiatan masyarakat tidak berhenti. “persoalan ini kami harapkan bisa selesai dengan musyawarah. Karena aktivitas warga itu menyangkut tentang pemenuhan ekonomi, sedangkan cagar budaya harus tetap dijaga. Sehingga tidak lagi ada konflik yang terus terjadi kedepan,” pungkasnya. (wan/pri)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/