alexametrics
24.5 C
Banyuwangi
Sunday, June 26, 2022

Melatih Salat Khusyuk di Bulan Ramadhan

Bagi seorang muslim, saalat adalah ibadah wajib yang paling utama karena di akhirat nanti merupakan amalan yang paling awal dihisab oleh Allah. Jika salatnya dinilai baik, maka amalan yang lain bisa terbawa baik. Dan jika salatnya dinilai buruk, maka amalan lainnya terbawa buruk pula. Maka kita supaya berusaha agar bisa melaksanakan salat dengan sesempurna mungkin dengan kata lain salat khusyuk.

Khusyuk itu banyak berkaitan dengan hati dan merupakan rohnya salat. Sebab, salat kita akan dinilai sesuai dengan tingkat kekhusyukannya. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Hadid ayat 16 : “Apakah belum waktunya bagi orang iman untuk khusyuk hatinya dalam mengingat Allah dan merenungkan kebenaran yang diturunkan-Nya?” dan Rasulullah juga menyampaikan bahwa pahala salat seseorang ada yang ditulis sepersepuluhnya, atau seperempatnya atau separuhnya, tergantung tingkat kehusyukannya (HR Abu Dawud).

Maka kita sebagai muslim supaya berusaha melatih diri agar bisa khusyuk dalam salat. Misalnya dengan cara sejak sebelum salat hal-hal yang bisa mengganggu kekhusyukan agar kita hindari. Ketika terasa ingin buang air sebaiknya tuntaskan sebelum salat dimulai, mematikan telepon genggam. Bahkan Rasulullah menyarankan apabila makanan sudah dihidangkan dan waktu salat masih panjang  kita supaya mendahulukan makan ketimbang selagi salat terbayang-bayang makanan.

Untuk mendapatkan salat yang khusyuk juga dapat diupayakan dengan terlebih dahulu memahami arti setiap bacaan dalam salat diikuti dengan penghayatan hati. Di samping itu setiap gerakkan salat hendaknya dilakukan dengan tenang atau tumakninah. Dalam hal ini suatu ketika Rasulullah SAW pernah berada di masjid dan ketika itu masuklah seorang lelaki yang kemudian salat. Setelah selesai pria itu menemui Rasulullah. Akan tetapi Rasulullah bersabda: “Silakan sebaiknya anda salat lagi, karena sesungguhnya anda belum salat”. Lelaki itu mengulang salatnya lagi, namun Rasulullah tetap mengatakan bahwa salatnya tidak sah dan agar diulangi lagi. Beliau menyuruh lelaki itu mengulangi salatnya karena dinilai salat si lelaki tadi tidak tumaninah. Maka kemudian beliau mengajarkan: “Kalau anda mau salat, mulailah dengan takbir. Kemudian bacalah Al-Fatihah dan surat yang mudah bagi anda. Rukuklah dengan tumaninah, terus berdirilah i’tidal sampai anda tegak berdiri. Kemudian sujudlah dengan tumaninah, duduk di antara dua sujud dengan tumaninah pula. Dan setelah itu lakukanlah rakaat selanjutnya seperti itu juga” (HR An-Nasaai).

Agar salat mencapai tingkat khusyuk maka setiap gerakan dalam salat dilaksanakan dengan tumaninah atau tenang, tidak terburu-buru. Lebih-lebih ketika rukuk dan sujud, Rasulullah SAW pernah bersabda: “Seburuk-buruknya pencuri adalah pencuri salat, yaitu orang yang tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya.” (HR At-Thabrani).

Salat yang dilakukan dengan terburu-buru, oleh Rasulullah SAW digambarkan seperti burung yang sedang mematuk-matuk makanannya, dan merupakan salatnya orang-orang munafik (HR Muslim). Mereka melakukan salat tanpa penghayatan. Rukuknya belum sempurna, sudah bangkit. Berdiri i’tidal belum tegak sempurna, sudah keburu sujud. Sujud belum tenang, tergesa-gesa duduk. Ketika duduk hanya sebentar seakan duduk di atas batu panas.

Maka salat dengan khusyuk dan tu’maninah hendaknya menjadi satu paket dalam salat. Di bulan ramadan ketika banyak kesempatan untuk melakukan ibadah lebih-lebih di waktu salat tarawih hendaklah kita jadikan saat yang baik untuk melatih diri bisa melakukan salat khusyuk. Dengan khusyuk hati  akan selalu terasa tersambung kepada Allah sehingga (hablumminallah) dan dengan tu’maninah akan menciptakan ketenangan kedamaian dalam segala aktivitas gerak.

 *) Bagian Dakwah LDII Situbondo

Bagi seorang muslim, saalat adalah ibadah wajib yang paling utama karena di akhirat nanti merupakan amalan yang paling awal dihisab oleh Allah. Jika salatnya dinilai baik, maka amalan yang lain bisa terbawa baik. Dan jika salatnya dinilai buruk, maka amalan lainnya terbawa buruk pula. Maka kita supaya berusaha agar bisa melaksanakan salat dengan sesempurna mungkin dengan kata lain salat khusyuk.

Khusyuk itu banyak berkaitan dengan hati dan merupakan rohnya salat. Sebab, salat kita akan dinilai sesuai dengan tingkat kekhusyukannya. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Hadid ayat 16 : “Apakah belum waktunya bagi orang iman untuk khusyuk hatinya dalam mengingat Allah dan merenungkan kebenaran yang diturunkan-Nya?” dan Rasulullah juga menyampaikan bahwa pahala salat seseorang ada yang ditulis sepersepuluhnya, atau seperempatnya atau separuhnya, tergantung tingkat kehusyukannya (HR Abu Dawud).

Maka kita sebagai muslim supaya berusaha melatih diri agar bisa khusyuk dalam salat. Misalnya dengan cara sejak sebelum salat hal-hal yang bisa mengganggu kekhusyukan agar kita hindari. Ketika terasa ingin buang air sebaiknya tuntaskan sebelum salat dimulai, mematikan telepon genggam. Bahkan Rasulullah menyarankan apabila makanan sudah dihidangkan dan waktu salat masih panjang  kita supaya mendahulukan makan ketimbang selagi salat terbayang-bayang makanan.

Untuk mendapatkan salat yang khusyuk juga dapat diupayakan dengan terlebih dahulu memahami arti setiap bacaan dalam salat diikuti dengan penghayatan hati. Di samping itu setiap gerakkan salat hendaknya dilakukan dengan tenang atau tumakninah. Dalam hal ini suatu ketika Rasulullah SAW pernah berada di masjid dan ketika itu masuklah seorang lelaki yang kemudian salat. Setelah selesai pria itu menemui Rasulullah. Akan tetapi Rasulullah bersabda: “Silakan sebaiknya anda salat lagi, karena sesungguhnya anda belum salat”. Lelaki itu mengulang salatnya lagi, namun Rasulullah tetap mengatakan bahwa salatnya tidak sah dan agar diulangi lagi. Beliau menyuruh lelaki itu mengulangi salatnya karena dinilai salat si lelaki tadi tidak tumaninah. Maka kemudian beliau mengajarkan: “Kalau anda mau salat, mulailah dengan takbir. Kemudian bacalah Al-Fatihah dan surat yang mudah bagi anda. Rukuklah dengan tumaninah, terus berdirilah i’tidal sampai anda tegak berdiri. Kemudian sujudlah dengan tumaninah, duduk di antara dua sujud dengan tumaninah pula. Dan setelah itu lakukanlah rakaat selanjutnya seperti itu juga” (HR An-Nasaai).

Agar salat mencapai tingkat khusyuk maka setiap gerakan dalam salat dilaksanakan dengan tumaninah atau tenang, tidak terburu-buru. Lebih-lebih ketika rukuk dan sujud, Rasulullah SAW pernah bersabda: “Seburuk-buruknya pencuri adalah pencuri salat, yaitu orang yang tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya.” (HR At-Thabrani).

Salat yang dilakukan dengan terburu-buru, oleh Rasulullah SAW digambarkan seperti burung yang sedang mematuk-matuk makanannya, dan merupakan salatnya orang-orang munafik (HR Muslim). Mereka melakukan salat tanpa penghayatan. Rukuknya belum sempurna, sudah bangkit. Berdiri i’tidal belum tegak sempurna, sudah keburu sujud. Sujud belum tenang, tergesa-gesa duduk. Ketika duduk hanya sebentar seakan duduk di atas batu panas.

Maka salat dengan khusyuk dan tu’maninah hendaknya menjadi satu paket dalam salat. Di bulan ramadan ketika banyak kesempatan untuk melakukan ibadah lebih-lebih di waktu salat tarawih hendaklah kita jadikan saat yang baik untuk melatih diri bisa melakukan salat khusyuk. Dengan khusyuk hati  akan selalu terasa tersambung kepada Allah sehingga (hablumminallah) dan dengan tu’maninah akan menciptakan ketenangan kedamaian dalam segala aktivitas gerak.

 *) Bagian Dakwah LDII Situbondo

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/