alexametrics
28.7 C
Banyuwangi
Thursday, June 30, 2022

Sepi Job Sejak Pandemi, Kini Buka Warung Nasi

RadarBanyuwangi.id – Ladang pendapatannya di bidang kesenian, kini sudah hilang sama sekali. Padahal, profesi inilah yang lama ditekuninya. Sejak pandemi, memang sudah tidak ada lagi undangan manggung.

Sebuah warung nasi di Desa Olean, Kecamatan Situbondo, tampak berbeda dari kebanyakan. Sebab, tidak hanya menyediakan nasi, minuman atau makanan ringannya lainnya. Akan tetapi juga menjual hasil kerajinan berupa topeng.

Pemilik warung bernama Suniya. Ibu rumah tangga usia 45 tahun ini, baru sekitar setahun membuka warung nasi. Sebelumnya, dia menjual aneka kerajinan topeng. Selain itu, dia juga sekaligus sebagai penari topeng. Profesi ini juga sudah lama dijalaninya.

Akan tetapi, sejak pandemi Covid-19, Suniya tidak lagi menggeluti profesi sebagai penari topeng. Dia mengatakan, sejak pandemi Covid-19, dia tidak lagi menerima job manggung. “Kalau sebelum pandemi, saya sering tampil di acara-acara selamatan desa,” katanya.

Sementara, sejak satu tahun terakhir ini, tidak ada undangan sama sekali. Karena itu, Suniya mencoba peruntungan di pekerjaan lain. Dia membuka warung nasi desanya. “Karena saya harus tetap mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” katanya.

Sebagai bentuk kecintaanmya terhadap seni, Suniya juga menjual topeng di warungnya. Selama ini, ada beberapa orang yang pesan. “Tapi tidak banyak. Makanya, saya lebih menekuni usaha jualan nasi,” ujarnya.

Jikapun ada permintaan menari, Suniya kemungkinan tidak bisa memenuhi undangan tersebut. Sebab, pasangannya ketika tampil, juga memilih pekerjaan lain. “Dia mencari nafkah keluar kota,” imbuhnya.

Suniya mengatakan, sebagian besar pelaku seni saat ini mengalami nasib sama. Sebab, aktivitas mereka tergantung dari undangan di kegiatan-kegiatan hajatan. “Pelaku seni kehilangan pekerjaan semua. Jadi, sudah sepantasnya kami mendapatkan bantuan dari pemerintah,” katanya.

Suniya tidak hanya sebagai pelak seni tari. Akan tetapi, dia juga menggeluti kerajinan pembuatan topeng. Produk kerajinan Suniya itu kemudian dijualnya. Saat ini, dia tidak lagi membuat topeng karena minimnya pesanan.

Suniya tinggal berdua dengan suaminya. Dia mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Karena itu, doa berharap, pandemi cepat berlalu. “Agar kami bisa beraktifitas secara normal kembali,” pungkasnya. (bib)

RadarBanyuwangi.id – Ladang pendapatannya di bidang kesenian, kini sudah hilang sama sekali. Padahal, profesi inilah yang lama ditekuninya. Sejak pandemi, memang sudah tidak ada lagi undangan manggung.

Sebuah warung nasi di Desa Olean, Kecamatan Situbondo, tampak berbeda dari kebanyakan. Sebab, tidak hanya menyediakan nasi, minuman atau makanan ringannya lainnya. Akan tetapi juga menjual hasil kerajinan berupa topeng.

Pemilik warung bernama Suniya. Ibu rumah tangga usia 45 tahun ini, baru sekitar setahun membuka warung nasi. Sebelumnya, dia menjual aneka kerajinan topeng. Selain itu, dia juga sekaligus sebagai penari topeng. Profesi ini juga sudah lama dijalaninya.

Akan tetapi, sejak pandemi Covid-19, Suniya tidak lagi menggeluti profesi sebagai penari topeng. Dia mengatakan, sejak pandemi Covid-19, dia tidak lagi menerima job manggung. “Kalau sebelum pandemi, saya sering tampil di acara-acara selamatan desa,” katanya.

Sementara, sejak satu tahun terakhir ini, tidak ada undangan sama sekali. Karena itu, Suniya mencoba peruntungan di pekerjaan lain. Dia membuka warung nasi desanya. “Karena saya harus tetap mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” katanya.

Sebagai bentuk kecintaanmya terhadap seni, Suniya juga menjual topeng di warungnya. Selama ini, ada beberapa orang yang pesan. “Tapi tidak banyak. Makanya, saya lebih menekuni usaha jualan nasi,” ujarnya.

Jikapun ada permintaan menari, Suniya kemungkinan tidak bisa memenuhi undangan tersebut. Sebab, pasangannya ketika tampil, juga memilih pekerjaan lain. “Dia mencari nafkah keluar kota,” imbuhnya.

Suniya mengatakan, sebagian besar pelaku seni saat ini mengalami nasib sama. Sebab, aktivitas mereka tergantung dari undangan di kegiatan-kegiatan hajatan. “Pelaku seni kehilangan pekerjaan semua. Jadi, sudah sepantasnya kami mendapatkan bantuan dari pemerintah,” katanya.

Suniya tidak hanya sebagai pelak seni tari. Akan tetapi, dia juga menggeluti kerajinan pembuatan topeng. Produk kerajinan Suniya itu kemudian dijualnya. Saat ini, dia tidak lagi membuat topeng karena minimnya pesanan.

Suniya tinggal berdua dengan suaminya. Dia mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Karena itu, doa berharap, pandemi cepat berlalu. “Agar kami bisa beraktifitas secara normal kembali,” pungkasnya. (bib)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/