alexametrics
23.5 C
Banyuwangi
Friday, August 12, 2022

Jembatan Raib, Siswa Harus Digendong untuk Sampai ke Sekolah

JATIBANTENG – Jembatan penghubung antara Dusun Dauh dengan Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Jatibanteng, Situbondo, hancur diterjang banjir. Sehingga, warga kesulitan mencari jalan alternatif. Para pelajar PAUD hingga SD pun harus digendong menyeberangi sungai saat mereka berangkat sekolah.

Lukman Hakim, warga Dusun Dauh mengatakan, puluhan pelajar harus menyebarangi sungai jika akan berangkat ke sekolah. Sebab, tidak ada lagi jalan lain yang bisa dilewati. Meskipun ada, harus memutar dengan jarak cukup jauh.

“Kalau mau lewat di jalan alternatif kita harus memutar ke Besuki. Kalau anak sekolah, mereka akan terlambat sampai ke sekolahnya. Sehingga, mau tak mau, ya menempuh jalur yang cukup berbahaya ini, menyebarangi sungai meski saat ini arusnya lumayan deras karena musim hujan,” kata Lukman kepada RadarBanyuwangi.id, Kamis (20/1)

Baca Juga :  Jembatan Carangan Dianggarkan Rp 600 Juta

Pria 35 tahun itu menjelaskan, keberadaan jembatan yang terbuat dari bambu tersebut sangat fital bagi masyarakat sekitar. Sehingga, warga sangat berharap jembatan tersebut bisa berdiri kembali dalam waktu yang tidak terlalu lama.  Jika harus dibangun jembatan limpas, warga tak mempermasalahkan.

“Di sini kurang lebih 50 pelajar mulai dari  tingkat TK, SD, SMP dan SMA, mereka  semua lewat jembatan. Kalau sudah ambruk seperti sekarang, yah kita sebagai orang tua dari anak-anak harus menggendongnya,” imbuh Lukman.

Disebutkan, jembatan merupakan hasil swadaya masyarakat pada tahun 2020 silam. Kerusakan sudah biasa terjadi setiap tahun. Yakni pada musim hujan saat arus air sungai sangat besar.  “Setiap rusak kita perbaiki dengan cara gotong royong. Paling, kalau hampir lebaran jembatan itu kita cat, itu pun warnanya beda-beda, karena kita ambil dari cat sisa-sisa milik warga,” tandas Lukman.

Baca Juga :  Masuk Sekolah Lewati Jembatan Darurat

Pembangunan jembatan, lanjut dia, sebenarnya sudah dianggarkan di tahun 2021 oleh pemerintah desa. hanya saja terbentur dengan Covid-19. “Katanya, anggaran desa dialihkan penanganan Korono,” jelasnya. (hum/pri)

JATIBANTENG – Jembatan penghubung antara Dusun Dauh dengan Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Jatibanteng, Situbondo, hancur diterjang banjir. Sehingga, warga kesulitan mencari jalan alternatif. Para pelajar PAUD hingga SD pun harus digendong menyeberangi sungai saat mereka berangkat sekolah.

Lukman Hakim, warga Dusun Dauh mengatakan, puluhan pelajar harus menyebarangi sungai jika akan berangkat ke sekolah. Sebab, tidak ada lagi jalan lain yang bisa dilewati. Meskipun ada, harus memutar dengan jarak cukup jauh.

“Kalau mau lewat di jalan alternatif kita harus memutar ke Besuki. Kalau anak sekolah, mereka akan terlambat sampai ke sekolahnya. Sehingga, mau tak mau, ya menempuh jalur yang cukup berbahaya ini, menyebarangi sungai meski saat ini arusnya lumayan deras karena musim hujan,” kata Lukman kepada RadarBanyuwangi.id, Kamis (20/1)

Baca Juga :  Kota Santri Diprediksi Segera Turun Hujan

Pria 35 tahun itu menjelaskan, keberadaan jembatan yang terbuat dari bambu tersebut sangat fital bagi masyarakat sekitar. Sehingga, warga sangat berharap jembatan tersebut bisa berdiri kembali dalam waktu yang tidak terlalu lama.  Jika harus dibangun jembatan limpas, warga tak mempermasalahkan.

“Di sini kurang lebih 50 pelajar mulai dari  tingkat TK, SD, SMP dan SMA, mereka  semua lewat jembatan. Kalau sudah ambruk seperti sekarang, yah kita sebagai orang tua dari anak-anak harus menggendongnya,” imbuh Lukman.

Disebutkan, jembatan merupakan hasil swadaya masyarakat pada tahun 2020 silam. Kerusakan sudah biasa terjadi setiap tahun. Yakni pada musim hujan saat arus air sungai sangat besar.  “Setiap rusak kita perbaiki dengan cara gotong royong. Paling, kalau hampir lebaran jembatan itu kita cat, itu pun warnanya beda-beda, karena kita ambil dari cat sisa-sisa milik warga,” tandas Lukman.

Baca Juga :  Pengunjung 300.000 Orang, Pemasukan Kurang Rp 1 M

Pembangunan jembatan, lanjut dia, sebenarnya sudah dianggarkan di tahun 2021 oleh pemerintah desa. hanya saja terbentur dengan Covid-19. “Katanya, anggaran desa dialihkan penanganan Korono,” jelasnya. (hum/pri)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/