alexametrics
23.5 C
Banyuwangi
Sunday, June 26, 2022

Kabupaten Pertama MoU dengan PT Sorgum

JawaPos.com – Pemkab Situbondo menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan PT Sorgum Koltim Sejahtera kemarin (21/1). Kerja sama itu meliputi pengembangan budi daya, pembenihan, pengolahan, dan pemasaran tanaman Sorgum.

Wakil Bupati Situbondo, Yoyok Mulyadi mengatakan, Situbondo merupakan kabupaten pertama dan satu-satunya di Indonesia yang menjalin kerja sama dengan PT Sorgum. Dia berharap, penandatanganan MoU menjadi awal baik untuk pengembangan sorgum.

Kata dia, kerja sama tersebut sangat menguntungkan pemerintah maupun petani sorgum. Sebab, petani yang serius membudidayakan sorgum, akan mendapatkan untung besar. “Ada bantuan Rp 50 juta di awal. Petani dapat benih gratis,” ujarnya.

Di samping itu, pasarnya sudah jelas. Kemudian, Penghasilan dari penjualan akan diterima petani. Oleh sebab itulah, Yoyok menilai, kerja sama tersebut berdampak signifikan dalam pengembangan Sorgum. “Dari hulu sampai hilir tertangani semua,” katanya.  

Dia menambahkan, gerakan menanam Sorgum merupakan ide besar almarhum Bupati Dadang Wigiarto. Inisiatif tersebut bermula dalam kondisi lahan marginal di Situbondo yang cukup luas. ”Ada 31 lahan kritis, dan Bupati Dadang ingin memanfaatkan itu agar tidak sia-sia. Dari situ ide tersebut muncul,” pungkasnya.

Presiden Direktur PT. Sorgum Koltim Sejahtera, Mohd Hendry Sultan Caniago mengatakan, dengan MoU tersebut, pihaknya sudah ada kesepakatan dengan pemerintah menjadikan Situbondo sebagai Kota Surgum. Artinya, ke depan ada langkah konkret dan terukur dalam pengembangan sorgum dalam rangka menjaga ketahanan pangan di Situbondo.

Dia mengatakan, menanam sorgum di Situbondo sangat prospek. Selama lima hari meninjau langsung lahan-lahan milik petani, sudah sangat cocok ditanami sorgum. Situbondo punya 31 hektare lahan kritis. Nah, itu yang akan kita manfaatkan,” ujar Hendry.

Dia menerangkan, petani tidak perlu ragu menanam Sorgum. Sebab, untung yang akan diperoleh sangat besar. Dari segi harga, sangat menjanjikan. “Harga terendah yang tidak dikenal varietasnya, di pasaran nasional sudah hampir Rp 40 ribu per Kilogram,” katanya.

Di lahan satu hektare, paling sedikit produksinya mencapai 3 ton. Produksi dan harga tinggi itulah yang menjadi kelebihan sorgum dengan tanaman pangan jenis lainnya. Soal pasar, petani tidak perlu khawatir. Sebab, sorgum sudah menjadi bagian ketahanan pangan nasional. Di satu sisi, pemerintah tidak punya lahan.  “Apa yang mau dibeli pemerintah kalau bukan petani yang menanam. Jadi, yang riil saja. Sekarang kita buktikan, bahwa punya stok, dan kita jual,” pungkas Hendry.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Situbondo, Sentot Sugiyono mengatakan, MoU dengan PT Sorgum memberikan harapan baru bagi pemerintah. Sebab, mulai dari persiapan benih, alat produksi pascapanen, hingga pemasaran sudah disediakan. “Kita menemukan arah dan jalan,” katanya.       

  Dia mengatakan, almarhum Bupati Dadang memang menginginkan Sorgum jadi alternatif tanaman yang mendukung ketahanan pangan. Ketika itu, pihaknya diperintahkan menyiapkan lahan. “Alhmadulillah, Situbondo kabupaten pertama menjalin MoU dengan PT Sorgum. Kami semakin merasa tidak kesulitan menindaklanjuti apa yang diharapkan almarhum Bapak Bupati,” pungkasnya. (bib/*/bay)

JawaPos.com – Pemkab Situbondo menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan PT Sorgum Koltim Sejahtera kemarin (21/1). Kerja sama itu meliputi pengembangan budi daya, pembenihan, pengolahan, dan pemasaran tanaman Sorgum.

Wakil Bupati Situbondo, Yoyok Mulyadi mengatakan, Situbondo merupakan kabupaten pertama dan satu-satunya di Indonesia yang menjalin kerja sama dengan PT Sorgum. Dia berharap, penandatanganan MoU menjadi awal baik untuk pengembangan sorgum.

Kata dia, kerja sama tersebut sangat menguntungkan pemerintah maupun petani sorgum. Sebab, petani yang serius membudidayakan sorgum, akan mendapatkan untung besar. “Ada bantuan Rp 50 juta di awal. Petani dapat benih gratis,” ujarnya.

Di samping itu, pasarnya sudah jelas. Kemudian, Penghasilan dari penjualan akan diterima petani. Oleh sebab itulah, Yoyok menilai, kerja sama tersebut berdampak signifikan dalam pengembangan Sorgum. “Dari hulu sampai hilir tertangani semua,” katanya.  

Dia menambahkan, gerakan menanam Sorgum merupakan ide besar almarhum Bupati Dadang Wigiarto. Inisiatif tersebut bermula dalam kondisi lahan marginal di Situbondo yang cukup luas. ”Ada 31 lahan kritis, dan Bupati Dadang ingin memanfaatkan itu agar tidak sia-sia. Dari situ ide tersebut muncul,” pungkasnya.

Presiden Direktur PT. Sorgum Koltim Sejahtera, Mohd Hendry Sultan Caniago mengatakan, dengan MoU tersebut, pihaknya sudah ada kesepakatan dengan pemerintah menjadikan Situbondo sebagai Kota Surgum. Artinya, ke depan ada langkah konkret dan terukur dalam pengembangan sorgum dalam rangka menjaga ketahanan pangan di Situbondo.

Dia mengatakan, menanam sorgum di Situbondo sangat prospek. Selama lima hari meninjau langsung lahan-lahan milik petani, sudah sangat cocok ditanami sorgum. Situbondo punya 31 hektare lahan kritis. Nah, itu yang akan kita manfaatkan,” ujar Hendry.

Dia menerangkan, petani tidak perlu ragu menanam Sorgum. Sebab, untung yang akan diperoleh sangat besar. Dari segi harga, sangat menjanjikan. “Harga terendah yang tidak dikenal varietasnya, di pasaran nasional sudah hampir Rp 40 ribu per Kilogram,” katanya.

Di lahan satu hektare, paling sedikit produksinya mencapai 3 ton. Produksi dan harga tinggi itulah yang menjadi kelebihan sorgum dengan tanaman pangan jenis lainnya. Soal pasar, petani tidak perlu khawatir. Sebab, sorgum sudah menjadi bagian ketahanan pangan nasional. Di satu sisi, pemerintah tidak punya lahan.  “Apa yang mau dibeli pemerintah kalau bukan petani yang menanam. Jadi, yang riil saja. Sekarang kita buktikan, bahwa punya stok, dan kita jual,” pungkas Hendry.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Situbondo, Sentot Sugiyono mengatakan, MoU dengan PT Sorgum memberikan harapan baru bagi pemerintah. Sebab, mulai dari persiapan benih, alat produksi pascapanen, hingga pemasaran sudah disediakan. “Kita menemukan arah dan jalan,” katanya.       

  Dia mengatakan, almarhum Bupati Dadang memang menginginkan Sorgum jadi alternatif tanaman yang mendukung ketahanan pangan. Ketika itu, pihaknya diperintahkan menyiapkan lahan. “Alhmadulillah, Situbondo kabupaten pertama menjalin MoU dengan PT Sorgum. Kami semakin merasa tidak kesulitan menindaklanjuti apa yang diharapkan almarhum Bapak Bupati,” pungkasnya. (bib/*/bay)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/