alexametrics
28.2 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

Sudah Belasan Hari ABK Asal Probolinggo Tak Boleh Pulang

SITUBONDO – Keluarga dari anak buah kapal (ABK) yang diamankan di Pelabuhan Kalbut, Situbondo, datang menjenguk, Minggu (19/12). Mereka ingin mempertanyakan kepada pihak terkait, mengenai nasib para ABK yang sudah 12 hari belum diperbolehkan pulang ke rumahnya tersebut. Termasuk juga tidak adanya pemberitahuan.

Nurul, istri salah satu ABK bernama Badrus, mengatakan, jika dirinya datang dari Probolinggo hanya ingin memastikan kabar suaminya yang sudah beberapa hari tidak pulang. Demikian juga keluarga yang lain. Mereka ingin tahu kesalahan suaminya yang sehari-harinya bekerja sebagai nelayan.”Suaminya saya memang mencukupi hidup keluarga dengan mencari ikan di laut. Dia bertaruh nyawa, tidak pandang badai mencari nafkah di tengah laut,” kata perempuan beranak satu itu.

Nurul mengatakan, dirinya ingin sekali bertemu dengan orang yang sudah menangkap suaminya. Ingin bertanya apakah orang yang menangkap memiliki hati nurani. Karena selama suaminya tidak diizinkan pulang, tidak pernah ada  pemberitahuan.

“Saya ini sedang hamil, dan satu anak yang saya bawa saat ini juga  juga butuh makan. Tiap malam dia tanya ayahnya. Tiap bangun tidur dia rindu ayahnya. Bahkan saat ini anak saya sakit, tetap saya bawa. Siapa tau pas ketemu ayahnya bisa sembuh,” imbuh Nurul sambil mengusap air matanya.

Sambil menangis, Nurul mengaku sangat kasihan melihat tempat suaminya beristirahat. “Entahlah, apakah tidak ada tempat tahanan yang lebih layak bagi suami saya. Kenapa dia harus tidur dan istirahat di atas kapal. Sekali lagi saya memohon bebaskan suaminya saya,” harap Nurul.

Muhammad, ABK lainnya, mengatakan selama penangkapan hingga saat ini dirinya belum pernah mendapatkan surat dari PSDKP. Entah surat penahanan, ataupun surat penangkapan. Sehingga mereka masih bingung kesalahan mereka yang sebenarnya terkait apa.

“Saat gelar perkara beberapa hari yang lalu, pihak PSDKP hanya bilang, kesalahan kita karena menggunakan cantrang, yang katanya merusak lingkungan. Tapi kok baru sekarang? kenapa kalau memang dilarang tidak pernah ada sosialisasi? Kita cuma nelayan kecil,” tuntas Muhammad.

Sementara ini, Yogi Darmawan Efendi, Kasi Ops Penanganan Pelanggaran PSDKP Pangkalan Benoa (Bali) tidak memberikan jawaban saat dikonfirmasi melalui panggilan dan chat via WhatsApp. (hum/pri)

SITUBONDO – Keluarga dari anak buah kapal (ABK) yang diamankan di Pelabuhan Kalbut, Situbondo, datang menjenguk, Minggu (19/12). Mereka ingin mempertanyakan kepada pihak terkait, mengenai nasib para ABK yang sudah 12 hari belum diperbolehkan pulang ke rumahnya tersebut. Termasuk juga tidak adanya pemberitahuan.

Nurul, istri salah satu ABK bernama Badrus, mengatakan, jika dirinya datang dari Probolinggo hanya ingin memastikan kabar suaminya yang sudah beberapa hari tidak pulang. Demikian juga keluarga yang lain. Mereka ingin tahu kesalahan suaminya yang sehari-harinya bekerja sebagai nelayan.”Suaminya saya memang mencukupi hidup keluarga dengan mencari ikan di laut. Dia bertaruh nyawa, tidak pandang badai mencari nafkah di tengah laut,” kata perempuan beranak satu itu.

Nurul mengatakan, dirinya ingin sekali bertemu dengan orang yang sudah menangkap suaminya. Ingin bertanya apakah orang yang menangkap memiliki hati nurani. Karena selama suaminya tidak diizinkan pulang, tidak pernah ada  pemberitahuan.

“Saya ini sedang hamil, dan satu anak yang saya bawa saat ini juga  juga butuh makan. Tiap malam dia tanya ayahnya. Tiap bangun tidur dia rindu ayahnya. Bahkan saat ini anak saya sakit, tetap saya bawa. Siapa tau pas ketemu ayahnya bisa sembuh,” imbuh Nurul sambil mengusap air matanya.

Sambil menangis, Nurul mengaku sangat kasihan melihat tempat suaminya beristirahat. “Entahlah, apakah tidak ada tempat tahanan yang lebih layak bagi suami saya. Kenapa dia harus tidur dan istirahat di atas kapal. Sekali lagi saya memohon bebaskan suaminya saya,” harap Nurul.

Muhammad, ABK lainnya, mengatakan selama penangkapan hingga saat ini dirinya belum pernah mendapatkan surat dari PSDKP. Entah surat penahanan, ataupun surat penangkapan. Sehingga mereka masih bingung kesalahan mereka yang sebenarnya terkait apa.

“Saat gelar perkara beberapa hari yang lalu, pihak PSDKP hanya bilang, kesalahan kita karena menggunakan cantrang, yang katanya merusak lingkungan. Tapi kok baru sekarang? kenapa kalau memang dilarang tidak pernah ada sosialisasi? Kita cuma nelayan kecil,” tuntas Muhammad.

Sementara ini, Yogi Darmawan Efendi, Kasi Ops Penanganan Pelanggaran PSDKP Pangkalan Benoa (Bali) tidak memberikan jawaban saat dikonfirmasi melalui panggilan dan chat via WhatsApp. (hum/pri)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/