alexametrics
25.3 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Nilai Laporan Anak Tiri Salah Sasaran, Terlapor Ancam Lapor Balik

SUBOH, Radar Situbondo – Sutik, warga Desa Telogosari, Kecamatan Suboh, Kabupaten Situbondo, menghadiri panggilan penyidik Polres Situbondo, Senin (20/6). Itu  setelah dia dilaporkan dua anak tirinya, SM dan HM, karena dugaan mengusai pekarangan yang ditempati bersama. Padahal tanah tersebut merupakan hasil pembelian Sutik.

Sutik menilai, perbuatan yang dilakukan anak tirinya sangat keterlaluan dan tidak memiliki etika. Sebab, menuduh dirinya merebut harta warisan Sunyoto, suami Sutik, sekaligus ayah dari dua anak tersebut. Padahal, SM dan HM, tidak tahu persoalan tanah yang ditempatinya selama 26 tahun itu.

“Dulu, saya menjual tanah milik saya sendiri dan uangnya saya buat untuk membeli tanah di Desa Telogosari. Nah, saya dan suami membangun rumah di atas tanah tersebut. Sehingga selama 26 tahun lamanya saya dan suami saya, sekaligus istri tua dari suami saya, hidup bersama dalam satu rumah. Sebenarnya yang numpang hidup adalah istri tua dan suami saya. Bukan malah saya yang disebut merebut harta warisan,” ungkap Sutik.

Kata dia, persoalan tersebut timbul saat sang suami meninggal dunia. Konflik tersebut tumbuh pada saat 40 hari Sunyoto. Waktu itulah, Sutik diusir anak tirinya agar angkat kaki dari rumah. Sutik mengaku sudah cukup sabar dan banyak mengalah. “Kalaupun saya diusir berkali-kali saya tidak akan keluar dari pekarangan tersebut. Itu tanah milik saya, dan saya punya bukti-buktinya. Bukti saya lengkap, jadi saya tidak mau bertahan, kalau saya ada di posisi yang salah,” imbuh Sutik.

Dia menegaskan, dua orang yang telah melaporkannya ke polisi tidak tahu sejarah. Mereka juga tidak memiliki bukti kuat. Sehingga, sangat memalukan jika laporan itu tidak sesuai dengan bukti-bukti.

Sementara itu, Edy Susanto, pendamping Sutik menegaskan akan terus mengawal proses hukum tersebut hingga tuntas. Kalau perlu hingga ke pengadilan tinggi. Bahkan pria berkumis tipis itu mengaku siap menyediakan saksi yang banyak jika polisi membutuhkan.

“Saya siap membawa saksi hingga satu truk sekali pun, soalnya bukti pembelian tanah itu masih lengkap, orang yang mengukur tanah masih ada, pembeli masih hidup, dan saksinya sangat banyak. Jadi jangan seenaknya mengusir apalagi melaporkan. Bisa jadi, selanjutnya saya yang akan melaporkan dua anak tersebut kerena sudah mencemarkan nama baik Bu Sutik,” tegasnya.

Edy juga berharapa kepada tim penyidik polres tidak melakukan langkah mediasi, karena korban fitnah tidak membutuhkan mediasi. Dia menginginkan agar penyidik langsung melanjutkan ke Pengadilan Negeri Situbondo. “Polisi tidak perlu melakukan mediasi terlalu lama, langsung saja ke penqadilan negeri, saya tantang sekalian,” pungkas pria yang masih keluarga Sutik tersebut. (hum/pri)

SUBOH, Radar Situbondo – Sutik, warga Desa Telogosari, Kecamatan Suboh, Kabupaten Situbondo, menghadiri panggilan penyidik Polres Situbondo, Senin (20/6). Itu  setelah dia dilaporkan dua anak tirinya, SM dan HM, karena dugaan mengusai pekarangan yang ditempati bersama. Padahal tanah tersebut merupakan hasil pembelian Sutik.

Sutik menilai, perbuatan yang dilakukan anak tirinya sangat keterlaluan dan tidak memiliki etika. Sebab, menuduh dirinya merebut harta warisan Sunyoto, suami Sutik, sekaligus ayah dari dua anak tersebut. Padahal, SM dan HM, tidak tahu persoalan tanah yang ditempatinya selama 26 tahun itu.

“Dulu, saya menjual tanah milik saya sendiri dan uangnya saya buat untuk membeli tanah di Desa Telogosari. Nah, saya dan suami membangun rumah di atas tanah tersebut. Sehingga selama 26 tahun lamanya saya dan suami saya, sekaligus istri tua dari suami saya, hidup bersama dalam satu rumah. Sebenarnya yang numpang hidup adalah istri tua dan suami saya. Bukan malah saya yang disebut merebut harta warisan,” ungkap Sutik.

Kata dia, persoalan tersebut timbul saat sang suami meninggal dunia. Konflik tersebut tumbuh pada saat 40 hari Sunyoto. Waktu itulah, Sutik diusir anak tirinya agar angkat kaki dari rumah. Sutik mengaku sudah cukup sabar dan banyak mengalah. “Kalaupun saya diusir berkali-kali saya tidak akan keluar dari pekarangan tersebut. Itu tanah milik saya, dan saya punya bukti-buktinya. Bukti saya lengkap, jadi saya tidak mau bertahan, kalau saya ada di posisi yang salah,” imbuh Sutik.

Dia menegaskan, dua orang yang telah melaporkannya ke polisi tidak tahu sejarah. Mereka juga tidak memiliki bukti kuat. Sehingga, sangat memalukan jika laporan itu tidak sesuai dengan bukti-bukti.

Sementara itu, Edy Susanto, pendamping Sutik menegaskan akan terus mengawal proses hukum tersebut hingga tuntas. Kalau perlu hingga ke pengadilan tinggi. Bahkan pria berkumis tipis itu mengaku siap menyediakan saksi yang banyak jika polisi membutuhkan.

“Saya siap membawa saksi hingga satu truk sekali pun, soalnya bukti pembelian tanah itu masih lengkap, orang yang mengukur tanah masih ada, pembeli masih hidup, dan saksinya sangat banyak. Jadi jangan seenaknya mengusir apalagi melaporkan. Bisa jadi, selanjutnya saya yang akan melaporkan dua anak tersebut kerena sudah mencemarkan nama baik Bu Sutik,” tegasnya.

Edy juga berharapa kepada tim penyidik polres tidak melakukan langkah mediasi, karena korban fitnah tidak membutuhkan mediasi. Dia menginginkan agar penyidik langsung melanjutkan ke Pengadilan Negeri Situbondo. “Polisi tidak perlu melakukan mediasi terlalu lama, langsung saja ke penqadilan negeri, saya tantang sekalian,” pungkas pria yang masih keluarga Sutik tersebut. (hum/pri)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/